Serunya Wisata Edukasi di Kulon Progo: Tanam Padi, Petik Teh, Membatik hingga Bukin Gula Jawa

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi tempat wisata di Kulon Progo DIJ. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja)
Ilustrasi tempat wisata di Kulon Progo DIJ. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja)

RADAR BANYUWANGI — Liburan ke Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak harus berhenti pada foto-foto di perbukitan atau pantai. Enam destinasi wisata edukasi di daerah ini menawarkan pengalaman langsung, mulai menanam padi, memetik teh, membuat gula Jawa, mengenal ekosistem mangrove, hingga mencoba membatik, sehingga cocok untuk keluarga, rombongan sekolah, maupun wisatawan yang ingin mengenal kehidupan masyarakat lokal.

Kulon Progo selama ini dikenal lewat bentang alamnya yang beragam. Pegunungan Menoreh, kawasan pesisir, hingga desa-desa wisata menjadi bagian dari wajah pariwisata kabupaten tersebut.

Namun, daya tariknya tidak hanya terletak pada pemandangan.

Di sejumlah desa wisata, pengunjung justru diajak masuk lebih dekat ke aktivitas warga. Sawah, kebun teh, sungai, dapur produksi, hingga ruang kerja perajin berubah menjadi ruang belajar yang jauh dari kesan seperti berada di dalam kelas.

Konsep inilah yang membuat wisata edukasi Kulon Progo menarik. Wisatawan tidak hanya melihat, tetapi juga ikut mencoba dan memahami proses di balik kehidupan sehari-hari masyarakat.

Berikut enam pilihan yang bisa masuk daftar perjalanan.

1. Desa Wisata Tinalah, Belajar dari Sawah dan Sungai

Pegunungan Menoreh menjadi latar perjalanan menuju Desa Wisata Tinalah. Di tempat ini, wisatawan dapat melihat lebih dekat kehidupan masyarakat pedesaan yang berjalan berdampingan dengan lingkungan alam.

Sawah dan aliran Sungai Tinalah menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.

Pengunjung dapat mengikuti aktivitas seperti menanam padi, berjalan menyusuri lingkungan pedesaan, mengikuti kegiatan luar ruang, hingga berkemah.

Bagi anak-anak, aktivitas tersebut memberikan pengalaman sederhana tetapi penting: mengenal dari mana makanan berasal sekaligus belajar bekerja sama dan mandiri.

Alam di Tinalah tidak sekadar menjadi latar untuk berfoto. Sawah, sungai, dan kehidupan warga menjadi bagian dari ruang belajar mengenai hubungan antara manusia, pertanian, air, dan lingkungan.

2. Desa Wisata Nglinggo, Memetik Teh dan Mengenal Tradisi

Jika ingin merasakan suasana perkebunan, perjalanan bisa dilanjutkan ke kawasan Samigaluh melalui Desa Wisata Nglinggo.

Hamparan kebun teh menjadi daya tarik utama. Namun, wisatawan tidak hanya diajak menikmati hijaunya perkebunan dari kejauhan.

Pengunjung dapat mencoba memetik pucuk teh bersama petani lokal. Setelah itu, proses berlanjut dengan mengenal pengolahan teh secara tradisional.

Salah satu pengalaman yang menarik adalah melihat proses menyangrai daun teh menggunakan tungku tanah liat untuk menghasilkan teh sangit khas kawasan tersebut.

Pengalaman di Nglinggo juga menyentuh sisi budaya. Wisatawan dapat mengenal kesenian tradisional dengan mengikuti latihan Tari Jathilan atau Lengger Tapeng bersama warga.

Dengan demikian, satu perjalanan menawarkan dua pengalaman sekaligus: mengenal pertanian teh dan berinteraksi dengan tradisi masyarakat setempat.

3. Goa Kiskendo, Menyusuri Geologi dan Kisah Ramayana

Wisata edukasi di Kulon Progo tidak selalu berkaitan dengan aktivitas produksi masyarakat. Goa Kiskendo menawarkan perpaduan antara pembelajaran alam dan cerita budaya.

Di dalam goa, pengunjung dapat mengamati bentang alam batu kapur, stalaktit, serta struktur batuan yang terbentuk melalui proses alam dalam waktu sangat panjang.

Di sisi lain, kawasan Goa Kiskendo juga memiliki relief yang berkaitan dengan kisah Ramayana, termasuk cerita mengenai pertarungan Sugriwa dan Subali.

Perpaduan tersebut membuat kunjungan ke Goa Kiskendo memiliki dua sisi pembelajaran.

Wisatawan dapat mengenal proses pembentukan bentang alam sekaligus memahami cerita dan nilai budaya yang berkembang di masyarakat.

