Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Candi Plaosan: Jejak Sejarah yang Romantis di Tanah Jawa

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Senin, 6 Oktober 2025 | 01:30 WIB
Candi Plaosan
Candi Plaosan

RADARBANYUWANGI.ID - Main di kawasan Prambanan, jangan cuma mampir ke Candi Prambanan saja. Sedikit bergeser ke arah Klaten, ada Candi Plaosan yang tak kalah keren.

Candi ini punya suasana lebih tenang, jadi pas banget buat kamu yang suka menikmati sejarah sambil santai.

Uniknya, Plaosan sering disebut sebagai "candi kembar" karena punya dua bangunan utama yang berdiri bersebelahan.

Sejarah mencatat, Candi Plaosan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi, pada masa kerajaan Mataram Kuno.

Menariknya, candi ini dipercaya lahir dari kisah cinta antara Rakai Pikatan, raja Hindu dari Wangsa Sanjaya, dan Pramodhawardhani, putri dari Wangsa Sailendra yang beragama Buddha.

Dari sinilah Plaosan sering dijuluki sebagai monumen cinta yang melambangkan keharmonisan dua keyakinan besar di Jawa saat itu.

Plaosan terbagi menjadi dua, yaitu Plaosan Lor (utara) dan Plaosan Kidul (selatan). Di Plaosan Lor, ada dua bangunan induk besar yang dikelilingi puluhan candi perwara kecil dan ratusan stupa.

Bayangkan, betapa megahnya suasana di masa lalu, ketika semuanya masih berdiri lengkap. Kini, sebagian sudah runtuh, tapi masih kelihatan indah banget buat dikunjungi.

Dari segi arsitektur, Plaosan punya sentuhan unik. Relief-reliefnya detail, menampilkan figur manusia, Buddha, dan ornamen khas Jawa.

Di sinilah terlihat adanya campuran budaya Hindu dan Buddha yang hidup berdampingan. Jadi, kalau kamu perhatikan, Plaosan bukan cuma tempat ibadah, tapi juga simbol toleransi sejak zaman dulu.

Selain nilai sejarah, kisah romantis Plaosan juga bikin banyak orang penasaran. Ceritanya, candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan untuk sang istri tercinta, Pramodhawardhani.

Walaupun kisah ini lebih ke legenda, tetap saja membuat Plaosan punya aura romantis. Nggak heran kalau sekarang banyak yang menjulukinya sebagai "Candi Cinta".

Penelitian arkeologi juga masih terus dilakukan. Beberapa prasasti ditemukan di sekitar kompleks ini, dan para ahli masih mendiskusikan detail siapa yang benar-benar membangun dan kapan penyelesaiannya.

Yang jelas, Plaosan memberikan gambaran betapa pentingnya Jawa Tengah sebagai pusat peradaban di masa Mataram Kuno.

Sekarang, Plaosan sudah dipugar meski belum sepenuhnya. Pemerintah dan tim arkeologi rutin melakukan konservasi supaya candi ini tetap lestari.

Buat pengunjung, suasana Plaosan cenderung lebih sepi dibanding Borobudur atau Prambanan. Jadi, cocok banget buat kamu yang suka belajar sejarah sambil mencari ketenangan.

Jadi, kalau kamu ingin menikmati suasana candi yang indah, penuh cerita sejarah, sekaligus punya sentuhan romantis, Candi Plaosan bisa jadi pilihan.

Bukan cuma destinasi wisata, tapi juga saksi bisu perjalanan sejarah, cinta, dan toleransi di tanah Jawa.


Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi

Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#Candi Budha #klaten #candi plaosan