Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Red Bull Bantah Tiru Ferrari, Sayap Belakang Revolusioner RB22 F1 Ternyata Dikembangkan Sejak November Tahun Lalu

Lugas Rumpakaadi • Senin, 11 Mei 2026 | 19:15 WIB
Red Bull membantah meniru Ferrari soal rear wing revolusioner di Formula 1 Miami GP. (F1)
Red Bull membantah meniru Ferrari soal rear wing revolusioner di Formula 1 Miami GP. (F1)

RADARBANYUWANGI.ID - Inovasi baru pada sektor aerodinamika kembali memanaskan persaingan Formula 1 musim ini. Setelah Ferrari lebih dulu mencuri perhatian lewat desain rear wing berputar saat pengujian pramusim Februari lalu, Red Bull akhirnya memperkenalkan teknologi serupa pada Grand Prix Miami.

Kemunculan dua desain sayap belakang revolusioner dalam balapan yang sama memunculkan dugaan bahwa Red Bull meniru konsep milik Ferrari. Namun, tim asal Austria itu menegaskan pengembangan dilakukan secara independen bahkan jauh sebelum Ferrari memamerkan desainnya ke publik.

Ferrari sebelumnya menjadi sorotan setelah menghadirkan rear wing unik yang tidak sekadar membuka celah drag reduction system (DRS), melainkan memutar penuh bagian atas sayap untuk menciptakan bukaan lebih besar dan mengurangi hambatan udara secara maksimal.

Baca Juga: Kejurkab Taekwondo Banyuwangi 2026 Diikuti 301 Atlet, Pembinaan Dinilai Makin Berkualitas

Desain tersebut sempat dijuluki “Macarena” hingga “flip-flop wing” karena gerakannya yang mencolok. Namun, teknologi itu belum langsung digunakan dalam balapan karena Ferrari mengalami kendala teknis, terutama terkait regulasi FIA yang mewajibkan mekanisme berpindah posisi dalam waktu maksimal 0,4 detik.

Lewis Hamilton bahkan sempat mengalami masalah saat sesi latihan karena mekanisme sayap belakang Ferrari dinilai terlalu lambat kembali ke posisi semula ketika pengereman.

Ferrari akhirnya baru benar-benar menggunakan perangkat tersebut pada GP Miami setelah serangkaian pengujian tambahan di Monza dan evaluasi selama jeda balapan April lalu.

Baca Juga: Viral Razia Dishub Palembang Diduga Picu Kecelakaan Beruntun, Lima PPPK Terancam Dipecat

Menariknya, Red Bull ternyata mengembangkan konsep serupa secara tertutup dalam periode yang hampir bersamaan. Tim itu sempat terlihat menguji sistem tersebut saat filming day di Silverstone sebelum akhirnya diperkenalkan resmi di Miami.

Meski sama-sama mengusung konsep rear wing berputar, pendekatan kedua tim berbeda. Ferrari menggunakan mekanisme putaran dari depan ke belakang, sedangkan Red Bull membuat sayap bergerak dari belakang ke atas sehingga menghasilkan bukaan lebih besar dengan gerakan yang lebih sederhana.

Team Principal Red Bull, Laurent Mekies, menegaskan konsep tersebut bukan hasil meniru rivalnya.

“Sebanyak apa pun orang mungkin tidak percaya, saya harus mengatakan dengan adil kepada para insinyur kami bahwa mereka sudah menemukan konsep itu jauh sebelum kami turun ke lintasan dan melihat apa yang dilakukan tim lain,” ujarnya, dikutip The Race.

Menurut laporan internal paddock Formula 1, Red Bull mulai mengembangkan sistem tersebut sejak November tahun lalu setelah berdiskusi dengan FIA mengenai regulasi movable rear wing untuk musim 2026.

Aturan baru Formula 1 memang memberi ruang interpretasi lebih luas. Jika regulasi lama hanya mengatur ukuran bukaan DRS secara spesifik, aturan baru lebih menitikberatkan pada posisi terbuka dan tertutup tanpa membatasi bagaimana mekanisme itu bekerja.

Celah regulasi inilah yang dimanfaatkan Ferrari dan Red Bull untuk menciptakan desain inovatif masing-masing.

Baca Juga: Tiket Piala Asia 2027 Resmi Dijual, Harga Dibanderol Mulai Rp 130 Ribuan

Red Bull sebenarnya menargetkan penggunaan sistem itu sejak tes pramusim dan GP Jepang di Suzuka. Namun, masalah reliabilitas membuat debutnya tertunda. Tim juga harus memprioritaskan penyelesaian sejumlah persoalan lain pada mobil RB22 sejak sesi shakedown di Barcelona.

Risiko besar tetap diambil Red Bull saat memperkenalkan teknologi tersebut di Miami bersamaan dengan paket upgrade besar-besaran pada lantai mobil, sidepod, dan bodywork bagian atas.

Keputusan itu terbukti tepat. Mobil Red Bull langsung tampil kompetitif dan kembali masuk dalam perebutan pole position serta podium bersama Max Verstappen.

Baca Juga: Tradisi Bersih Desa Wringinrejo Tetap Lestari, Khotmil Qur’an hingga Wayang Kulit Digelar Sehari Semalam

Bahkan, efektivitas desain Red Bull dinilai lebih baik dibanding Ferrari dalam mengurangi drag saat mobil melaju di lintasan lurus.

Sebaliknya, Ferrari justru masih mengeluhkan kekurangan kecepatan di trek lurus meski sudah menggunakan rear wing baru tersebut.

Hamilton mengungkapkan Ferrari kehilangan sekitar tiga hingga empat persepuluh detik hanya pada sektor straight line speed.

“Kami akan menuju trek lain dengan lintasan lurus panjang dan kami kehilangan tiga hingga empat persepuluh detik hanya dari kecepatan di lintasan lurus,” kata Lewis Hamilton.

“Kami perlu melihat apakah bisa mengurangi drag sebelum balapan berikutnya karena di lintasan lurus kami masih mengalami defisit,” imbuhnya.

GP Kanada selanjutnya diperkirakan kembali menjadi ajang pembuktian efektivitas teknologi rear wing revolusioner tersebut. Persaingan inovasi antara Ferrari dan Red Bull pun diprediksi semakin menarik dalam perebutan performa terbaik di era regulasi baru Formula 1.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Rear Wing F1 #GP Miami 2026 #formula 1 #red bull racing #Ferrari F1