RADAR BANYUWANGI – Sebagian umat Islam memulai puasa Ramadhan pada Hari Sabtu, tanggal 1 Maret 2025 mendatang.
Sesuai keyakinan umat Islam, memasuki bulan suci di mana pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan akan dikerangkeng selama sebulan penuh.
Dalam menyambut Ramadhan, banyak Muslim, terutama di Indonesia, melakukan beragam persiapan, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, menjelaskan bahwa salah satu cara untuk mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadhan adalah dengan mendalami kajian literatur dari para ulama terdahulu.
Dalam sebuah tayangan video berjudul “Menyambut Ramadhan Bersama Gus Baha”, ia mengungkapkan pentingnya meneladani orang-orang yang telah lebih dahulu menjalani jalan kebaikan.
“Di antara ijazah dari Mbah Maimoen Zubair juga ijazah bapak, ngendika (mengatakan) 'Ihdinas shiratal mustaqim. Shirātal ladzīna an‘amta ‘alaihim ghairil maghdhūbi alaihim wa lad dhāllīn.' Jadi, kita tidak bisa shaleh tanpa meniru orang terdahulu. Kita tidak bisa baik tanpa meniru orang terdahulu,” ungkap Gus Baha, seperti dilansir dari NU Online.
Ia menekankan bahwa dalam ayat tersebut, Allah tidak hanya berfirman untuk meminta petunjuk jalan yang lurus, tetapi juga menunjukkan bahwa jalan yang benar adalah jalan mereka yang telah diberi nikmat oleh-Nya.
“Jadi, Allah menghendaki ini, ada masternya,” ujarnya.
Dalam tradisi pesantren, Gus Baha menjelaskan bahwa untuk mendalami literatur ulama terdahulu, terdapat tradisi yang disebut pasaran.
Di mana, seluruh civitas pesantren akan mengaji kitab dengan intensitas yang lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lainnya.
“Kalau tradisi di kami, di pesantren, misalnya satu kiai ngajar 2-3 kitab setelah shalat fardu. Biasanya kalau Ramadhan ini full. Karena ini untuk melengkapi orang Indonesia dapat berkahnya Ramadhan, kalau kita belajar kitab atau membacakan kitab ke masyarakat supaya tahu cara niatnya orang dulu ketika puasa atau cara pandang orang dulu tentang puasa,” jelasnya.
Dengan cara ini, diharapkan seseorang dapat membekali dirinya dengan pemahaman yang lebih jernih dalam memandang Ramadhan.
“Cara pandang Ramadhan secara benar, paling tidak, kita merasa lapar. Betapa sakitnya orang miskin yang lapar, terus menghormati makan karena begitu nikmat. Ketika puasa melihat makanan yang kita sepelekan pada saat tidak puasa, ketika Ramadhan spesial semua. Bahkan air pun spesial, gedang (pisang) goreng spesial,” paparnya.
“Di sini ada syukur yang luar biasa. Itu kalau tidak baca literatur ulama terdahulu, kita tidak akan tahu,” tutupnya.
Dengan demikian, persiapan menyambut Ramadhan tidak hanya sekadar fisik, tetapi juga memerlukan pemahaman dan penghayatan yang mendalam terhadap makna bulan suci ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin