RADARBANYUWANGI.ID - Selama ini Situs Beji Antaboga di lereng Gunung Raung, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, lebih dikenal sebagai destinasi wisata religi yang mempertemukan enam agama dalam satu kawasan.
Namun, di balik fungsinya sebagai ruang ibadah lintas iman, kawasan tersebut juga memiliki peran penting sebagai benteng konservasi alam yang menjaga kelestarian hutan lindung sekaligus melindungi sumber mata air alami.
Kawasan seluas sekitar tiga hektare itu dikelola bersama oleh Perhutani KPH Banyuwangi Barat bersama masyarakat lintas agama.
Keberlangsungan ekosistem di dalamnya tetap terjaga berkat kuatnya kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Masyarakat meyakini kawasan tersebut merupakan tempat suci yang dijaga kekuatan spiritual.
Keyakinan itu melahirkan hukum adat tidak tertulis yang membuat siapa pun enggan melakukan tindakan yang berpotensi merusak lingkungan, mulai dari menebang pohon, merusak vegetasi, hingga mengeksploitasi lahan.
Perlindungan berbasis nilai budaya dan spiritual tersebut terbukti menjadi benteng alami bagi kelestarian kawasan.
Rasa hormat terhadap tempat ibadah enam agama yang berdiri berdampingan di lokasi itu menjadi pengawas sosial yang efektif dibandingkan sekadar larangan tertulis.
Kelestarian vegetasi di kawasan Beji Antaboga tidak hanya mempertahankan tegakan pinus dan tanaman khas lereng Gunung Raung.
Yang tidak kalah penting, kawasan tersebut juga menjaga keberadaan beji atau sumber mata air alami yang muncul dari sela-sela akar pohon tua.
Keberadaan mata air tersebut memiliki fungsi strategis bagi keseimbangan ekosistem hutan sekaligus menopang kebutuhan air bagi lahan pertanian masyarakat di desa-desa yang berada di bawah lereng Gunung Raung.
Terjaganya kawasan hutan juga membantu mencegah pencemaran sumber air serta mengurangi risiko sedimentasi akibat erosi.
Model pelestarian yang bertumpu pada nilai spiritual ini menunjukkan bahwa kearifan lokal mampu berjalan beriringan dengan upaya konservasi lingkungan.
Kesadaran kolektif masyarakat menjadi faktor utama yang menjaga kawasan tetap lestari tanpa tekanan eksploitasi.
Situs Beji Antaboga sendiri berdiri sejak 2011 sebagai destinasi wisata religi yang unik di Jawa Timur.
Di kawasan ini tersedia tempat ibadah bagi enam agama resmi di Indonesia dalam satu area tanpa sekat, sehingga menjadi simbol kerukunan dan toleransi antarumat beragama.
Selama ini, nama Beji Antaboga juga kerap menjadi perhatian publik karena sering didatangi pejabat maupun tokoh politik nasional, terutama menjelang pelaksanaan pemilihan umum.
Mereka umumnya datang untuk berdoa, mencari ketenangan batin, maupun melakukan ritual spiritual.
Di balik sorotan tersebut, fungsi ekologis Beji Antaboga justru menjadi nilai penting yang patut mendapat perhatian lebih.
Kawasan ini membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dapat tumbuh dari perpaduan antara penghormatan terhadap budaya, nilai spiritual, dan kepedulian bersama dalam menjaga alam.
Editor : Lugas Rumpakaadi