Pernyataan Infantino muncul setelah penyerang Real Madrid, Vinícius Junior, mengaku menerima pelecehan rasial dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni, pada leg pertama playoff Liga Champions.
Dalam insiden yang dipermasalahkan, Prestianni terlihat menutup mulutnya saat berinteraksi dengan Vinícius.
Badan sepak bola Eropa, UEFA, telah membuka investigasi atas tudingan tersebut. Prestianni diskors untuk leg kedua dan terancam sanksi hingga 10 pertandingan apabila terbukti bersalah.
“Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu yang berdampak rasis, maka jelas ia harus dikeluarkan,” ujar Infantino.
“Harus ada praduga bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya diucapkan. Jika tidak, mengapa harus menutup mulut?”
Infantino mengakui bahwa kasus seperti ini belum sepenuhnya diantisipasi dalam regulasi sebelumnya. Meski proses disipliner tetap membutuhkan analisis dan bukti yang memadai, ia menegaskan bahwa otoritas sepak bola tidak boleh sekadar puas dengan pendekatan lama.
IFAB Siapkan Aturan Baru Jelang Piala Dunia 2026
FIFA mengumumkan rencana untuk memperkenalkan langkah pencegahan agar pemain tidak lagi menutup mulut saat konfrontasi di lapangan. Wacana tersebut dibahas dalam pertemuan International Football Association Board (IFAB), badan pembuat aturan sepak bola dunia.
Chief Executive FA Inggris sekaligus anggota IFAB, Mark Bullingham, menyatakan bahwa hampir tidak ada alasan sah bagi pemain untuk menutup mulut saat berbicara kepada lawan dalam situasi panas.
Langkah konkret berpeluang disepakati dalam waktu dekat dan bisa diterapkan pada Piala Dunia FIFA 2026. Agenda penting berikutnya adalah Kongres FIFA yang akan digelar di Vancouver bulan depan.
Dorongan untuk Budaya Tanggung Jawab dan Permintaan Maaf
Selain pengetatan sanksi, Infantino juga mendorong perubahan budaya di sepak bola. Ia membuka kemungkinan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga memberi ruang bagi pelaku untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf secara terbuka.
Menurutnya, dalam situasi emosi memuncak, seseorang bisa saja melakukan tindakan yang disesali kemudian. Jika disertai pengakuan dan permintaan maaf tulus, bentuk sanksi dapat dipertimbangkan secara berbeda.
“Ini adalah langkah yang harus kita ambil jika kita benar-benar serius memerangi rasisme,” tegas Infantino.
Dengan wacana aturan baru ini, FIFA dan IFAB berupaya mempertegas komitmen global melawan rasisme di sepak bola. Jika disahkan, kebijakan tersebut berpotensi mengubah cara wasit menangani konfrontasi di lapangan, terutama ketika ada indikasi ujaran diskriminatif yang coba disembunyikan. (*)
Editor : Niklaas Andries