Bawa Tumbler, Kurangi Kertas, Langkah KAI Menuju Perjalanan yang Lebih Ramah Lingkungan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:58 WIB
Upaya menjaga lingkungan menjadi bagian dari pengelolaan operasional dan pelayanan dalam ekosistem transportasi kereta api. (Antara)
Upaya menjaga lingkungan menjadi bagian dari pengelolaan operasional dan pelayanan dalam ekosistem transportasi kereta api. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - Upaya menghadirkan transportasi yang lebih ramah lingkungan tidak hanya berkaitan dengan perjalanan penumpang dari satu kota ke kota lain.

Di balik operasional kereta api, terdapat rangkaian aktivitas yang mencakup perawatan sarana, pengelolaan stasiun, depo, balai yasa, hingga pelayanan pelanggan.

Seluruh kegiatan tersebut turut menghasilkan limbah yang perlu dikelola secara bertanggung jawab.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat pengelolaan sebanyak 14.562,40 ton limbah sepanjang 2025.

Jumlah tersebut terdiri atas limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) serta limbah dan sampah non-B3 yang berasal dari berbagai aktivitas perusahaan.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan aspek lingkungan menjadi bagian dari proses operasional perusahaan, sekaligus diperkuat melalui penyediaan fasilitas yang dapat mendorong perubahan kebiasaan pelanggan.

“Pengelolaan lingkungan merupakan bagian dari proses kerja sehari-hari. KAI terus memperkuat pengelolaan limbah sekaligus menghadirkan fasilitas dan inovasi yang membantu pelanggan membangun kebiasaan perjalanan yang lebih bertanggung jawab,” ujar Anne.

Berdasarkan catatan sepanjang 2025, KAI mengelola 2.683,81 ton limbah B3. Sementara itu, limbah dan sampah non-B3 mencapai 11.564,41 ton.

Dalam pengelolaannya, sebagian limbah non-B3 melibatkan pihak ketiga sesuai ketentuan yang berlaku.

Langkah pengurangan sampah juga dilakukan melalui fasilitas yang dapat digunakan langsung oleh pelanggan di stasiun.

Hingga akhir 2025, KAI telah menyediakan 124 unit Water Station yang tersebar di 70 stasiun.

Fasilitas tersebut memungkinkan pelanggan mengisi ulang air minum dengan membawa tumbler atau botol pribadi.

Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi penggunaan kemasan minuman sekali pakai dalam perjalanan.

Bagi masyarakat Banyuwangi yang memanfaatkan kereta api untuk mobilitas antarkota maupun perjalanan jarak jauh, kebiasaan membawa botol minum sendiri juga relatif mudah diterapkan.

Penumpang dapat mempersiapkan kebutuhan minum sejak sebelum berangkat dan melakukan pengisian ulang di fasilitas yang tersedia di stasiun.

Anne menilai perubahan perilaku pelanggan memiliki arti penting karena dampaknya dapat terakumulasi ketika dilakukan secara luas.

“Melalui Water Station, pelanggan dapat membawa tumbler dan mengisi ulang air selama perjalanan. Kebiasaan sederhana seperti ini jika dilakukan secara luas akan membantu mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai dalam ekosistem transportasi publik,” kata Anne.

Selain penyediaan Water Station, KAI juga menerapkan sejumlah langkah lain dalam layanan perjalanan.

Perusahaan menggunakan wooden cutlery serta waste bag berbahan plastik daur ulang.

Pembatasan penggunaan plastik sekali pakai juga terus diterapkan dalam berbagai aktivitas perusahaan.

Pendekatan tersebut kemudian diperkuat melalui edukasi Green Travel.

Edukasi menyasar pekerja, pemasok, tenant, dan pelanggan agar lebih terbiasa menggunakan barang yang dapat dipakai kembali, mengurangi plastik sekali pakai, serta mengelola sampah dengan lebih tertib, baik di stasiun maupun selama perjalanan.

Upaya efisiensi penggunaan material juga berjalan beriringan dengan digitalisasi.

KAI memanfaatkan e-boarding melalui aplikasi Access by KAI serta Face Recognition Boarding Gate untuk mengurangi kebutuhan pencetakan boarding pass berbahan kertas.

Digitalisasi tersebut menunjukkan bahwa upaya mengurangi dampak lingkungan tidak selalu berbentuk perubahan besar.

Pengurangan penggunaan kertas melalui layanan digital, penggunaan perlengkapan berbahan lebih ramah lingkungan, hingga kebiasaan membawa tumbler merupakan langkah yang dapat diterapkan secara bertahap dalam aktivitas perjalanan.

KAI menyatakan penguatan pengelolaan limbah dan material ramah lingkungan akan terus berjalan, bersamaan dengan pengembangan layanan digital dan fasilitas yang mendorong perubahan perilaku pelanggan.

“KAI akan terus memperkuat pengelolaan limbah, penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, digitalisasi, serta fasilitas yang mendukung perubahan kebiasaan pelanggan. Kami ingin setiap perjalanan semakin efisien dalam menggunakan sumber daya dan memberi dampak yang semakin baik bagi lingkungan,” pungkas Anne.

Bagi pengguna kereta api di Banyuwangi, pesan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam kebiasaan sederhana saat bepergian: membawa wadah minum sendiri, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, membuang sampah pada tempatnya, serta memanfaatkan layanan digital ketika tersedia. Langkah kecil dari penumpang, ketika dilakukan bersama-sama, dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem transportasi publik yang lebih tertib dan berkelanjutan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Pengelolaan limbah KAI Water Station KAI Green Travel kereta api Transportasi berkelanjutan Banyuwangi KAI ramah lingkungan