
RADAR BANYUWANGI - Tak perlu menunggu momentum peringatan HUT kemerdekaan. Kita harus membiasakan memekikkan kata ‘’Merdeka!’’
Sejak sekarang!
Rasa-rasanya, tidak ada alasan untuk malas melakukannya. Apalagi, menolaknya. Dengan dalih, misalnya, hanya buang-buang energi dan waktu. Oh, tidak. Apa susahnya sih mengucapkan hanya satu kata ‘’Merdeka!. Memekikkannya ‘’Merdeka! Merdeka! Merdeka!’’ pun tak akan sampai menguras energi. Lagian, hanya butuh waktu tak kurang dari tiga detik, bukan.
Kok terlalu berlebihan bila mengatakan tidak nasionalis bagi mereka yang malas memekikkan ‘’Merdeka!’’. Harus dicari tahu penyebab keengganannya. Buat apa repot-repot teriak ‘’Merdeka!’’. Sampai tiga kali lagi. Bukankah kita sudah merdeka. Boleh jadi seperti alasan mereka. ‘’Kalau saat perayaan HUT kemerdekaan OK-lah,’’ lanjutnya.
Bila memaknai ‘’Merdeka’’ sebatas kata, maka yang alasan seperti itu. Bahwa bagi sebagian orang, merdeka dimaknai sebagai momen terbebas dari penjajah(an). Itu tidak salah. Indonesia merdeka setelah tak lagi dijajah Belanda. Itu fakta. Logika membenarkan itu.
Tapi, memaknai kemederkaan tidak sesimpel itu. Bangsa ini baru bisa memekikkan ‘’Merdeka!’’ melalui perjuangan panjang. Korban jiwa dan harta para syuhada tak terhitung jumlahnya. Dan, kita meyakini pejuang anonim jaug lebih banyak daripada nama pejuang yang tercatat dalam buku sejarah. Pejuang tanpa nama itu tak sedikit yang berperang di garis depan. Merobek jantung pertahanan musuh. Mulai Jepang, Belanda, dan tentara Sekutu.
Pekik ‘’Merdeka’’ itu pekik kemuliaan. Bung Tomo menghargainya senilai kematian. Dengan pekik ‘’Merdeka atau Mati!’’ Bung Tomo membakar semangat perlawanan rakyat melawan musuh yang secara akal unggul segala-galanya, Mereka datang ke Surabaya dengan senjata-senjata modern.
Peristiwa heroism itu terjadi dalam pertempuran Surabaya. Tepatnya tanggal 10 November 1945. Bung Tomo mengobarkan semangat juang rakyat melalui gelombang radio: stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) di Surabaya, jaringan radio pribadi, dan jaringan radio pemberontak yang ia dirikan. Dalam sekejab, Suara Bung Tomo yang membahana. Masuk ke telinga rakyat. Lalu merasuk ke dalam sanubarinya. Membakar semangat juangnya. Apalagi, dalam pidatonya, Bung Tomo menyeru perlawanan total hingga titik darah penghabisan: ‘’Merdeka atau Mati!’’.
Sekadar diketahui, pertempuran 10 November 1945 dipicu kedatangan stentara Sekutu (INggris) dan NICA (Belanda). Arek-Arek Suroboyo bersama para santri dan kiai bertempur seperti Banteng Ketaton. Melakukan perlawanan demi mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan Ir Sukarno didampingi Mohammad Hatta empat bulan sebelumnya. Dwi tunggal Sukarno-Hatta membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945.
Bagi Arek-Arek Suroboyo dan para pejuang, kemerdekaan adalah harga mati. Meski hanya bersenjata bambu runcing, mereka tak gentar menghadapi tentara sekutu bersama Belanda—yang nota bene membawa mesin perang lebih modern dan canggih. Sebaliknya, dengan jiwa rawe-rawe rantas, malang-malang putung, pejuang kemerdekaan Indonesia membuat gentar musuh. Bahkan, komandan musuh, Brigadir Jenderal Mallaby mereka tewaskan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





