Kasus ini menambah daftar panjang negara yang pernah tersandung skandal serupa, mulai dari Timor Leste, Bolivia, hingga Guinea Khatulistiwa.
1. Timor Leste: Skandal 9 Pemain Brasil (2015)
Baca Juga: Simulasi Kenaikan Gaji Prada, Serda, dan Letda TNI 2025, Cek Besarannya Sesuai Pangkat!
Pada 2015, Timor Leste kedapatan memalsukan dokumen sembilan pemain asal Brasil demi memperkuat timnas. FIFA dan AFC langsung menghukum keras:
Didiskualifikasi dari Kualifikasi Piala Asia 2023
29 laga resmi AFC dinyatakan kalah WO (0-3)
Denda sebesar USD 20 ribu.
Skandal ini membuat reputasi sepak bola Timor Leste jatuh bebas di mata dunia.
2. Bolivia: Kasus Nelson Cabrera (2016)
Bolivia nekat memainkan Nelson Cabrera, pemain kelahiran Paraguay, pada kualifikasi Piala Dunia 2018. Padahal ia tidak memenuhi syarat naturalisasi menurut regulasi FIFA.
Akibatnya, dua laga yang dimainkan Cabrera di-forfeit 0-3. Dampaknya bahkan merembet ke klasemen, dengan Chile dan Peru ikut diuntungkan dari perhitungan ulang poin.
3. Guinea Khatulistiwa: Emiliano Nsue Terungkap Setelah 11 Tahun
Kasus paling mencengangkan datang dari Guinea Khatulistiwa. FIFA menemukan Emiliano Nsue—bintang andalan mereka—tidak memenuhi syarat membela timnas.
Parahnya, hal ini baru terungkap setelah 11 tahun ia bermain untuk tim nasional.
Hukumannya:
Dua laga kualifikasi Piala Dunia 2026 dinyatakan kalah WO (0-3)
Federasi sepak bola Guinea Khatulistiwa didenda
Nsue diskors 6 bulan dari sepak bola internasional
Malaysia Resmi Menyusul
Kini giliran Malaysia yang masuk daftar hitam FIFA. FAM terbukti memalsukan dokumen naturalisasi tujuh pemain asing.
Meski detail lengkap sanksi masih menunggu, keputusan ini jelas jadi tamparan keras bagi sepak bola Malaysia yang belakangan gencar mengandalkan pemain keturunan.
Pelajaran Berharga untuk Asia Tenggara
Baca Juga: Lima Pemuda Banyuwangi Jadi Tersangka Pengeroyokan Buntut Karnaval Purwoharjo
Kasus Malaysia, Timor Leste, Bolivia, dan Guinea Khatulistiwa menjadi bukti bahwa FIFA tak main-main dalam menindak pelanggaran naturalisasi.
Naturalisasi memang bisa jadi solusi instan, tetapi jika dilakukan dengan cara curang, konsekuensinya adalah kehancuran reputasi dan hukuman berat.
Bagi Malaysia, ini saatnya kembali fokus pada pembinaan pemain lokal. Tanpa fondasi kuat dari talenta asli, setiap pencapaian hanya tinggal menunggu runtuh oleh satu keputusan FIFA. (*)
Editor : Niklaas Andries