Pernyataan ini muncul menyusul aksi yang dianggap sebagai bentuk pembangkangan dari dua pemain muda akademi, Chido Obi dan Harry Amass, di media sosial.
Kedua pemain tersebut mengunggah gambar bernada provokatif setelah Amorim mempertanyakan kesiapan lulusan akademi United untuk tampil di tim utama. Ketika dimintai tanggapan dalam konferensi pers pada Jumat, Amorim tak ragu mengungkapkan kegelisahannya.
“Saya pikir ini adalah perasaan merasa berhak yang ada di klub kami,” ujar Amorim.
“Terkadang kata-kata keras bukanlah kata-kata yang buruk. Momen sulit juga tidak selalu buruk bagi para pemain muda.”
Amorim: Terlalu Banyak Pujian Justru Tidak Membantu
Pelatih asal Portugal itu menilai bahwa budaya memanjakan pemain justru merugikan perkembangan klub.
“Kami tidak perlu selalu memberi pujian dalam setiap situasi,” lanjutnya.
“Kami justru tidak membantu, itulah mengapa media sering membicarakan banyak pemain yang kini berani berbicara dan melawan klub karena mereka merasa berhak.”
Amorim mengakui bahwa secara performa di lapangan dirinya juga bertanggung jawab atas hasil yang belum maksimal. Namun, ia menegaskan bahwa di luar lapangan, komitmennya terhadap klub tidak perlu diragukan.
“Kadang saya yang pertama mengatakan bahwa saya gagal membawa klub ini tampil seperti seharusnya di lapangan,” katanya.
“Tetapi di luar lapangan, saya jamin saya tidak gagal. Masalahnya ada pada budaya klub ini. Para pemain terkadang lupa apa arti bermain untuk Manchester United.”
Pintu Terbuka, Dialog Minim
Amorim juga menyayangkan minimnya komunikasi langsung dari para pemain.
“Pintu ruang kerja saya selalu terbuka. Tidak ada yang datang untuk berbicara dengan saya, padahal itulah cara menyelesaikan masalah,” tegasnya.
“Saya merasa kami perlu berubah sebagai sebuah klub.”
Kasus Kaos “Free Kobbie Mainoo”
Selain menanggapi isu Chido dan Amass, Amorim juga dimintai komentar terkait insiden Jordan Mainoo-Hames, kakak dari Kobbie Mainoo, yang mengenakan kaus bertuliskan ‘Free Kobbie Mainoo’ di Old Trafford jelang laga imbang 4-4 melawan Bournemouth.
Pesan tersebut merujuk pada minimnya waktu bermain Kobbie di bawah asuhan Amorim musim ini. Amorim menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak melibatkan sang pemain secara langsung.
“Itu bukan Kobbie yang mengenakan kaus tersebut,” jelasnya.
“Dia tidak akan dimainkan atau dicadangkan karena sebuah kaus. Dia akan bermain jika memang layak bermain.”
Pelatih MU itu juga menegaskan tidak akan menghukum Kobbie atas tindakan anggota keluarganya.
Pesan Tegas untuk Kobbie Mainoo
Menanggapi komentar sejumlah legenda klub, termasuk Paul Scholes, yang menyarankan Mainoo hengkang jika jarang bermain, Amorim justru memberi pesan sebaliknya.
“Kami punya legenda klub yang mengatakan, ‘jika kamu tidak bermain, pergi saja’,” ujarnya.
“Tidak. Tetaplah di sini, berjuang, bertahan, dan atasi semuanya.”
Pernyataan Amorim ini menegaskan bahwa selain membenahi performa di lapangan, Manchester United juga dihadapkan pada tantangan besar untuk memulihkan budaya, disiplin, dan pemahaman tentang identitas klub di tengah tekanan era modern sepak bola. (*)
Editor : Niklaas Andries