RADARBANYUWANGI.ID – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai memasuki tahapan penting dalam transisi energi nasional. Sejak April 2026, perusahaan pelat merah tersebut menguji penggunaan biodiesel B50 pada lokomotif dan genset kereta api sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon, meningkatkan penggunaan energi terbarukan, sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Saat ini, KAI masih berada pada tahap pemantauan dan evaluasi teknis hasil pengujian sebelum implementasi biodiesel B50 diterapkan lebih luas dalam operasional kereta api nasional.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan perjalanan penggunaan biodiesel di lingkungan KAI menunjukkan komitmen perusahaan dalam mendukung agenda transformasi energi nasional.
"KAI memperkuat peran kereta api melalui roadmap biodiesel dari B0 menuju B50 dengan memastikan setiap tahapan berjalan selaras dengan keselamatan, keandalan layanan, efisiensi energi, dan penurunan emisi," ujarnya, dikutip Antara.
Lokomotif dan Genset Jadi Objek Pengujian
Perjalanan transisi energi KAI berlangsung secara bertahap. Penggunaan biodiesel yang semula berada pada level B0 pada 2017 meningkat menjadi B20 pada 2018-2019, B30 pada 2020-2022, B35 pada 2023-2024, dan B40 pada 2025-2026. Tahapan berikutnya adalah implementasi B50 yang kini sedang diuji.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan pengujian dilakukan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memastikan penggunaan B50 sesuai dengan karakteristik operasional kereta api yang memiliki standar keandalan tinggi.
Pengujian lokomotif menggunakan lokomotif CC206 yang dioperasikan bersama rangkaian KA Sembrani. Uji dilakukan dari Depo Sidotopo dengan membandingkan konsumsi bahan bakar antara biodiesel B40 dan B50.
Sementara itu, pengujian genset dilakukan pada Genset MTU 2000 P02411 yang digunakan pada KA Bogowonto di Depo Kereta Yogyakarta. Pengujian mencakup performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, hingga ketahanan operasional.
Setelah menjalani pengujian statis selama enam jam dengan kapasitas maksimum load bank, genset kemudian menjalani uji ketahanan dinamis selama 2.400 jam yang dimulai sejak 27 April 2026 di PUK Lempuyangan.
"Hasil pengujian menjadi dasar evaluasi KAI, terutama terkait performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, kondisi filter, aspek emisi, dan kebutuhan perawatan sarana," kata Anne.
Apakah B50 Akan Memengaruhi Perjalanan Kereta?
KAI memastikan seluruh tahapan transisi energi dilakukan tanpa mengurangi kualitas layanan kepada pelanggan. Pengujian B50 justru bertujuan memastikan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan tetap mampu menjaga standar keselamatan dan keandalan operasional kereta api.
Artinya, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap perubahan jadwal perjalanan maupun layanan selama masa pengujian berlangsung. KAI menegaskan prinsip utama dalam implementasi energi baru adalah keselamatan, keamanan, dan kenyamanan perjalanan tetap menjadi prioritas.
Hal ini penting mengingat kereta api memiliki peran strategis sebagai moda transportasi massal yang mendukung mobilitas masyarakat sekaligus distribusi logistik nasional.
Emisi Ditarget Turun 133 Ribu Ton
Dari sisi keberlanjutan, penggunaan biodiesel B50 menjadi program terbesar dalam agenda dekarbonisasi KAI periode 2025-2030.
Perusahaan menargetkan perubahan bahan bakar dari B35 menuju B50 mampu mengurangi emisi hingga 133.676 ton CO₂e. Angka tersebut menjadi kontributor terbesar dalam target penurunan emisi KAI sebesar 166.873 ton CO₂e yang juga didukung program konservasi dan kredit karbon serta efisiensi penggunaan listrik.
Target pengurangan emisi tersebut menunjukkan peran penting sektor perkeretaapian dalam mendukung agenda penurunan emisi nasional. Dengan volume operasional yang besar, setiap peningkatan efisiensi energi berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan.
KAI juga memperkuat pengukuran jejak karbon berbasis data. Dalam kajian Life Cycle Assessment bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), operasional KRL Jabodetabek menghasilkan jejak karbon sekitar 34,03 gram CO₂e per penumpang-kilometer.
Pengukuran tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan transparansi dalam memantau dampak lingkungan transportasi berbasis rel.
BBM Subsidi Tetap Menopang Operasional
Di tengah proses transisi energi, operasional kereta api masih didukung pasokan BBM subsidi dari pemerintah. KAI berkoordinasi dengan BPH Migas dan SKK Migas, sementara pasokan disediakan oleh Pertamina Patra Niaga.
Berdasarkan data monitoring per 5 Juni 2026, KAI memperoleh kuota BBM subsidi sebesar 214,34 juta liter sepanjang tahun 2026. Hingga awal Juni, realisasi penggunaan telah mencapai 95,39 juta liter atau 44,51 persen dari total kuota yang tersedia.
Menurut Anne, dukungan tersebut berperan penting menjaga layanan transportasi kereta api tetap berjalan optimal selama masa transisi menuju energi yang lebih rendah emisi.
Berdampak pada Jalur Kereta di Jawa Timur
Kebijakan transisi energi yang dijalankan KAI berpotensi memberi dampak pada seluruh jaringan operasional kereta api nasional, termasuk layanan kereta jarak jauh yang melintasi wilayah Daop 9 Jember hingga Banyuwangi.
Koridor Jawa Timur bagian timur merupakan salah satu jalur penting bagi mobilitas penumpang maupun distribusi logistik. Karena itu, keberhasilan implementasi biodiesel B50 akan menjadi langkah strategis dalam memperkuat transportasi publik yang lebih ramah lingkungan tanpa mengurangi keandalan layanan.
Bobby menegaskan roadmap biodiesel dari B0 menuju B50 tidak hanya menjadi bagian dari strategi perusahaan, tetapi juga kontribusi nyata sektor perkeretaapian dalam mendukung transformasi energi Indonesia.
"Dengan dukungan pemerintah, KAI akan terus menjaga layanan transportasi publik dan logistik tetap andal, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi nasional, penurunan emisi, dan daya saing ekonomi," pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi