Sunderland, sebaliknya, dianggap sukses besar. Tim yang diprediksi akan terdegradasi itu kini duduk di peringkat keempat dan hampir pasti bertahan di kasta tertinggi.
Namun, Chelsea bukan tim biasa. Mereka kini berada di posisi ketiga klasemen Premier League, di bawah Arsenal dan Manchester City. Tapi posisi itu tak bisa dibaca hitam putih.
Banyak faktor yang membuat penilaian terhadap performa The Blues jadi kompleks, mulai dari rotasi pemain, cedera, performa di Liga Champions, hingga keputusan wasit yang kerap berpengaruh besar.
Statistik Positif, Tapi Tak Semudah Itu
Melalui 11 pertandingan, tim asuhan Enzo Maresca menunjukkan peningkatan performa dibanding musim lalu. Berdasarkan perhitungan adjusted goal differential (gabungan 70% expected goals dan 30% gol aktual), Chelsea naik dari +0,56 menjadi +0,72.
Secara mengejutkan, gaya bermain mereka tetap stabil dibanding musim lalu, meski Premier League secara keseluruhan mengalami perubahan signifikan, ebih banyak pelanggaran, lebih sedikit penguasaan bola di sepertiga akhir, dan berkurangnya akurasi umpan di semua tim.
Musim lalu, rata-rata pertandingan Chelsea mencatat 79,8 possession per tim, musim ini naik sedikit menjadi 80,1. Mereka memindahkan bola dengan kecepatan yang hampir sama, dan kualitas peluang yang mereka ciptakan meningkat, meski jumlah tembakan berkurang. Perubahan kecil tapi efektif.
Maresca dan Rotasi Gila: 25 Pemain Sudah Bermain
Maresca masih diragukan oleh sebagian penggemar, terutama karena gaya komunikasinya yang keras terhadap pemain. Namun, satu hal jelas ia punya kemampuan menerapkan sistem taktis yang disiplin.
Dalam 16 pertandingan di semua ajang, Maresca telah melakukan 85 perubahan dalam susunan pemain awal, terbanyak di Premier League.
Sebanyak 25 pemain sudah bermain minimal 45 menit musim ini. Meskipun rotasi ekstrem, gaya main Chelsea tetap konsisten, sesuatu yang jarang terlihat di tim dengan pergantian skuad sebesar itu.
Rata-Rata Usia 24,5 Tahun: Masa Emas Mulai Tiba
Musim lalu, Chelsea adalah tim termuda di Premier League dengan rata-rata usia 23,7 tahun (berdasarkan menit bermain). Musim ini, angka itu naik menjadi 24,5, menunjukkan bahwa banyak pemain mereka mulai memasuki usia puncak performa.
Namun, peningkatan kualitas belum sebanding dengan potensi usia tersebut. Lonjakan goal differential yang kecil mengindikasikan masih ada ruang besar untuk berkembang.
Masalah Cedera dan Kartu Merah: Musim yang Tidak Stabil
Chelsea memuncaki daftar kartu merah dengan tiga kali pengusiran pemain musim ini, dua di antaranya terjadi di awal laga. Robert Sanchez diusir hanya empat menit setelah kick-off melawan Manchester United, sementara Trevoh Chalobah mendapat kartu merah saat Chelsea unggul 1-0 atas Brighton dan akhirnya kalah 1-3.
Selain itu, Cole Palmer, pemain terbaik mereka musim lalu dengan kontribusi 11,28 expected goals added, baru bermain 145 menit musim ini. Dengan kondisi seperti ini, peningkatan performa Chelsea justru terlihat lebih impresif.
Statistik Buruk Saat Bermain dengan 10 Pemain
Ketika bermain dengan 10 pemain, Chelsea belum mencetak gol dan sudah kebobolan lima kali. Rata-rata goal differential mereka dalam situasi ini adalah -1,28 per laga, lebih buruk dari tim juru kunci seperti Burnley.
Meski begitu, tidak ada bukti kuat bahwa kartu merah akan terus menghantui mereka. Jika Palmer kembali dan tim bisa bermain dengan 11 orang secara konsisten, Chelsea berpotensi menjadi pesaing serius gelar juara.
Performa di Liga Champions: Efektif Tapi Belum Meyakinkan
Dari empat laga fase grup Liga Champions, Chelsea menciptakan 6,33 expected goals dan kebobolan 5,95, menghasilkan selisih 0,38, peringkat ke-16 dari 36 peserta. Mereka sudah mengumpulkan 12 poin, hasil maksimal dari peluang yang mereka ciptakan.
Namun, performa mereka belum sebaik wakil Inggris lainnya. Hasil di markas Bayern Munich dan Qarabag (Azerbaijan) menunjukkan masih ada kesenjangan konsistensi, terutama di laga tandang.
Jadwal Berat di Depan: Ujian Sejati Maresca
Dari empat tim Premier League yang masuk 10 besar klub terbaik Eropa versi Pitch Rank, Chelsea baru menghadapi satu, Liverpool.
Di sisa 27 pertandingan, mereka masih harus dua kali melawan Arsenal, Manchester City, dan Newcastle United. Dengan jadwal seberat itu, posisi mereka di papan atas akan benar-benar diuji.
Rata-Rata 1,8 Poin Per Laga: Konsisten Tapi Stagnan
Baca Juga: Rismon Sianipar Siap Hadapi Polisi, Bawa Bukti Forensik Digital di Kasus Ijazah Palsu Jokowi
Rata-rata poin Chelsea musim ini adalah 1,8 per pertandingan, identik dengan musim lalu. Jika ritme ini bertahan, mereka akan finis dengan 69 poin, sama seperti musim 2024-2025.
Padahal, di bawah kepemilikan baru, The Blues telah membangun skuad bertalenta luar biasa. Moisés Caicedo tampil dominan di lini tengah, sementara pemain muda seperti Estevao menunjukkan potensi luar biasa.
Klub juga memiliki Strasbourg di Ligue 1 sebagai “tim satelit,” tempat beberapa talenta muda mereka berkembang. Namun, pertanyaannya tetap sama, apakah tujuan Chelsea adalah meraih trofi, atau sekadar membangun portofolio pemain mahal?
Sukses atau Sekadar Stabil?
Chelsea memang berada di papan atas klasemen dan terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa aspek permainan. Tapi di balik angka-angka itu, masih ada tanda tanya besar tentang arah klub ini.
Apakah The Blues sedang membangun dinasti baru di bawah Enzo Maresca? Atau mereka hanya sekadar mempertahankan status tanpa arah jelas di tengah ambisi besar sang pemilik baru?
Waktu akan menjawab, tapi untuk saat ini, Chelsea masih berada di zona abu-abu antara sukses dan sekadar bertahan hidup. (*)
Editor : Niklaas Andries