RadarBanyuwangi.id - Munculnya kasus penyiraman blue fire oleh penambang belerang di Kawah Ijen berimbas kepada promosi wisata.
Beberapa pramuwisata memilih tidak menawarkan blue fire kepada wisatawan yang akan berkunjung ke Kawah Ijen.
Bukan tanpa alasan, hal tersebut dilakukan agar wisatawan yang sudah berkunjung ke Ijen tidak kecewa dan tetap bisa bisa menikmati keindahan di gunung dengan kaldera seluas 5.466 hektare tersebut.
"Kalau saya pribadi memilih tidak menawarkan blue fire kepada wisatawan. Kalau terlanjur kita tawarkan, kemudian tidak ada, justru kita yang kena marah wisatawan," ujar Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Banyuwangi, Andika Rahmat.
Selama masih belum ada kepastian tentang bagaimana visi keberadaan blue fire, pemandu wisata yang akan menjadi korban. Karena banyak paket-paket wisata yang memasukkan blue fire sebagai andalan promoisi kepada wisatawan Ijen Banyuwangi. Sedangkan di lapangan, promosi tentang Ijen beragam.
Ada yang menjual view, banyak juga yang menjual blue fire sebagai wahana andalan yang bisa dinikmati wisatawan.
HPI tak bisa menyalahkan penambang belerang yang bekerja di Kawah Ijen. Sebab, para penambang tersebut sama-sama mencari rezeki di Kawah Ijen.
"Di sisi lain blue fire ada, tapi penambang juga dituntut produksinya, kita semua sama-sama cari makan," imbuhnya.
Biasanya pramuwisata memilih untuk tidak menawarkan blue fire kepada wisatawan yang berkunjung ke Ijen. Selain tidak pasti, munculnya blue fire sebenarnya tidak disarankan oleh BKSDA untuk dikunjungi karena masuk dalam radius yang dianggap berbahaya.
"Biasanya guide hanya menunjukkan saja, tapi kalau ada wisatawan yang memaksa turun, biasanya ada teman penambang yang menawarkan diri untuk mengantar ke bawah," imbuhnya.
Rencananya, Senin hari ini (4/8) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi akan mengumpulkan para stakeholder terkait pariwisata Kawah Ijen untuk membahas masalah blue fire. Andika berharap ada titik temu untuk memastikan bagaimana visi pariwisata di Kawah Ijen.
"Sementara kita perlu re-branding dulu, karena sebelum blue fire, Ijen juga sudah ramai dikunjungi orang," kata Andika. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin