RADARBANYUWANGI.ID - Kejuaraan Daerah (Kejurda) Banyuwangi Open Race STB Up Class 2026 yang digelar di GOR Tawang Alun, Banyuwangi, Sabtu (7/2), berlangsung semarak.
Ajang balap Mini 4WD ini tak hanya menyedot perhatian pehobi Tamiya, tetapi juga memperlihatkan warna lintas generasi dalam satu lintasan.
Peserta yang turun berlomba datang dari berbagai latar usia. Mulai pelajar sekolah menengah hingga peserta berusia hampir 50 tahun, semuanya beradu strategi, ketelitian, dan kecermatan dalam mengatur setelan mobil Mini 4WD.
Lomba ini menuntut keseimbangan antara teknik, kecepatan, dan konsistensi agar mobil mampu bertahan hingga garis finis.
Ketua Panitia Banyuwangi Open Race STB Up Class 2026, Albert Wijaya, mengatakan panitia telah menyiapkan dua trek Tamiya dengan spesifikasi yang sama.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjamin keadilan dan kualitas perlombaan bagi seluruh peserta.
“Kami menyiapkan dua trek dengan spesifikasi yang sama agar perlombaan berjalan adil dan kompetitif,” ujar Albert.
Meski dikenal sebagai hobi yang membutuhkan biaya tidak sedikit, Albert menilai balap Mini 4WD tetap diminati berbagai kalangan.
Bahkan, olahraga berbasis hobi ini kini mulai diproyeksikan masuk dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028, tentu dengan sejumlah penyesuaian regulasi.
“Mini 4WD ini ke depan diproyeksikan bisa masuk PON 2028. Tentu akan ada penyesuaian aturan agar lebih kompetitif dan terstandar,” jelasnya.
Di lintasan, peserta tidak hanya dituntut mengejar kecepatan. Mereka juga harus memperhatikan batas waktu atau time limit yang telah ditetapkan panitia.
Setelan yang terlalu agresif justru berisiko membuat mobil keluar lintasan atau gagal finis.
Raka, peserta asal Yogyakarta, menjelaskan bahwa pengaturan mesin dan ukuran ban menjadi kunci agar mobil Mini 4WD dapat melaju stabil hingga akhir lomba.
“Kalau terlalu kencang, Tamiya bisa keluar lintasan. Jadi pelan boleh asal sampai finis, kencang juga boleh asal tidak melebihi limit,” ujar pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Ia menyebutkan, satu unit Tamiya rakitan dapat dibuat dengan biaya sekitar Rp 350 ribu.
Biaya tersebut terdiri dari kit sekitar Rp 180 ribu dan ban sekitar Rp 50 ribu per pasang, belum termasuk baterai yang harganya bervariasi.
Namun menurutnya, tantangan utama justru terletak pada proses perakitan.
“Tamiya ini kendaraan rakitan dari sasis sampai jadi satu unit siap balap. Untuk regulasi STB harus original dan standar, hanya beberapa part yang boleh disesuaikan,” jelasnya.
Raka mengaku mulai menyukai Tamiya sejak 2017, ketika mengerjakan skripsi di UGM yang berkaitan dengan Mini 4WD. Sejak saat itu, ia semakin serius menekuni hobi tersebut.
“Hobi ini berawal waktu saya mengerjakan skripsi yang berhubungan dengan Tamiya. Dari situ jadi tertarik dan terus mendalami,” ungkapnya.
Peserta asal Banyuwangi, Hermanto, 49, menegaskan bahwa lomba Tamiya membutuhkan perhitungan matang, bukan sekadar mengandalkan kecepatan.
Banyak faktor teknis yang menentukan hasil lomba, mulai dari voltase baterai hingga setelan roda.
“Tidak bisa asal cepat. Voltase baterai, roller, sampai ban harus pas supaya Tamiya bisa stabil dan tetap cepat di lintasan,” katanya.
Menurut Hermanto, meski membeli Tamiya siap pakai dengan harga Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu per kit memungkinkan, merakit sendiri justru memiliki nilai seni tersendiri sekaligus lebih ekonomis.
“Seninya main Tamiya itu merakit sendiri, lalu kita olah supaya maksimal di lintasan,” ujarnya.
Hermanto yang telah menekuni hobi ini sejak 2022 mengakui, balap Tamiya memang memerlukan biaya tidak sedikit, terutama untuk suku cadang tambahan dengan harga yang bervariasi tergantung merek.
Nuansa lintas generasi semakin terasa dengan keikutsertaan ayah dan anak dari tim Wisanggeni Probolinggo.
Salah satu anggotanya, Deka, 40, mengatakan lomba Tamiya juga menjadi sarana rekreasi keluarga.
“Di sini saya ajak anak dan istri, jadi sekalian rekreasi keluarga sambil lomba Tamiya,” ujar pria yang bekerja di Bank Jatim Probolinggo tersebut.
Dalam satu kali lomba, Deka memperkirakan biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 600 ribuan, belum termasuk peralatan modifikasi yang telah dimiliki sebelumnya.
Ia mengaku menyukai Tamiya sejak kecil dan kembali menekuni hobi tersebut sejak 2019, setelah memiliki kemampuan membeli perlengkapan sendiri.
“Hobi Tamiya dari kecil, tapi baru serius lagi setelah bisa beli sendiri. Anak saya juga suka, jadi sering ikut lomba bareng,” tuturnya.
Anak Deka, Sadan, 15, yang masih duduk di bangku kelas X SMA, turut ambil bagian dalam kejuaraan ini.
Ia mengaku mulai menyukai Tamiya sejak SMP setelah diperkenalkan oleh gurunya yang juga pehobi Mini 4WD.
“Kesulitannya menyesuaikan Tamiya supaya bisa cepat tapi tetap stabil di trek. Kalau lomba ini rakitannya standar, yang dimodifikasi hanya beberapa part seperti dinamonya,” pungkas Sadan. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin