RadarBanyuwangi.id - Bisnis di seluruh dunia melaporkan gangguan IT luas pada Jumat (19/7), termasuk munculnya "layar biru kematian" di komputer Windows mereka.
Insiden ini dianggap sebagai salah satu gangguan IT terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan TechCrunch, gangguan ini terkait dengan pembaruan dari CrowdStrike, yang mempengaruhi berbagai sektor mulai dari bank, jaringan makanan, rumah pialang, hingga organisasi berita, jaringan kereta api, dan maskapai penerbangan.
Di Inggris, Bursa Saham London, bandara Edinburgh, dan Ryanair mengalami gangguan layanan.
Maskapai India seperti IndiGo, Akasa, dan SpiceJet juga melaporkan masalah pada sistem check-in mereka, menyebabkan kemungkinan penundaan penerbangan.
Gangguan serupa dilaporkan di bandara Hong Kong dan Delhi.
Penyiar berita Inggris, Sky News, mengalami kesulitan dalam siaran langsung, sementara New Zealand Herald melaporkan dampak pada layanan perbankan di negara tersebut.
Banyak pengguna mengeluhkan ketidakmampuan untuk memulai ulang komputer mereka.
Microsoft telah mengonfirmasi masalah pada aplikasi Microsoft 365 pada Kamis malam (18/7), namun gangguan ini tampaknya bukan hasil serangan siber.
Banyak pihak menuding CrowdStrike, dengan perusahaan energi Australia AGL menyalahkan pembaruan dari perusahaan tersebut secara langsung.
CrowdStrike mengakui laporan tentang henti operasi terkait pembaruan melalui posting di forum dukungan mereka, dan sedang menyelidiki penyebabnya.
Saham CrowdStrike turun lebih dari 14 persen dalam perdagangan pra-pasar pada hari Jumat.
Sementara itu, Microsoft dan CrowdStrike belum memberikan komentar resmi terkait insiden ini. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi