RADAR BANYUWANGI - Cuaca panas bukan hanya membuat udara terasa lebih menyengat.
Bagi perjalanan kereta api, kenaikan suhu juga menjadi kondisi yang perlu diwaspadai karena panas dapat memengaruhi kondisi batang rel dan konstruksi jalan rel.
Ketika baja menerima panas, material tersebut mengalami pemuaian.
Pada rel yang memiliki ruang gerak terbatas, pemuaian dapat meningkatkan gaya tekan di dalam batang rel.
Jika gaya tersebut tidak cukup ditahan oleh sistem jalan rel, perubahan geometri ke arah samping atau liukan dapat terjadi.
Dalam literatur keselamatan perkeretaapian, kondisi ini dikenal sebagai thermal buckling atau track buckling.
Kondisi serupa menjadi salah satu hal yang diperhatikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember ketika suhu udara meningkat.
Namun, hingga 2025 dan 2026, KAI Daop 9 Jember tidak mencatat adanya gangguan rel spaten.
Menurut KAI Daop 9 Jember, salah satu faktor pendukungnya adalah pemeriksaan dan perawatan prasarana yang dilakukan secara rutin, ditambah pemeriksaan berdasarkan kondisi lapangan.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, mengatakan perubahan kondisi cuaca menjadi salah satu alasan petugas meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi jalan rel.
“Ketika terjadi perubahan cuaca, termasuk peningkatan suhu yang cukup tinggi, kami meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi jalan rel. Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi sedini mungkin apabila terdapat perubahan atau anomali pada prasarana, sehingga dapat segera ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi gangguan perjalanan,” ujar Cahyo, Rabu (16/9).
Mengapa panas menjadi perhatian bagi jalan rel?
Secara sederhana, rel merupakan batang baja yang mengalami perubahan dimensi ketika temperaturnya berubah.
Pada kondisi panas, rel memuai.
Namun, pada konstruksi rel yang panjang dan terikat dengan sistem bantalan, penambat serta balas, pergerakan tersebut tidak sepenuhnya bebas.
Akibatnya, kenaikan temperatur dapat menghasilkan gaya tekan pada rel.
Federal Railroad Administration menjelaskan bahwa pada continuous welded rail, kenaikan temperatur dapat menghasilkan beban tekan yang besar dan, apabila ketahanan lateral jalan rel tidak mencukupi, dapat menyebabkan rel berubah posisi atau mengalami buckling.
Karena itu, kestabilan jalan rel tidak hanya bergantung pada kondisi batang rel.
Bantalan, sistem penambat, balas, geometri jalan rel, serta kondisi badan jalan turut menentukan kemampuan konstruksi menahan gaya yang bekerja.
Network Rail, operator infrastruktur perkeretaapian Inggris, juga menjelaskan bahwa rel baja dapat memuai ketika terkena panas dan dalam kondisi tertentu dapat melengkung.
Pemantauan kondisi rel, pemeliharaan, penguatan bagian yang rentan, serta pengaturan operasional merupakan beberapa pendekatan yang digunakan untuk mengelola risiko tersebut.
Hel tersebut menjadi alasan mengapa pemeriksaan menjadi bagian penting dalam pengelolaan prasarana, termasuk ketika cuaca mengalami perubahan ekstrem.
261 kilometer jalur diawasi secara berkala
Di wilayah Daop 9 Jember, pengawasan dilakukan pada lintas raya sepanjang 261,103 kilometer spoor (kmsp).
Pemeriksaan jalan rel dilakukan secara berkala dua kali dalam 24 jam.
Kegiatan tersebut melibatkan Petugas Pemeriksa Jalan Rel (PPJ) dan Kendaraan Pemeriksa Jalan Kereta Api (KPJ).
Pemeriksaan dengan berjalan kaki memberi kesempatan kepada petugas untuk melihat kondisi jalan rel secara langsung.
Yang diperiksa bukan hanya batang rel, melainkan juga bantalan, balas, sistem penambat, sambungan rel, badan jalan, hingga konstruksi slab atau plinth di lokasi tertentu.
Pemeriksaan menggunakan KPJ dilakukan dengan kecepatan sekitar 20 hingga 40 kilometer per jam dengan tetap memperhatikan semboyan yang berlaku.
