F1 Hadapi Kritik Regulasi Baru 2026, FIA Tegaskan Situasi Masih Terkendali dan Perlu Penyesuaian Bertahap

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 9 April 2026 | 10:57 WIB
F1 menghadapi awal musim penuh gejolak akibat regulasi baru 2026. (F1)
F1 menghadapi awal musim penuh gejolak akibat regulasi baru 2026. (F1)

RADARBANYUWANGI.ID - Awal musim terbaru Formula 1 berlangsung penuh dinamika seiring penerapan regulasi baru yang mulai berlaku menjelang era 2026. Sejumlah pebalap menyuarakan ketidakpuasan, sementara isu keselamatan kembali menjadi sorotan setelah insiden besar di Grand Prix Jepang.

Di tengah situasi tersebut, Direktur Single-Seater FIA, Nikolas Tombazis, menilai bahwa reaksi yang muncul cenderung berlebihan. Ia menegaskan bahwa regulasi yang ada tidak memerlukan perubahan besar, melainkan penyempurnaan bertahap.

“Ini bukan seperti kita sedang membahas penulisan ulang total. Kami percaya pasiennya tidak berada di ruang intensif; pasien hanya perlu makan beberapa apel setiap hari, bukan operasi jantung terbuka,” ujar Tombazis, dikutip The Guardian.

Menurutnya, terdapat beberapa aspek yang memang perlu diperbaiki, khususnya terkait kemudahan mengemudi dan keselamatan. Namun, ia menolak anggapan bahwa situasi saat ini berada dalam kondisi krisis.

“Ada hal-hal dari sisi drivability dan keselamatan yang perlu kami tangani. Saya tidak ingin mengatakan semuanya baik-baik saja, tapi juga tidak benar jika disebut kacau,” katanya.

Regulasi baru yang meningkatkan penggunaan energi listrik dalam mobil F1 menuntut pebalap untuk lebih cermat dalam mengelola distribusi dan pengisian ulang energi sepanjang lap. Hal ini memunculkan perbedaan pendapat di antara pebalap.

Pebalap seperti George Russell dan Lewis Hamilton cenderung menerima sistem tersebut, terutama karena tim mereka berada di posisi kompetitif. Sebaliknya, kritik tajam datang dari sejumlah pebalap lain.

Juara dunia Lando Norris menyatakan ketidakpuasannya terhadap sistem manajemen energi yang dianggap membuat pebalap terlalu bergantung pada strategi teknis. Sementara itu, Max Verstappen bahkan dikabarkan mempertimbangkan masa depannya di olahraga tersebut akibat kekecewaan terhadap arah regulasi.

Tombazis memahami bahwa kritik merupakan bagian tak terpisahkan dari peran regulator.

“Saya tidak tahu apakah pernah ada kepala sekolah atau wasit yang selalu mendapat pujian. Biasanya mereka justru dikritik, dan kami cukup besar untuk memahami hal itu,” ujarnya.

Isu keselamatan menjadi perhatian utama setelah kecelakaan hebat yang dialami Oliver Bearman di Suzuka dengan kecepatan mencapai 190 mph. Insiden tersebut terjadi akibat perbedaan kecepatan signifikan antarmobil, yang sebelumnya telah diidentifikasi sebagai risiko.

Tombazis mengakui bahwa kecelakaan tersebut menjadi pengingat serius, namun ia menekankan pentingnya analisis mendalam sebelum mengambil langkah perubahan.

“Setiap kecelakaan berkecepatan tinggi selalu mengejutkan. Risiko perbedaan kecepatan memang sudah diketahui, tetapi tidak mudah untuk langsung mengambil tindakan tanpa analisis parameter yang cukup,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan yang terburu-buru justru dapat menimbulkan masalah baru.

“Jika kita bertindak terlalu cepat, risikonya adalah memperburuk situasi atau menciptakan masalah lain. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama,” tambahnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : The Guardian
regulasi formula 1 kritik fia f1