
RADAR BANYUWANGI - Melamun merupakan aktivitas normal, namun kondisi maladaptive daydreaming kini menjadi sorotan karena intensitasnya yang mampu mengganggu kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan lamunan biasa, fenomena yang pertama kali diteliti Profesor Eli Somer pada 2002 ini melibatkan skenario khayalan kompleks yang dipelihara selama bertahun-tahun layaknya alur film.
Penderita sering kali melakukan gerakan fisik berulang atau mondar-mandir saat melamun untuk menciptakan dunia di mana mereka memegang kendali penuh.
Respons otak yang melepaskan dopamin saat skenario tersebut berputar menjadi alasan utama mengapa aktivitas ini terasa begitu candu bagi banyak individu.
Kondisi ini sering kali menjadi mekanisme pertahanan diri untuk melarikan diri dari realitas yang menekan, namun dampaknya bisa memicu prokrastinasi kronis dan isolasi sosial.
Para ahli menyarankan teknik grounding, seperti menyentuh benda nyata atau menyalurkan imajinasi ke dalam tulisan, sebagai langkah awal untuk memutus pola adiktif tersebut.
Jika dampak lamunan sudah merusak kualitas hidup, mencari bantuan profesional seperti psikolog melalui pendekatan kognitif-perilaku sangat dianjurkan.
Hidup yang sesungguhnya menuntut kita untuk hadir sepenuhnya di dunia nyata demi pertumbuhan diri yang berkelanjutan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