Dalam satu pemeriksaan, sedikitnya dua tenaga pemeriksa dapat mencakup lintasan sekitar 20 hingga 50 kilometer, bergantung pada kebutuhan dan kondisi lapangan.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, terdapat 25 tenaga pemeriksa jalur kereta api (KPJ) yang tersebar di wilayah Daop 9 Jember.
Khusus petak Bangil–Pasuruan, terdapat dua personel pemeriksa jalan dan jembatan (PPJ).
Pemeriksaan prasarana juga memiliki dasar regulasi.
Kementerian Perhubungan menetapkan PM 31 Tahun 2011 tentang Standar dan Tata Cara Pemeriksaan Prasarana Perkeretaapian, yang pada basis data JDIH Kemenhub tercatat berstatus berlaku.
Kemenhub juga mencantumkan PM 32 Tahun 2011 tentang Standar dan Tata Cara Perawatan Prasarana Perkeretaapian sebagai peraturan yang berlaku.
Tidak hanya menunggu jadwal pemeriksaan
Dalam kondisi normal, pemeriksaan dilakukan berdasarkan siklus yang telah ditetapkan.
Namun, KAI Daop 9 Jember menyebut pemeriksaan juga dapat dilakukan secara acak (random) dengan mempertimbangkan kondisi lapangan.
Perubahan cuaca menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan kewaspadaan tersebut.
“Prinsip kami adalah memastikan setiap potensi gangguan dapat ditemukan sedini mungkin. Karena itu, ketika kondisi cuaca berubah secara ekstrem, pemeriksaan dapat ditingkatkan dengan memperhatikan lokasi dan karakteristik jalur yang memiliki tingkat kewaspadaan lebih tinggi,” jelas Cahyo.
Pendekatan semacam ini menempatkan pemeriksaan bukan sekadar sebagai kegiatan setelah gangguan muncul.
Kondisi prasarana dipantau untuk menemukan tanda-tanda perubahan sebelum berkembang menjadi persoalan yang dapat mengganggu perjalanan.
Balas ikut menjaga kestabilan rel
Salah satu bagian penting dari jalan rel yang mungkin jarang diperhatikan penumpang adalah balas, yakni material batu yang berada di sekitar dan di bawah bantalan.
Di Daop 9 Jember, pemeliharaan dan penambahan balas pada bahu balas dilakukan apabila diperlukan.
Keberadaan balas pada bagian tersebut membantu mempertahankan kestabilan jalan rel, termasuk dalam menghadapi gaya lateral atau gaya yang bekerja ke arah samping.
Hal ini menjadi relevan ketika membahas potensi liukan akibat kenaikan temperatur.
Kajian teknis FRA menunjukkan bahwa ketahanan lateral merupakan salah satu faktor penting dalam mencegah perubahan bentuk jalan rel akibat beban termal.
Dengan demikian, pengendalian risiko akibat panas tidak cukup hanya dengan memperhatikan batang rel.
Kondisi keseluruhan konstruksi jalan rel juga harus dipertahankan.
Cacat permukaan rel juga diperiksa
Pemeriksaan tidak berhenti pada kemungkinan rel mengalami liukan.
Kondisi permukaan rel juga menjadi perhatian.
Apabila ditemukan cacat pada permukaan yang berpotensi menimbulkan hentakan ketika roda kereta melintas, dilakukan penanganan seperti penggerindaan rel.
Tujuannya mengembalikan kondisi permukaan rel sehingga perjalanan kereta dapat berlangsung dengan lebih nyaman dan aman.
Cahyo menjelaskan bahwa pemeliharaan dilakukan bukan hanya ketika gangguan sudah terjadi.
“Perawatan tidak hanya dilakukan ketika terjadi gangguan. Justru yang kami utamakan adalah menjaga kondisi konstruksi jalan rel agar tetap sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku. Apabila ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan, petugas akan melakukan perbaikan dan mengembalikan konstruksi jalan rel sesuai ketentuan Peraturan Dinas,” kata Cahyo.
Pendekatan pemeriksaan dan pemeliharaan tersebut sejalan dengan kerangka regulasi Kementerian Perhubungan yang secara khusus mengatur pemeriksaan dan perawatan prasarana perkeretaapian.
