Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Stasiun Gambir Makin Padat, 2,6 Juta Penumpang Gunakan Layanan dalam Lima Bulan

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 24 Juni 2026 | 15:28 WIB
Stasiun Gambir mencatat 2,6 juta pelanggan sepanjang Januari-Mei 2026, naik hampir 12 persen dibanding tahun lalu. (Antara)
Stasiun Gambir mencatat 2,6 juta pelanggan sepanjang Januari-Mei 2026, naik hampir 12 persen dibanding tahun lalu. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID – Stasiun Gambir semakin menunjukkan perannya sebagai salah satu gerbang utama perjalanan kereta api di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, lebih dari 2,6 juta pelanggan tercatat naik dan turun di stasiun yang berada di pusat Jakarta tersebut. Angka itu tumbuh hampir 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan jumlah pelanggan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa transportasi kereta api masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk perjalanan antarkota. Di tengah perkembangan transportasi modern, Stasiun Gambir tetap menjadi simpul mobilitas yang menghubungkan Jakarta dengan berbagai daerah di Pulau Jawa.

Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (KAI), total pelanggan naik dan turun di Stasiun Gambir selama Januari-Mei 2026 mencapai 2.603.087 orang. Jumlah itu meningkat 11,95 persen dibanding periode yang sama pada 2025 yang mencapai 2.325.271 pelanggan.

Dari total tersebut, pelanggan yang berangkat dari Stasiun Gambir mencapai 1.342.160 orang atau naik 11,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 1.199.828 pelanggan. Sementara pelanggan yang tiba tercatat sebanyak 1.260.927 orang, meningkat 12,04 persen dibandingkan Januari-Mei 2025 yang mencapai 1.125.443 pelanggan.

Penumpang Gambir Tembus 2,6 Juta Orang

Kenaikan jumlah pelanggan di Gambir sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat menggunakan moda transportasi massal yang dinilai lebih nyaman, efisien, dan tepat waktu untuk perjalanan antarkota.

Sepanjang 2025, total pelanggan yang menggunakan Stasiun Gambir bahkan mencapai 5.990.911 orang. Angka tersebut menunjukkan peran strategis Gambir sebagai gerbang perjalanan masyarakat dari dan menuju pusat Jakarta, baik untuk urusan bisnis, pemerintahan, pendidikan, wisata, maupun kunjungan keluarga.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Stasiun Gambir memiliki nilai istimewa karena tumbuh bersama perkembangan Jakarta dan layanan perkeretaapian nasional.

Menurut Anne, Gambir bukan sekadar tempat keberangkatan dan kedatangan kereta api. Stasiun tersebut juga menjadi ruang perjalanan yang menyimpan sejarah panjang perkembangan kota dan mobilitas masyarakat Indonesia.

Berawal dari Halte Koningsplein Tahun 1871

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Gambir berawal dari sebuah halte sederhana bernama Koningsplein pada 1871. Saat itu, kawasan Weltevreden menjadi salah satu pusat perkembangan awal jaringan kereta api Batavia.

Seiring pertumbuhan aktivitas kota, halte tersebut berkembang menjadi Stasiun Weltevreden pada 1884. Perubahan terus berlanjut hingga dekade 1930-an ketika bangunan stasiun diperbarui dengan sentuhan arsitektur Art Deco dan dikenal sebagai Batavia Koningsplein.

Pada masa itu, kawasan sekitar Gambir menjadi pusat aktivitas publik dan pemerintahan yang ramai. Berbagai kegiatan masyarakat berlangsung di area yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan paling ikonik di Jakarta.

Setelah Indonesia merdeka, nama Gambir semakin melekat sebagai identitas stasiun yang berada di jantung ibu kota. Dari tahun ke tahun, stasiun ini menjadi saksi jutaan perjalanan masyarakat yang datang dan pergi dari berbagai daerah.

Transformasi Besar Menjadi Stasiun Layang

Babak baru Gambir dimulai pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an saat pembangunan jalur layang Manggarai–Jakarta Kota dilakukan. Perubahan besar itu ditandai dengan diresmikannya bangunan Stasiun Gambir baru pada 5 Juni 1992.

Stasiun layang tersebut hadir dengan desain atap bergaya joglo serta dominasi warna hijau yang hingga kini menjadi ciri khasnya. Kehadiran jalur layang membuat perjalanan kereta api dan lalu lintas perkotaan menjadi lebih tertata.

Anne menjelaskan, transformasi Gambir menunjukkan bahwa stasiun memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat naik dan turun penumpang.

"Ketika layanan semakin mudah, perjalanan masyarakat menjadi lebih efisien, aktivitas ekonomi ikut terdorong, dan pusat kota semakin terhubung dengan berbagai daerah," ujarnya, dikutip Antara.

Fasilitas Modern dan Serba Digital

Saat ini, Gambir difokuskan sebagai stasiun keberangkatan dan kedatangan kereta api jarak jauh. Posisi tersebut menjadikannya etalase layanan KAI bagi pelanggan yang melakukan perjalanan menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.

Fasilitas yang tersedia pun terus berkembang mengikuti kebutuhan pelanggan. Selain ruang tunggu, pusat informasi, area komersial, musala, toilet, dan area parkir, Gambir juga dilengkapi fasilitas Shower & Locker, Rail Transit Suite, ruang tunggu premium, serta tenant makanan dan minuman.

Kemudahan perjalanan semakin terasa melalui layanan digital. Pelanggan kini dapat memesan tiket melalui Access by KAI, melakukan check-in mandiri, memperoleh informasi jadwal perjalanan secara real time, hingga mengatur kebutuhan perjalanan melalui kanal resmi KAI.

Menjadi Titik Awal dan Jalan Pulang

Bagi sebagian orang, Gambir adalah awal perjalanan kerja dan bisnis. Bagi mahasiswa, stasiun ini menjadi gerbang menuju kota tempat menempuh pendidikan. Sementara bagi banyak perantau, Gambir identik dengan perjalanan pulang untuk bertemu keluarga.

Karena itu, KAI terus berupaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, bersih, dan mudah dipahami pelanggan.

Anne menegaskan bahwa setiap detail pelayanan di stasiun memiliki pengaruh terhadap kenyamanan pelanggan sebelum menaiki kereta api.

"Bagi sebagian orang, Gambir adalah awal perjalanan kerja. Bagi yang lain, Gambir adalah jalan pulang ke keluarga. Ada juga yang datang untuk berwisata, menghadiri agenda penting, atau menjemput orang terdekat," katanya.

Data Stasiun Gambir Januari–Mei 2026

Meski telah melewati berbagai perubahan zaman selama lebih dari satu abad, peran Stasiun Gambir tetap tidak berubah. Dari era kolonial hingga era digital, stasiun ini terus menjadi penghubung antara masyarakat dengan tujuan, pekerjaan, keluarga, dan harapan mereka. Sebagai salah satu ikon transportasi nasional, Gambir tetap berdiri sebagai wajah perjalanan kereta api Indonesia di jantung ibu kota.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Sejarah Stasiun Gambir #kereta api indonesia #transportasi jakarta #stasiun gambir #KAI