Kebijakan baru tersebut diterapkan untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatan pemain, terutama karena turnamen musim panas mendatang diperkirakan berlangsung dalam suhu tinggi di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Jeda hidrasi akan diberikan secara otomatis pada menit ke-22 di setiap babak, sehingga praktis mengubah ritme permainan menjadi empat kuarter. Kebijakan ini berlaku tanpa memandang kondisi cuaca, baik pertandingan digelar dalam suhu ekstrem maupun tidak.
Keputusan tersebut ditetapkan setelah melalui konsultasi dengan para pelatih dan pihak penyiar pertandingan.
FIFA menjelaskan bahwa aturan ini merupakan versi yang lebih sederhana dari jeda minum yang sebelumnya digunakan dalam sejumlah turnamen, termasuk FIFA Club World Cup 2025. Pada ajang tersebut, jeda minum hanya dilakukan ketika pertandingan berlangsung dalam cuaca panas ekstrem.
Beberapa laga di turnamen itu bahkan mencatat suhu lebih dari 100 derajat Fahrenheit (38 derajat Celsius).
Penyerang Benfica, Andreas Schjelderup, mengaku sempat kewalahan saat bertanding melawan Bayern Munich dalam kondisi cuaca seperti itu.
"Saya tidak yakin pernah bermain dalam panas seperti itu. Jujur saja, saya rasa itu tidak sehat, tetapi saya mencoba bertahan," ujarnya.
Gelandang Chelsea, Enzo Fernández, juga membagikan pengalamannya.
"Belum lama ini saya sempat merasa pusing saat pertandingan. Saya akhirnya harus berbaring karena benar-benar merasa tidak enak badan. Bermain dalam suhu seperti ini sangat berbahaya," ungkapnya.
Sementara itu, jadwal lengkap Piala Dunia 2026 telah resmi diumumkan pada Sabtu lalu. (*)
Editor : Niklaas Andries