Ada sejumlah titik yang mendapat perhatian khusus
Selain menghadapi potensi yang berkaitan dengan cuaca panas, KAI Daop 9 Jember juga mengawasi lokasi dengan karakteristik khusus atau daerah pengawasan khusus (dapsus).
Salah satunya adalah Jembatan/BH 298 pada km 65+918 petak Pasuruan–Rogojampi.
Lokasi tersebut memiliki potensi terdampak banjir.
Dalam jangka pendek, mitigasi dilakukan melalui pemasangan proteksi jembatan dan pemeliharaan rutin sesuai kondisi.
Untuk jangka panjang, telah disiapkan rencana pengangkatan jembatan.
Berbeda dengan lokasi tersebut, petak Rejoso–Grati pada km 76+0/8 memiliki potensi amblesan badan jalan.
Penanganannya dilakukan dengan pemasangan dinding penahan tanah serta perbaikan berm untuk membantu menjaga kestabilan badan jalan.
Di emplasemen Ketapang, perhatian diberikan kepada BH 93 km 18+670.
Bangunan tersebut memiliki potensi luapan air ketika banjir akibat sedimentasi.
Mitigasinya dilakukan dengan pengerukan secara berkala dua kali dalam setahun serta pemeliharaan berdasarkan kondisi lapangan.
Ada pula dua jembatan yang memiliki usia lebih dari 120 tahun, yaitu BH 129A km 25+549 pada petak Garahan–Mrawan dan BH 152A km 30+777 pada petak Mrawan–Kalibaru.
Pada kedua bangunan tersebut telah dilakukan kajian kondisi bangunan, penyusunan Detail Engineering Design (DED), serta pemeliharaan rutin sesuai kebutuhan.
Apa artinya bagi penumpang?
Bagi penumpang, pemeriksaan tersebut berlangsung di balik perjalanan yang terlihat sederhana. Naik kereta, duduk di dalam kabin, lalu tiba di tujuan.
Padahal, sebelum perjalanan berlangsung, kondisi jalur yang akan dilalui harus terus dipantau.
Pemeriksaan langsung dengan berjalan kaki, pemeriksaan menggunakan KPJ, pemeliharaan balas, penggerindaan rel, hingga penanganan titik-titik yang memiliki risiko khusus merupakan bagian dari pekerjaan prasarana yang tidak selalu terlihat oleh penumpang.
Ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan, tindakan dapat dilakukan sebelum persoalan tersebut berkembang menjadi gangguan perjalanan.
Itulah sebabnya tidak adanya gangguan rel spaten pada 2025 maupun 2026 bukan berarti risiko tersebut diabaikan.
Bagi KAI Daop 9 Jember, kondisi tersebut justru menjadi alasan untuk mempertahankan konsistensi pemeriksaan dan pemeliharaan.
“Tidak adanya gangguan rel spaten pada 2025 maupun 2026 bukan berarti kewaspadaan dapat dikurangi. Justru hal tersebut menjadi alasan bagi kami untuk terus mempertahankan pemeriksaan dan perawatan secara konsisten. Keselamatan perjalanan kereta api selalu menjadi prioritas,” pungkas Cahyo.
Menjaga perjalanan kereta api tetap aman bukan hanya persoalan bagaimana kereta beroperasi ketika sudah berjalan.
Ada pekerjaan panjang di bawah dan di sepanjang jalur yang memastikan konstruksi tetap mampu menopang perjalanan.
Ketika suhu meningkat, petugas harus memastikan rel dan seluruh komponen pendukungnya tetap berada dalam kondisi yang dapat diandalkan.
Di wilayah Daop 9 Jember, pekerjaan tersebut mencakup 261,103 kmsp lintasan yang diperiksa secara berkala, dengan perhatian tambahan pada lokasi-lokasi yang memiliki karakteristik risiko tertentu.
Bagi penumpang, hasil pekerjaan itu mungkin hanya terlihat sebagai perjalanan yang berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, kelancaran tersebut merupakan hasil dari pemeriksaan dan perawatan yang dilakukan sebelum potensi gangguan berkembang menjadi masalah.
Editor : Lugas Rumpakaadi