RADARBANYUWANGI.ID – Kereta api di Lampung tidak hanya menjadi moda transportasi penumpang. Jaringan rel yang telah berusia lebih dari satu abad itu kini berkembang menjadi tulang punggung distribusi logistik di Sumatra bagian selatan dengan volume angkutan barang mencapai 11,4 juta ton hanya dalam lima bulan pertama 2026.
Data PT Kereta Api Indonesia (KAI) menunjukkan, sepanjang Januari hingga Mei 2026, sebanyak 11.437.080 ton barang diangkut melalui jalur kereta api di wilayah Lampung dan Sumatra Selatan. Pada periode yang sama, layanan kereta penumpang juga melayani 498.104 pelanggan.
Besarnya angka tersebut memperlihatkan peran strategis Lampung sebagai gerbang logistik utama Pulau Sumatra. Jalur rel yang menghubungkan kawasan industri, pusat produksi, pelabuhan, hingga daerah permukiman menjadi penggerak penting aktivitas ekonomi regional.
Di tengah perhatian pemerintah terhadap pengembangan sistem perkeretaapian nasional, keberadaan rel Lampung menjadi salah satu contoh bagaimana infrastruktur transportasi mampu bertahan dan terus relevan selama lebih dari satu abad.
Sejarah perkeretaapian di Lampung dimulai pada 1911 saat Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) membangun jalur yang menghubungkan Tanjungkarang dengan kawasan penghasil komoditas di Sumatra Selatan. Sejak awal, rel tersebut dirancang untuk mendukung distribusi hasil bumi menuju pelabuhan dan pusat perdagangan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, keberadaan kereta api di Lampung sejak dahulu memiliki fungsi penting dalam membuka akses dan memperkuat konektivitas antarwilayah.
“Sejarah rel di Lampung menunjukkan bahwa kereta api sejak awal hadir untuk membuka akses. Dari jalur hasil bumi, pelabuhan, hingga pusat permukiman, kereta api membentuk konektivitas yang sampai hari ini masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan ekonomi wilayah,” ujarnya, dikutip Antara.
Saat ini, KAI mengoperasikan jalur sepanjang 451,280 kilometer spoor dengan 47 stasiun aktif yang tersebar dari Bandar Lampung hingga Prabumulih. Jaringan tersebut melintasi sejumlah wilayah strategis seperti Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu, dan Muara Enim.
Stasiun Tanjungkarang dan Tarahan menjadi simpul utama jaringan tersebut. Sementara Stasiun Kotabumi dan Baturaja berperan mendukung layanan penumpang maupun angkutan barang.
Untuk layanan penumpang, KAI mengoperasikan KA Rajabasa relasi Tanjungkarang–Kertapati serta KA Kuala Stabas relasi Tanjungkarang–Baturaja pulang-pergi. Dari total 498.104 pelanggan selama Januari–Mei 2026, KA Kuala Stabas menjadi layanan dengan jumlah pengguna tertinggi mencapai 312.937 pelanggan. Adapun KA Rajabasa melayani 185.167 pelanggan.
Di sektor logistik, batu bara masih menjadi komoditas terbesar yang diangkut melalui jalur rel. Selama lima bulan pertama 2026, volume angkutan batu bara relasi Tanjung Enim Baru–Tarahan mencapai 11.280.793 ton.
Selain batu bara, kereta api juga mengangkut semen zak sebanyak 83.680 ton, bahan bakar minyak (BBM) 52.593 ton, serta semen curah 20.014 ton. Volume tersebut menunjukkan pentingnya moda rel dalam menjaga kelancaran pasokan berbagai kebutuhan industri dan masyarakat.
Menurut Anne, potensi Lampung semakin besar karena memiliki kombinasi kekuatan berupa pelabuhan, kawasan industri, jalur penumpang, dan lintas barang berkapasitas tinggi.
“Ketika rel diperkuat, manfaatnya dapat dirasakan melalui distribusi yang lebih efisien, mobilitas masyarakat yang lebih mudah, dan daya saing wilayah yang semakin baik,” katanya.
Selain memiliki jaringan aktif yang terus berkembang, Lampung juga menyimpan sejarah panjang perkeretaapian. Salah satunya jalur Garuntang–Telukbetung yang pada masanya menjadi penghubung penting antara kawasan perkotaan dan pelabuhan.
Meski sebagian jalur lama telah berubah fungsi, peran kereta api dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Lampung tetap bertahan. Bahkan, posisinya diperkirakan akan semakin penting seiring penguatan logistik energi, distribusi bahan bangunan, konektivitas pelabuhan, dan mobilitas masyarakat lintas daerah.
Editor : Lugas Rumpakaadi