Integrasi Multiteknologi Dongkrak Kinerja KAI Group, Layani 258,99 Juta Pelanggan pada Semester I 2026

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 14:42 WIB
KAI Group melayani 258,99 juta pelanggan dan mengangkut 32,49 juta ton barang sepanjang Semester I 2026. (Antara)
KAI Group melayani 258,99 juta pelanggan dan mengangkut 32,49 juta ton barang sepanjang Semester I 2026. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Pengelolaan berbagai teknologi perkeretaapian yang terintegrasi menjadi faktor utama di balik peningkatan kinerja operasional PT Kereta Api Indonesia (Persero) Group sepanjang Semester I 2026. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan melayani ratusan juta pelanggan sekaligus menjaga kelancaran distribusi logistik nasional.

Selama Januari hingga Juni 2026, KAI Group melayani 258,99 juta pelanggan. Jumlah tersebut meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 240,80 juta pelanggan.

Tidak hanya pada layanan angkutan penumpang, sektor logistik juga mencatatkan performa positif. Pada enam bulan pertama tahun ini, KAI mendistribusikan 32,49 juta ton barang. Volume tersebut terdiri atas 26,53 juta ton batu bara untuk mendukung pasokan energi nasional dan 5,96 juta ton komoditas nonbatu bara, seperti semen, bahan bakar minyak (BBM), hingga peti kemas.

Capaian tersebut ditopang pengoperasian lima jenis teknologi transportasi rel yang berada dalam ekosistem KAI Group. Teknologi itu meliputi lokomotif diesel, Kereta Rel Listrik (KRL), Kereta Rel Diesel/Listrik (KRDE/I), Light Rail Transit (LRT) otomatis, hingga kereta cepat Whoosh yang beroperasi dengan kecepatan mencapai 350 kilometer per jam.

Hingga Juni 2026, KAI mengoperasikan 551 unit lokomotif, 1.064 unit KRL, 2.238 unit kereta penumpang, 8.907 gerbong barang, serta 96 unit KRDE/I. Layanan tersebut diperkuat dengan pengoperasian LRT Jabodebek dan kereta cepat Whoosh yang dikelola PT Kereta Cepat Indonesia China.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, setiap moda memiliki karakteristik teknologi yang berbeda sehingga membutuhkan standar pengelolaan yang spesifik.

"Setiap ragam teknologi memiliki karakteristik, sumber daya penggerak, sistem pengendalian, hingga pola perawatan yang unik. Kami menyelaraskannya lewat standar keselamatan yang ketat, keandalan armada, kompetensi SDM, serta disiplin operasional yang konsisten," ujarnya, dikutip Antara.

Kontribusi terbesar terhadap jumlah pelanggan berasal dari layanan perkotaan melalui KRL dan commuter yang melayani 204,15 juta pelanggan atau meningkat 6,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, layanan kereta antarkota dan lokal yang mengandalkan lokomotif diesel mengangkut 29,85 juta pelanggan atau tumbuh 8,72 persen.

Sejumlah layanan lain juga menunjukkan pertumbuhan positif. KAI Wisata mencatat lonjakan pelanggan sebesar 64,45 persen menjadi 164.743 orang. LRT Jabodebek yang menggunakan teknologi otomatisasi Grade of Automation 3 (GoA3) melayani 16,01 juta penumpang atau naik 22,84 persen. Kereta cepat Whoosh mengangkut 2,93 juta pelanggan, sedangkan layanan KAI Bandara melayani 3,48 juta penumpang.

Untuk menjaga keandalan operasional, KAI mengandalkan jaringan fasilitas perawatan yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra. Perusahaan mengoperasikan enam Balai Yasa sarana, yakni Balai Yasa Manggarai, Tegal, Yogyakarta, Gubeng, Pulubrayan, dan Lahat. Selain itu terdapat UPT Balai Yasa Mekanik Cirebon Prujakan untuk perawatan mesin jalan rel serta UPT Balai Yasa Jembatan Kiaracondong Bandung.

Di sisi sumber daya manusia, KAI terus meningkatkan kompetensi pekerja melalui program sertifikasi. Jumlah pekerja tersertifikasi meningkat dari 14.150 orang pada 2022 menjadi 19.167 orang pada 2025. Pada 2026, perusahaan menargetkan pemenuhan sertifikasi untuk 18.297 posisi operasional, mulai dari masinis, pengendali perjalanan kereta, teknisi sarana dan prasarana hingga Penjaga Jalan Lintas (PJL).

Selain pelatihan dan sertifikasi, KAI juga memanfaatkan aplikasi digital Safety Railway Information (SRI). Platform tersebut memungkinkan petugas lapangan melaporkan potensi bahaya secara real-time sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.

Anne menegaskan bahwa modernisasi teknologi tetap harus diimbangi kompetensi sumber daya manusia serta disiplin operasional.

"Dari lokomotif konvensional hingga kereta cepat modern, prinsip dasarnya tidak berubah. Keselamatan perjalanan kereta api ditopang oleh pekerja yang kompeten, sarana perawatan yang memadai, kepatuhan prosedur, serta pengawasan intensif selama 24 jam nonstop," pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
KAI Group Kereta Api