4. Kawasan Mangrove, Belajar Fungsi Hutan Bakau

Bagi yang ingin membawa pengalaman edukasi ke wilayah pesisir, kawasan mangrove di Kulon Progo bisa menjadi pilihan.

Pengunjung dapat menyusuri jalur berupa jembatan kayu di antara vegetasi mangrove yang rimbun.

Di tempat ini, wisatawan bisa melihat secara langsung bagaimana hutan bakau menjadi bagian dari ekosistem pesisir. Mangrove berperan dalam membantu melindungi wilayah pantai dari abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai jenis satwa.

Kawasan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pengamatan burung, termasuk burung migran.

Bagi keluarga, aktivitas ini menawarkan kombinasi antara jalan-jalan, menikmati suasana hijau, dan mengenalkan kepada anak pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

5. Desa Wisata Segajih dan Jatimulyo, Melihat Nira Jadi Gula Jawa

Ada pengalaman yang terlihat sederhana, tetapi justru dekat dengan kehidupan masyarakat: membuat gula Jawa.

Di Desa Wisata Segajih atau Desa Wisata Jatimulyo, wisatawan dapat mengenal aktivitas penderes yang mengambil nira dari pohon kelapa atau aren.

Nira kemudian dibawa ke dapur produksi untuk dimasak perlahan di atas tungku hingga mengental.

Dari proses tersebut, masyarakat dapat menghasilkan gula Jawa yang dicetak menggunakan tempurung kelapa. Nira juga dapat diolah menjadi gula semut.

Bagi wisatawan, terutama anak-anak, pengalaman ini memperlihatkan perjalanan bahan baku dari kebun hingga menjadi produk yang siap digunakan.

Lebih dari sekadar aktivitas membuat makanan, wisatawan juga dapat melihat keterampilan dan pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

6. Desa Wisata Widosari dan Omah Cantrik, Belajar Membatik

Pengalaman wisata edukasi di Kulon Progo bisa ditutup dengan aktivitas yang mengasah kreativitas melalui batik tulis.

Di Desa Wisata Widosari atau Omah Cantrik, wisatawan dapat mengenal proses pembuatan batik secara lebih dekat.

Pengunjung bahkan dapat mencoba menggunakan canting untuk menorehkan malam pada kain dengan bimbingan perajin lokal.

Tahapannya dapat mencakup mencanting, pewarnaan, hingga nglorot untuk menghilangkan malam dari kain.

Tidak berhenti pada teknik, wisatawan juga bisa mengenal filosofi motif Batik Geblek Renteng yang menjadi salah satu identitas batik Kulon Progo.

Motif tersebut terinspirasi dari geblek, makanan khas daerah setempat. Bentuknya disusun berulang menyerupai angka delapan dan merepresentasikan semangat kebersamaan serta persatuan.

Dari selembar kain, pengunjung akhirnya tidak hanya belajar keterampilan membatik, tetapi juga mengenal identitas dan cerita yang melekat pada budaya lokal.

Liburan yang Mengajak Wisatawan Ikut Mengalami

Enam destinasi tersebut memperlihatkan bahwa wisata edukasi di Kulon Progo bisa dikemas tanpa menghilangkan unsur rekreasi.

Di Tinalah, wisatawan dapat belajar pertanian dan kehidupan desa. Nglinggo mengajak pengunjung mengenal teh sekaligus tradisi. Goa Kiskendo memadukan geologi dengan legenda Ramayana.

Sementara itu, kawasan mangrove memperkenalkan ekosistem pesisir, Segajih dan Jatimulyo menunjukkan proses pembuatan gula Jawa, sedangkan Widosari dan Omah Cantrik membuka pengalaman belajar membatik.

Kesamaan dari seluruh destinasi tersebut adalah posisi wisatawan sebagai pelaku, bukan sekadar penonton.

Anak-anak bisa memperoleh pengalaman belajar di luar kelas. Orang dewasa dapat mengenal kearifan lokal. Sementara masyarakat desa mendapatkan ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjaga pengetahuan dan tradisi yang mereka miliki.

Karena itu, wisata edukasi Kulon Progo layak dipertimbangkan bagi wisatawan yang ingin membawa pulang lebih dari sekadar foto.

Datang untuk melihat, ikut mencoba, lalu pulang dengan cerita tentang sawah, teh, gula Jawa, mangrove, legenda, dan batik yang semuanya hidup di tengah masyarakat Kulon Progo. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : jawapos.com, Radar Jogja
wisata Kulon Progo wisata Jogja wisata keluarga desa wisata wisata edukasi