RADAR BANYUWANGI – Persinggungan penambang belerang dan wisatawan di Taman Wisata Alam (TWA) Ijen bakal segera ditata ulang. BKSDA bersama Disbudpar Jawa Timur menyiapkan konsep ecotourism dengan memisahkan jalur aktivitas penambang dan wisatawan demi keselamatan, kelestarian kawah, sekaligus menjaga mata pencaharian warga lokal.
Rencana tersebut menjadi bagian dari tata kelola baru kawasan wisata Ijen. Aktivitas ekonomi penambang tradisional selama ini berada di ruang yang sama dengan wisatawan yang datang mengejar pesona kawah, termasuk fenomena blue fire.
Pemisahan akses akan diterapkan pada sejumlah titik yang memungkinkan. Sedangkan jalur menuju kawah yang secara teknis belum bisa dipisahkan akan dilengkapi pagar pengaman.
Kepala TWA Ijen Rusdi Santoso mengatakan, pembangunan fasilitas tersebut masih menunggu kepastian anggaran. Jika anggaran tersedia, pekerjaan fisik diperkirakan baru dimulai tahun depan.
"Rencana ke depan ada pemisahan jalur untuk penambang maupun wisatawan. Untuk jalur yang tidak bisa dipisah, diusahakan dipagar demi keselamatan dan kenyamanan bersama. Pembangunan kemungkinan baru dilakukan tahun depan karena masih menunggu kepastian anggaran," ujar Rusdi.
Penambang dan Wisatawan Tak Lagi Berbagi Jalur
Selama ini, jalur aktivitas penambang belerang dan pergerakan wisatawan masih beririsan. Kondisi tersebut tidak hanya berpotensi memicu gesekan kepentingan, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan di kawasan kawah.
Di satu sisi, penambangan belerang merupakan aktivitas ekonomi tradisional warga. Di sisi lain, Ijen menjadi salah satu tujuan wisata alam yang menarik wisatawan karena lanskap kawah dan fenomena blue fire.
Tata kelola baru diarahkan agar kedua aktivitas tersebut tetap berjalan tanpa saling mengganggu.
Dalam skenario tersebut, wisatawan nantinya memiliki area khusus yang terpisah dari lokasi kerja penambang. Konsep ini diharapkan menciptakan ruang wisata yang lebih aman sekaligus memberikan kepastian bagi aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
96 Titik Pipa Belerang Ikut Dilindungi
Penataan kawasan juga berkaitan dengan perlindungan jaringan produksi belerang. Terdapat 96 titik pipa penghasil belerang milik PT Candi Ngrimbi yang menjadi bagian dari jaringan produksi di kawasan tersebut.
Jaringan pipa itu disebut kerap mengalami gangguan akibat ulah oknum biro perjalanan yang ingin memberikan pengalaman blue fire kepada wisatawan secara instan.
Deposit belerang kuning terkadang dibakar secara liar untuk memunculkan api biru. Praktik tersebut justru berisiko merambat ke fasilitas produksi.
Manajemen PT Candi Ngrimbi Virga Nugraha mengatakan, pembakaran liar tersebut pernah membuat api merambat hingga pipa pawon dan mengakibatkan kerusakan fasilitas produksi.
"Dari situ kami sangat dirugikan. Padahal munculnya blue fire di kawasan tersebut bukan sepenuhnya fenomena alami, melainkan berkaitan dengan gangguan teknis pada pipa atau ketidakteraturan proses sublimasi," tuturnya.
Kerusakan fasilitas bukan satu-satunya persoalan. Jika pembakaran deposit belerang terus dilakukan secara sembarangan, sumber daya yang menjadi bagian dari mata pencaharian penambang juga berisiko tergerus.
Blue Fire Akan Ditata, Bukan Dibiarkan Liar
Kepala Disbudpar Jatim Evy Afianasari menilai praktik pembakaran belerang secara sembarangan tidak dapat dibiarkan. Selain membahayakan wisatawan dan pekerja, tindakan tersebut berpotensi mengganggu ekosistem kawasan kawah Ijen.
Karena itu, dalam skema tata kelola baru, fenomena blue fire juga akan ditempatkan dalam mekanisme yang lebih teratur.
Wisatawan nantinya disiapkan spot khusus yang terpisah dari lokasi kerja penambang. Area tersebut direncanakan dikelola masyarakat lokal yang bertugas menyalakan fenomena api biru secara aman dan terkontrol.
Skema tersebut diharapkan menjadi jalan tengah: wisatawan tetap dapat menikmati daya tarik blue fire, sementara penambang tetap memiliki ruang kerja dan sumber penghidupan yang terlindungi.
"Kalau fenomena blue fire terus dinyalakan sembarangan, deposit belerang sebagai mata pencaharian penambang bisa habis," tegas Evy.
Menjaga Wisata Sekaligus Ekonomi Warga
Konsep ecotourism yang disiapkan di TWA Ijen pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai pemisahan jalur. Penataan tersebut menyentuh tiga kepentingan sekaligus: keselamatan wisatawan, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi penambang tradisional.
Dengan pemisahan ruang aktivitas, pengelola berharap potensi gesekan dapat ditekan. Wisatawan mendapat area yang lebih aman, penambang dapat bekerja tanpa terganggu, sementara kawasan kawah tetap terlindungi dari aktivitas yang berpotensi merusak.
Rencana pembangunan fisik sendiri masih menunggu kepastian anggaran dan ditargetkan dapat dimulai tahun depan.
Jika terealisasi, tata kelola baru TWA Ijen bakal mengubah pola aktivitas di kawasan kawah: wisatawan dan penambang tidak lagi sekadar berbagi ruang, tetapi ditempatkan dalam zona aktivitas yang lebih jelas dan teratur. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin