RADARBANYUWANGI.ID – Semakin banyak masyarakat perkotaan beralih menggunakan transportasi publik berbasis listrik. Selain menawarkan perjalanan yang lebih terjadwal dan efisien, moda transportasi ini juga dinilai mampu membantu mengurangi emisi karbon yang menjadi salah satu tantangan utama di kawasan perkotaan.
Tren tersebut tercermin dari tingginya jumlah pengguna layanan urban berbasis listrik yang dikelola PT Kereta Api Indonesia (KAI) Group. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, layanan LRT Jabodebek, Commuter Line Jabodetabek, Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, Commuter Line Yogyakarta, dan LRT Sumatera Selatan melayani total 166.154.342 pelanggan.
Berdasarkan perhitungan sederhana menggunakan data jumlah pelanggan dan faktor emisi transportasi, penggunaan moda berbasis listrik tersebut diperkirakan membantu mengurangi emisi sekitar 15.350 ton CO₂e dibandingkan jika perjalanan yang sama dilakukan menggunakan kendaraan pribadi.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan transportasi berbasis listrik memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas perkotaan yang lebih berkelanjutan.
"Kereta listrik perkotaan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Perjalanan menjadi lebih terukur, kapasitas layanan besar, dan emisi yang dihasilkan per pelanggan jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (14/6/2026), dikutip Antara.
Penumpang Kereta Bertenaga Listrik Terus Meningkat
Peningkatan aktivitas masyarakat di kawasan perkotaan membuat kebutuhan transportasi massal semakin tinggi. Mobilitas menuju tempat kerja, sekolah, pusat bisnis, kawasan pendidikan, bandara hingga ruang publik membutuhkan layanan yang mampu mengangkut banyak orang secara cepat dan terjadwal.
LRT Jabodebek menjadi salah satu moda dengan pertumbuhan pelanggan tertinggi. Selama Januari-Mei 2026, jumlah pengguna mencapai 13.211.856 pelanggan atau meningkat 23,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 10.727.798 pelanggan.
Dari sisi lingkungan, LRT Jabodebek menghasilkan emisi sekitar 15 gram CO₂e per penumpang per kilometer. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sepeda motor yang menghasilkan sekitar 37 gram CO₂e per penumpang per kilometer.
Dengan kata lain, emisi yang dihasilkan sepeda motor hampir dua setengah kali lebih besar dibandingkan LRT Jabodebek untuk jarak tempuh yang sama.
Kontribusi terbesar terhadap mobilitas perkotaan tetap berasal dari Commuter Line Jabodetabek. Moda ini melayani 146.259.555 pelanggan sepanjang Januari hingga Mei 2026 atau meningkat 5,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 138.227.725 pelanggan.
Sebagai tulang punggung transportasi harian di kawasan Jabodetabek, Commuter Line menghubungkan wilayah permukiman dengan pusat aktivitas ekonomi, bisnis, dan perkantoran. Kapasitas besar serta frekuensi perjalanan yang tinggi membuat moda ini menjadi alternatif utama untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Lebih Rendah Emisi Dibanding Kendaraan Pribadi
Berdasarkan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Commuter Line menghasilkan emisi sekitar 34,03 gram CO₂ per penumpang-kilometer. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan mobil yang menghasilkan sekitar 42 gram CO₂ per penumpang-kilometer dengan asumsi satu mobil ditumpangi empat orang.
Selain di Jabodetabek, layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta juga mencatat pertumbuhan positif. Jumlah pelanggan mencapai 1.013.574 orang atau naik 14,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 883.065 pelanggan.
Sementara itu, Commuter Line Yogyakarta yang melayani koridor Yogyakarta-Solo mengangkut 3.854.340 pelanggan selama lima bulan pertama tahun ini. Jumlah tersebut meningkat 7,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 3.572.727 pelanggan.
Layanan tersebut menjadi penghubung penting bagi kawasan pendidikan, perdagangan, pariwisata, hingga pusat aktivitas ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Di Sumatera Selatan, LRT Sumsel melayani 1.815.017 pelanggan sepanjang Januari-Mei 2026. Moda ini menghubungkan berbagai pusat aktivitas di Kota Palembang, mulai kawasan permukiman, pusat bisnis, kampus, kompleks olahraga Jakabaring hingga Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II.
LRT Sumsel menggunakan tenaga listrik melalui sistem Listrik Aliran Bawah atau third rail bertegangan 750 volt DC. Sistem tersebut membuat operasional kereta tidak menghasilkan emisi gas buang langsung selama perjalanan.
Jadi Gambaran Masa Depan Transportasi Perkotaan
Meningkatnya jumlah pengguna transportasi publik berbasis listrik menunjukkan perubahan pola mobilitas masyarakat perkotaan. Selain mempertimbangkan kecepatan dan biaya perjalanan, masyarakat kini semakin memperhatikan aspek kenyamanan serta dampak lingkungan.
Bagi daerah yang tengah mendorong pembangunan berkelanjutan, termasuk berbagai kota berkembang di Indonesia, tren ini menjadi gambaran bahwa transportasi massal rendah emisi dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan sekaligus menekan polusi udara.
Anne menegaskan KAI Group akan terus memperkuat layanan transportasi urban berbasis listrik agar semakin mudah diakses masyarakat.
"Setiap pelanggan yang beralih ke transportasi publik berbasis listrik ikut membantu menekan beban emisi transportasi harian," katanya.
Karena itu, pengembangan layanan kereta listrik akan terus dilakukan agar mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat modern yang menginginkan transportasi cepat, nyaman, terjangkau, dan ramah lingkungan.
Editor : Lugas Rumpakaadi