Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hebat! Usia 69 Tahun Dwi Soetjipto Taklukkan Tanjakan Ekstrem Ijen KOM Banyuwangi 2025

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Senin, 29 September 2025 | 12:50 WIB
Mantan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto Ikut Balapan Banyuwangi Blue Fire Ijen KOM.
Mantan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto Ikut Balapan Banyuwangi Blue Fire Ijen KOM.

RADARBANYUWANGI.ID - Dwi Soetjipto, cyclist asal Bogor ikut sebagai  peserta event MainSepeda Trilogy Banyuwangi Blue Fire Ijen KOM 2025 pada Sabtu (27/9).

Meski usianya sudah nyaris tiga perempat abad, yakni 69 tahun, mantan Kepala SKK Migas itu mampu menaklukkan tanjakan super ekstrem Erek-Erek.

Event bersepeda bukan monopoli kalangan muda. Hal itu dibuktikan oleh Dwi Soetjipto. Di usia yang sudah mencapai 69 tahun, dia turut serta dalam ajang Blue Fire Ijen Banyuwangi KOM 2025.

Menariknya, event ini menempuh rute yang sangat menantang di kawasan lereng Gunung Ijen, tepatnya di tanjakan super ekstrem Erek-Erek.

Bagi Dwi, awalnya sepeda hanyalah kendaraan sederhana yang dia manfaatkan untuk berangkat ke kantor. Sepeda pancal itu pula yang kemudian mendekatkan dirinya dengan para karyawan.

Dari rutinitas keseharian itulah lahir kebiasaan baru, yakni bersepeda bersama. Aktivitas bersepeda tak lagi sekadar olahraga, tetapi juga ruang berbagi, menyalurkan bantuan sosial, sekaligus menjelajah berbagai tempat.

“Sebelumnya ya saya pakai ke kantor. Dulunya saya pakai untuk menyatu dengan rekan-rekan dan karyawan,” ujar mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tersebut sembari mengenang masa lalu.

Lelaki kelahiran 1956 ini kian larut dalam dunia bersepeda. Tahun 2005, ia sempat menantang diri menaklukkan jalur ekstrem Bukit Kapur Gresik dengan sepeda gunung.

Namun, sejak 2020, ia jatuh hati pada road bike yang menawarkan kecepatan dan kenyamanan berbeda.

Kecintaan itu membawanya ke berbagai event bergengsi. Ia pernah menjajal Gran Fondo New York (GFNY) di Bali pada Februari 2025 dan yang terbaru dia mengikuti ajang dengan tantangan lebih besar, MainSepeda Trilogy, rangkaian event nanjak paling bergengsi di Jawa Timur.

Bagi Dwi, event bersepeda trilogy ini membuatnya betah lantaran penyelenggaraannya yang dia nilai rapi dan terkoordinasi. 

Trilogy tersebut terdiri dari tiga seri: Bromo KOM, Kediri Dholo KOM, dan Banyuwangi Blue Fire Ijen KOM.

“Yang trilogi baru ikut tahun ini. Sebelumnya masih sibuk. Saya pilih ikut karena penyelenggaraannya rapi dan terkoordinasi,” katanya.

Ijen Suguhkan Lintasan Terberat

Dwi mengaku bahwa tanjakan Ijen di Banyuwangi menjadi lintasan terberat dari ketiga trilogy tersebut.

“Di Dholo ada tanjakan gigi satu dengan gradien 24 persen, itu sudah terkenal ekstrem. Tapi di Ijen ada jalur Erek-erek dengan gradien 34 persen. Banyak pembalap dunia saja kesulitan,” katanya.

Tak heran, ia pun berlatih jauh-jauh hari di kota tempat tinggalnya, Bogor. Ia berlatih dengan rute-rute tanjakan yang mirip dengan Ijen seperti di Kebo, Cipanas, Pancar, hingga kawasan puncak untuk membiasakan ritme dengan jalur Ijen.

Baginya, bersepeda bukan sekadar olahraga fisik, tetapi juga melatih pikiran untuk kuat dan melampaui batas. “Sesungguhnya badan kita digerakkan oleh pikiran. Karena itu saya beri nama grup saya MOBCC, singkatan dari Mind Over Body Cycling Club. Kalau pikiran kuat, tubuh akan mengikuti,” ujarnya.

Meski sudah terbiasa bersepeda, Dwi mengaku ada satu kendala yang lebih berat dibanding tanjakan ekstrem, yaitu bangun pagi.

“Bersaing dengan usia muda itu hal yang biasa, tetapi yang lebih berat itu bangun jam lima pagi untuk latihan. Biasanya saya sampai minta tolong teman nyamperin supaya bisa bangun,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Jangan Lupa Berdoa Sebelum Gowes

Di usia 69 tahun, Dwi membuktikan konsistensi. Tiga kali dalam sepekan ia melahap rute dalam kota dengan jarak 60 kilometer (km).

Setiap Minggu, gilirannya menjajal tanjakan dengan target 1.000 meter elevation gain atau 1.500 meter jika ada event.

Sepeda berbahan karbon dan titanium buatan Melbourne, Australia, menemaninya menjajal jalur panjang, termasuk ke destinasi eksotis Djawatan di Banyuwangi.

Baginya, bersepeda memberi manfaat nyata: otot kaki lebih kuat, punggung terlatih, bahkan membantu proses pemulihan anaknya yang sempat sakit punggung.

“Selain olahraga, bersepeda itu juga jadi sarana berbagi manfaat. Saya ingin orang lain merasakan hal yang sama. Karena itu saya selalu bilang, jangan lupa berdoa sungguh-sungguh sebelum gowes,” pesannya.

Jerih payah Dwi ikut Banyuwangi Blue Fire Ijen KOM 2025 berbuah manis. Meski cukup berat menaklukkan tanjakan Erek-Erek, dia berhasil finish dengan catatan waktu 5 jam 40 menit, setengah jam sebelum cut of time (COT).

“Jalur Ijen ini memang paling berat sepengalaman saya bersepeda. Bersyukur sekali saya bisa finis. Dengan hasil ini dan tantangan sebelumnya, saya puas bisa menamatkan seluruh seri Mainsepeda Trilogy. Tiga medali berhasil saya kumpulkan. Bersyukur sekali rasanya,” ujar pria yang pernah masuk jajaran 110 pesepeda tercepat dunia di event internasional Gran Fondo New York (GFNY) Bali tersebut.

Baginya, tantangan sesungguhnya bukan hanya di lintasan menanjak, melainkan di dalam diri sendiri.

Bagi Dwi, bersepeda bukan sekadar olahraga, tapi caranya menulis ulang hidup supaya semakin berwarna. (Dalila Adinda/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Bluefire Ijen #skk migas #Ijen KOM Banyuwangi