RADAR BANYUWANGI - Niatnya hanya bermain game selama beberapa menit setelah belajar atau menyelesaikan pekerjaan. Namun, satu permainan selesai dan muncul keinginan untuk mencoba lagi. Tanpa terasa, waktu yang awalnya singkat berubah menjadi berjam-jam di depan layar.
Bermain game memang telah menjadi salah satu kegiatan yang sering dilakukan untuk mengisi waktu luang. Setelah menyelesaikan sekolah, belajar, pekerjaan rumah, atau aktivitas lainnya, game dapat menjadi hiburan yang menyenangkan.
Namun, kebiasaan tersebut perlu tetap dikendalikan. Jika bermain dilakukan terlalu lama dan terlalu sering, waktu untuk berbagai kegiatan penting dapat ikut berkurang.
Kondisi tersebut sering kali bermula dari hal sederhana. Seseorang mungkin hanya membuka game ketika merasa bosan dan berniat bermain sebentar. Karena permainan terasa menarik, durasinya kemudian bertambah tanpa disadari.
Satu permainan selesai, muncul keinginan untuk bermain kembali. Ketika kalah, ada dorongan untuk mencoba lagi. Sementara saat menang, rasa penasaran untuk mendapatkan skor atau hasil yang lebih baik dapat membuat seseorang kembali bermain.
Ketika “Satu Game Lagi” Membuat Lupa Waktu
Salah satu dampak yang paling mudah terlihat adalah lupa waktu. Niat bermain selama beberapa menit dapat berubah menjadi aktivitas selama berjam-jam.
Kesadaran biasanya baru muncul ketika pemain melihat jam dan menyadari banyak waktu telah berlalu. Pada saat itu, kegiatan lain yang sebelumnya sudah direncanakan bisa saja belum dilakukan.
Bagi pelajar, misalnya, tugas sekolah dapat tertunda karena bermain game lebih dahulu. Waktu belajar yang seharusnya dilakukan pada sore atau malam hari juga bisa bergeser karena sebagian besar waktu telah digunakan untuk bermain.
Kondisi serupa dapat terjadi pada aktivitas rumah. Waktu untuk membantu orang tua, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan hobi lain bisa semakin sedikit ketika bermain game mengambil porsi waktu yang terlalu besar.
Bagi pelajar di Banyuwangi, waktu setelah pulang sekolah biasanya tidak hanya digunakan untuk beristirahat. Ada tugas yang perlu diselesaikan, waktu belajar, kegiatan keluarga, hingga aktivitas sosial. Karena itu, bermain game sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu hiburan, bukan menggantikan seluruh kegiatan tersebut.
Waktu Tidur Bisa Ikut Berantakan
Masalah lain yang kerap muncul adalah perubahan waktu tidur. Ketika sudah waktunya beristirahat, keinginan menyelesaikan satu permainan lagi dapat membuat seseorang menunda tidur.
Setelah satu permainan selesai, muncul keinginan untuk bermain sekali lagi. Siklus tersebut dapat terus berulang hingga waktu tidur menjadi lebih malam dari yang direncanakan.
Jika kebiasaan itu terjadi berulang, waktu istirahat dapat semakin tergeser. Akibatnya, aktivitas pada hari berikutnya juga berpotensi ikut terganggu.
Terlalu lama berada di depan layar juga dapat membuat tubuh merasa lelah. Mata dapat terasa kurang nyaman, sementara tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah terlalu lama duduk dan berkonsentrasi pada layar.
Karena itu, bermain game sebaiknya diselingi dengan istirahat dan tidak dilakukan secara terus-menerus dalam waktu yang panjang.
WHO: Perlu Diperhatikan Jika Mulai Sulit Dikendalikan
Bermain game pada dasarnya bukan kegiatan yang otomatis buruk. Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai kehilangan kendali terhadap kebiasaan tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengakui gaming disorder dalam klasifikasi penyakitnya. Kondisi ini berkaitan dengan pola bermain yang ditandai dengan kesulitan mengendalikan aktivitas bermain, meningkatnya prioritas terhadap game dibandingkan dengan kegiatan lain, serta tetap bermain meskipun sudah muncul dampak negatif.
Artinya, yang menjadi perhatian bukan sekadar berapa lama seseorang bermain game dalam satu kesempatan. Hal yang lebih penting adalah apakah kebiasaan tersebut sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, maupun aktivitas penting lainnya.
Karena itu, seseorang tidak perlu langsung menganggap bahwa setiap kebiasaan bermain game merupakan gangguan. Namun, ketika bermain mulai sulit dihentikan dan kewajiban sehari-hari terus terbengkalai, kondisi tersebut patut diperhatikan.
Jangan Sampai Aktivitas Lain Hilang
Waktu luang sebenarnya dapat digunakan untuk berbagai kegiatan. Selain bermain game, seseorang dapat membaca, mendengarkan musik, berolahraga, membantu pekerjaan rumah, menonton film, berkumpul bersama keluarga, atau bertemu teman.
Memiliki kegiatan yang beragam dapat membantu menjaga keseimbangan. Waktu untuk bermain tetap tersedia, tetapi tidak mengorbankan kegiatan lain yang juga penting.
Dalam hal ini, persoalannya bukan semata-mata pada game. Persoalannya adalah kemampuan seseorang untuk menentukan prioritas dan membatasi waktu bermain.
Game dapat tetap menjadi hiburan selama pemain mampu menentukan kapan harus mulai dan kapan waktunya berhenti.
Cara Sederhana Membatasi Waktu Bermain
Membatasi waktu bermain dapat dimulai sebelum permainan dibuka. Tentukan terlebih dahulu berapa lama waktu yang tersedia dan kapan harus berhenti.
Memasang alarm dapat menjadi cara sederhana untuk mengingatkan bahwa waktu bermain telah selesai. Cara ini lebih mudah dilakukan daripada menunggu sampai merasa bosan atau kehilangan keinginan untuk bermain.
Kewajiban juga sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu. Tugas sekolah, belajar, pekerjaan rumah, atau kegiatan penting lainnya jangan terus ditunda hanya karena ingin bermain.
Jika waktu bermain biasanya sulit dihentikan, durasinya dapat dikurangi secara bertahap. Selain itu, perangkat yang digunakan untuk bermain dapat dijauhkan ketika sudah memasuki waktu belajar atau tidur.
Kapan Sebaiknya Meminta Bantuan?
Ada kalanya seseorang sudah menyadari bahwa waktu bermain terlalu banyak, tetapi tetap kesulitan menguranginya. Jika kondisi tersebut mulai memengaruhi sekolah, tidur, hubungan dengan keluarga, atau kegiatan sehari-hari, masalah tersebut sebaiknya dibicarakan dengan orang lain.
Orang tua, guru, guru BK, atau orang dewasa yang dipercaya dapat menjadi tempat untuk bercerita. Dukungan dari orang sekitar dapat membantu seseorang mencari cara yang lebih realistis untuk mengatur kembali kebiasaan bermain.
Meminta bantuan bukan berarti seseorang harus berhenti bermain game selamanya. Tujuannya adalah menemukan batas yang lebih baik agar permainan tidak mengambil alih waktu untuk kegiatan yang lebih penting.
Bermain game tetap dapat menjadi hiburan yang menyenangkan jika dilakukan dengan batas yang wajar.
Jangan sampai keseruan menyelesaikan satu permainan membuat waktu belajar, tidur, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, dan menjalankan tanggung jawab sehari-hari terus terabaikan.
Mengatur waktu dengan baik membuat game tetap dapat dinikmati sebagai hiburan tanpa mengganggu aktivitas lainnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi