Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dipercaya sebagai Ibunda Sunan Giri, Makam Buyut Sayu Atika Ramai Pengunjung di Malam 1 Suro

Bagus Rio Rohman • Kamis, 20 Juli 2023 | 18:00 WIB
SAKRAL: Makam Buyut Sayu Atika dinaungi sembilan pohon kamboja yang mengelilingi makam. Lokasinya berada di perbukitan Giri, Banyuwangi.
SAKRAL: Makam Buyut Sayu Atika dinaungi sembilan pohon kamboja yang mengelilingi makam. Lokasinya berada di perbukitan Giri, Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id - Malam 1 Suro bagi sebagian orang menjadi malam yang cukup sakral. Sejumlah masyarakat memanfaatkan waktu untuk berziarah ke tempat-tempat sakral.

Salah satunya di makam Buyut Sayu Atika yang terletak di puncak bukit Giri, Kelurahan Giri. Tempat tersebut merupakan makam Eyang Putri Atika yang dikeramatkan oleh sebagian warga.

”Satu makam lagi adalah makam abdi kinasih, Tilarso. Makam tersebut dianggap keramat karena Buyut Atika dikenal sebagai ibunda Sunan Giri yang ditemukan pertama kali pada tahun 1920,” ujar Jumali, juru kunci makam Buyut Sayu Atika.

Warga sekitar hanya mengetahui makam tersebut sebagai tempat peristirahatan terakhir Buyut Atika. Namun, belum ada yang kenal siapa itu Buyut Atika.

”Riwayat Buyut Atika baru diketahui sekitar tahun 1990-an lewat penelitian para budayawan,” ucap pria yang akrab disapa Ali itu.

Meski berada di puncak bukit, akses menuju makam Buyut Sayu Atika relatif mudah. Ada beberapa alternatif jalur yang bisa dipilih. Salah satunya yaitu melalui jalan yang berada tepat di belakang Masjid Maitul Ma’wa yang berlokasi di tepi Jalan Raden Wijaya, Lingkungan Payaman, Kelurahan Giri.

Selain melalui jalan di belakang Masjid Baitul Ma’wa, pengunjung juga bisa memilih jalur lain yang hanya berjarak beberapa puluh meter di sebelah barat jalur tersebut. Tepatnya, melalui Jalan Akasia lalu belok kiri melalui salah satu gang yang berada di sebelah selatan jalan jurusan ke Grogol.

Buyut Atika adalah cucu Raja Blambangan Prabu Menak Sembuyu. Atika memiliki nama asli Putri Sekardadu yang dinikahkan dengan Maulana Ishaq atau Syekh Wali Lanang setelah berhasil menyembuhkan sang putri dari penyakit.

”Maulana Ishaq datang ke Blambangan (cikal bakal Banyuwangi) karena diutus Sunan Ampel untuk mengislamkan Blambangan yang masih Hindu,” terang Ali.

Dalam cerita yang beredar, Maulana Ishaq diperbolehkan menyebarkan Islam di luar istana. Namun, dia dianggap melanggar karena menyebarkan Islam di kalangan pejabat istana.

”Maulana Ishaq akhirnya diusir dan anak yang dikandung Sekardadu harus dilarung ke laut. Bayi yang dilarung itu ditemukan seorang nakhoda kapal bernama Abu Huroiroh yang kemudian diserahkan kepada saudagar perempuan bernama Nyai Ageng Pinatih asal Gresik,” jelas Ali.

Bayi inilah yang ketika dewasa dikenal sebagai Sunan Giri. Oleh karena itu, wilayah tempat makam tersebut dikenal dengan nama Giri.

”Makam tersebut dipercaya sebagai makam Islam tertua di Banyuwangi yang dibangun pada abad ke-15,” ungkap Ali.

Dia menambahkan, makam tersebut sudah direhab tiga kali, yaitu tahun 1993, 2004, dan 2007. Berdampingan dengan makam Buyut Atikah, terdapat makam abdi kinasih, Tilarso. Selain itu, ada enam makam lain yang dipercaya merupakan keturunan Mas Alit, Bupati Banyuwangi pertama.

”Warga meyakini setiap ada hajatan atau acara di kampung Giri, mereka wajib menggelar tasyakuran di makam tersebut. Warga meminta doa untuk kelancaran dan kesuksesan acara. Kepercayaan tersebut terus berjalan hingga sampai sekarang,” kata Ali. (rio/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#1 Suro #makam #sakral #sunan giri #budayawan #keramat