RADARBANYUWANGI.ID - Perpindahan operasional TikTok di Amerika Serikat memicu guncangan besar di kalangan pengguna.
Keputusan ini bukan sekadar perubahan struktur bisnis, tetapi juga menimbulkan krisis kepercayaan yang berujung pada aksi massal penghapusan aplikasi.
Dalam waktu singkat, jutaan pengguna mulai meninggalkan TikTok dan beralih ke platform alternatif yang sebelumnya nyaris tak dikenal.
Gelombang ketidakpercayaan ini muncul setelah TikTok beroperasi di bawah entitas gabungan baru di Amerika Serikat.
Sejumlah pihak di balik entitas tersebut disebut memiliki kedekatan dengan Presiden AS Donald Trump.
Salah satu nama yang mencuat adalah Oracle, perusahaan teknologi yang didirikan oleh Larry Ellison, yang dikenal sebagai sekutu politik Trump.
Kedekatan ini memicu kekhawatiran publik mengenai independensi dan arah kebijakan TikTok ke depan.
Isu Data Pribadi Picu Sentimen Negatif
Di media sosial, beredar luas kekhawatiran terkait perubahan kebijakan privasi TikTok pasca divestasi ByteDance, perusahaan asal China.
Beberapa unggahan menyebutkan kemungkinan pengumpulan data pribadi sensitif, seperti ras dan etnik, orientasi seksual, hingga status kewarganegaraan atau imigrasi.
Selain itu, terdapat pula isu mengenai permintaan data finansial pengguna.
Meski demikian, jika ditelusuri lebih jauh, bahasa dan poin-poin kebijakan tersebut sebenarnya bukan hal baru.
Arsip kebijakan TikTok versi Agustus 2024 menunjukkan ketentuan serupa sudah tercantum sebelumnya.
Namun, momentum pengumuman perpindahan operasional membuat isu ini kembali mencuat dan menyebar luas, sehingga membentuk persepsi negatif di mata publik.
Tuduhan Sensor dan Bantahan TikTok
Selain isu data, TikTok juga diterpa tuduhan membungkam konten yang mengkritik Trump maupun kebijakan imigrasi pemerintah AS.
Sejumlah kreator mengeluhkan turunnya jangkauan konten dan perubahan perilaku algoritma secara tiba-tiba.
Menanggapi hal tersebut, TikTok membantah adanya sensor bermotif politik.
Perusahaan menyatakan gangguan yang dialami pengguna disebabkan oleh pemadaman listrik di salah satu pusat data, yang berdampak pada sistem dan distribusi konten.
Namun, klarifikasi tersebut tampaknya belum cukup meredam kecurigaan publik.
Lonjakan Uninstall TikTok
Dampak dari berbagai isu tersebut tercermin dalam data penggunaan.
Firma riset pasar Sensor Tower mencatat rata-rata pengguna yang menghapus aplikasi TikTok melonjak hingga 150 persen dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Data ini dikutip dari laporan CNBC International dan menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam perilaku pengguna di Amerika Serikat.
Aksi uninstall massal ini menjadi salah satu indikator kuat bahwa kepercayaan publik terhadap TikTok tengah berada di titik terendah, terutama setelah perubahan struktur operasional perusahaan.
UpScrolled Mendadak Jadi Primadona
Di tengah eksodus pengguna TikTok, sebuah aplikasi media sosial baru bernama UpScrolled justru mencuri perhatian.
Aplikasi yang sebelumnya kurang dikenal ini tiba-tiba meroket dan menduduki peringkat pertama kategori aplikasi gratis di Apple App Store pada Kamis (29/1/2026) waktu setempat.
Pencapaian tersebut membuat UpScrolled mengungguli aplikasi populer seperti ChatGPT, Threads, dan Google Gemini.
Sementara itu, TikTok justru terperosok ke posisi ke-27 dalam daftar aplikasi gratis terpopuler di platform yang sama.
Pengguna Tembus Satu Juta dalam Hitungan Hari
Pendiri UpScrolled, Issam Hijazi, mengungkapkan melalui unggahan di platform X bahwa jumlah pengguna aplikasinya telah melampaui satu juta orang.
Angka tersebut melonjak drastis dari sekitar 150.000 pengguna hanya dalam beberapa hari.
UpScrolled memosisikan diri sebagai platform bebas sensor dan bebas shadowban.
Dalam strategi pemasarannya, aplikasi ini secara terbuka mengkritik platform besar seperti TikTok, Meta, dan X, yang dituding membatasi jangkauan konten, menerapkan moderasi bias, serta menyembunyikan unggahan tertentu melalui algoritma.
Latar Belakang Pendiri dan Visi UpScrolled
UpScrolled resmi berdiri pada Juni 2025.
Issam Hijazi memiliki pengalaman bekerja di sejumlah perusahaan besar, termasuk IBM dan Oracle.
Ia memiliki latar belakang etnis Palestina, Yordania, dan Australia.
Dalam laman resmi UpScrolled, disebutkan bahwa ide pengembangan platform ini muncul sejak 2023.
Hijazi menilai banyak konten bermakna hilang dari linimasa media sosial arus utama, sementara disinformasi justru semakin marak.
Dari kegelisahan itulah, UpScrolled diklaim lahir sebagai ruang alternatif yang lebih adil bagi kreator dan audiens.
UpScrolled juga menegaskan bahwa mereka tidak memiliki agenda politik maupun kepentingan komersial tertentu.
Dengan demikian, setiap konten disebut memiliki peluang yang sama untuk tampil dan menjangkau pengguna, tanpa dipengaruhi kepentingan tersembunyi.
Pergeseran Peta Media Sosial
Fenomena hengkangnya pengguna TikTok dan melonjaknya UpScrolled menunjukkan betapa sensitifnya kepercayaan publik terhadap isu privasi, politik, dan transparansi algoritma.
Di era digital, perubahan kecil dalam kebijakan atau persepsi dapat memicu pergeseran besar dalam peta persaingan platform media sosial.
Ke depan, tantangan terbesar bagi TikTok adalah memulihkan kepercayaan pengguna.
Sementara itu, UpScrolled menghadapi ujian untuk membuktikan bahwa janji kebebasan dan netralitasnya dapat dipertahankan seiring pertumbuhan pengguna yang semakin pesat.
Editor : Lugas Rumpakaadi