RADARBANYUWANGI.ID - Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menyiagakan personel dan alat berat di sejumlah jalur kereta api yang dipetakan rawan bencana.
Langkah ini dilakukan guna menjamin keselamatan dan kelancaran angkutan arus mudik serta arus balik Lebaran 1447 Hijriah.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono, menyampaikan bahwa pengamanan difokuskan pada titik rawan banjir, tanah labil, dan longsor, khususnya di wilayah Semarang dan sekitarnya.
Antisipasi banjir menjadi perhatian utama mengingat kejadian serupa sempat terjadi pada awal tahun.
Sejumlah upaya teknis telah dilakukan, seperti pemancangan rel, pemasangan cross drain, perkuatan sheet pile baja, normalisasi sungai, hingga pengangkatan elevasi jembatan dan rel.
Selain itu, pemantauan dilakukan selama 24 jam melalui CCTV dan sensor di area rawan guna meminimalkan gangguan perjalanan kereta api.
Di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, DJKA juga menempatkan Alat Material untuk Siaga (AMUS) di 62 titik.
Peralatan ini disiapkan sebagai sarana penanganan darurat apabila terjadi bencana yang berpotensi menghambat operasional kereta api.
Seluruh langkah tersebut terintegrasi dalam pemetaan Daerah Pemantauan Khusus (Dapsus) dan dilaksanakan secara kolaboratif bersama operator serta pemerintah daerah.
Tak hanya itu, DJKA telah merampungkan ramp check terhadap 3.571 dari total 4.181 sarana perkeretaapian yang akan dioperasikan saat masa angkutan Lebaran 2026.
Pemeriksaan mencakup lokomotif, kereta, KRD, dan KRL untuk memastikan kelaikan operasional.
Pada Angkutan Lebaran 2026, kapasitas kereta api antarkota mencapai 3,58 juta tempat duduk dengan 384 perjalanan per hari.
Puncak mudik diprediksi terjadi pada 18 Maret 2026 dan puncak balik pada 24 Maret 2026.
Masyarakat diimbau merencanakan perjalanan lebih awal demi kenyamanan bersama.
Editor : Lugas Rumpakaadi