RADARBANYUWANGI.ID – Pantai di kawasan Pulau Merah (PM), Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, masih menjadi primadona para peselancar.
Setiap sore, puluhan surfer tampak memadati bibir pantai untuk berlatih menaklukkan ombak.
Menariknya, bukan hanya peselancar profesional dan wisatawan mancanegara yang menjajal ombak pantai unggulan Banyuwangi tersebut.
Pada momen libur Tahun Baru Imlek 2026 dan menjelang bulan suci Ramadan, anak-anak dan remaja justru mendominasi arena selancar.
Ombak Pulau Merah yang dikenal “ramah” bagi pemula, namun tetap menantang bagi level menengah, menjadi alasan utama.
Karakter ombaknya dinilai konsisten dan tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan ombak di Plengkung Beach (G-Land) yang terkenal ekstrem.
Ombak Ramah, Dasar Pasir Lebih Aman
Berbeda dengan banyak spot selancar di Indonesia yang memiliki dasar terumbu karang tajam, Pantai Pulau Merah justru beralas pasir.
Kondisi ini membuatnya relatif lebih aman bagi peselancar pemula yang masih dalam tahap belajar menjaga keseimbangan di atas papan.
Setiap sore, puluhan papan selancar tampak berjajar di tepi pantai. Anak-anak belasan tahun bergantian mendorong papan ke tengah ombak, mencoba berdiri, lalu terjatuh dan bangkit lagi. Suasana latihan berlangsung santai namun penuh semangat.
Salah satu pelatih surfing sekaligus lifeguard senior PM, Suyitno, menuturkan bahwa tren peselancar belia meningkat signifikan saat libur sekolah.
“Usia belasan tahun sudah mulai berlatih di sini. Tentu ada yang mendampingi, baik pelatih maupun orang tua,” ujarnya.
Menurut dia, para peselancar muda yang datang tak hanya berasal dari wilayah sekitar Pesanggaran. Banyak juga yang datang dari kecamatan lain di Banyuwangi.
“Papannya di sini sudah disiapkan. Peselancar bisa memanfaatkannya untuk latihan,” cetusnya.
Ngabuburit Sambil Berselancar
Menjelang Ramadan, aktivitas surfing justru tetap ramai. Anak-anak memanfaatkan waktu sore untuk berlatih sekaligus mengisi waktu ngabuburit.
“Saat liburan biasanya memang banyak yang berlatih. Saat puasa juga sama. Istilahnya ngabuburit sambil olahraga,” kata Suyitno.
Pantai yang menjadi salah satu ikon wisata di Kota Gandrung ini memang kerap menjadi tuan rumah event surfing internasional.
Faktor itu pula yang membuat minat anak-anak lokal terhadap olahraga selancar terus tumbuh.
“Anak-anak muda di sini banyak yang berlatih. Apalagi sering ada event internasional, jadi mereka termotivasi,” tambahnya.
Diminati Wisatawan Mancanegara
Tak hanya anak-anak lokal, wisatawan mancanegara juga kerap terlihat menjajal ombak Pulau Merah.
Mereka datang untuk menikmati karakter ombak yang stabil dengan panorama perbukitan hijau serta pasir putih yang memanjang.
Bagi pengelola dan pelatih lokal, meningkatnya minat belajar surfing menjadi berkah tersendiri. Penyewaan papan selancar dan jasa pelatihan turut mendongkrak ekonomi warga setempat.
“Banyak yang ingin belajar. Kami juga menyediakan sewa papan selancar bagi pengunjung atau wisatawan yang ingin surfing. Tentu ini jadi rezeki sendiri,” ungkap Suyitno.
Latih Kesabaran dan Keuletan
Meski terlihat menyenangkan, surfing bukan olahraga yang mudah. Dibutuhkan ketelatenan, keseimbangan, dan pemahaman karakter ombak serta papan selancar.
“Bagaimana mengendalikan papan harus paham dulu. Kalau sudah paham, akselerasi di atas papan saat berada di air itu tergantung diri sendiri,” jelasnya.
Ia menegaskan, keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Tim rescue dan lifeguard selalu siaga memantau aktivitas para peselancar dari bibir pantai.
Menurut Suyitno, surfing bukan sekadar olahraga, tetapi juga sarana pembentukan karakter bagi anak-anak.
“Olahraga ini membantu melatih kesabaran dan keuletan. Tidak mungkin dalam satu percobaan langsung berhasil. Harus jatuh bangun dulu,” katanya.
Dengan ombak yang bersahabat, panorama memikat, serta dukungan fasilitas dan pengawasan yang memadai, Pulau Merah terus menjadi magnet bagi peselancar muda.
Libur sekolah pun tak lagi sekadar dihabiskan di rumah—melainkan di atas papan, menantang ombak, dan menjemput mimpi di lautan Banyuwangi. (sas/aif)
Editor : Ali Sodiqin