RADARBANYUWANGI.ID - Gelombang boikot terhadap partisipasi Israel di Kualifikasi Piala Dunia 2026 terus membesar.
Terbaru, organisasi nirlaba asal Amerika Serikat, Avaaz, meluncurkan video kampanye yang menyindir FIFA dengan pesan pedas dan visual menohok.
“Hai FIFA, mengapa standar ganda membantu Israel?” buka narator dalam video tersebut.
Baca Juga: Gaji PNS, PPPK, TNI, Polri, hingga Pejabat Negara Naik, Ini Bocorannya
Avaaz menyoroti keputusan FIFA yang tetap mengizinkan Israel berlaga, meski Komisi Penyelidik PBB menilai Israel memenuhi empat dari lima kriteria genosida dalam hukum internasional.
Bandingkan dengan Rusia dan Afrika Selatan
Dalam video berdurasi singkat itu, Avaaz menyinggung sikap tegas FIFA terhadap negara lain.
Rusia langsung diskors setelah menginvasi Ukraina. Pada 1961, FIFA juga menjatuhkan sanksi kepada Afrika Selatan karena praktik apartheid.
Baca Juga: Bye-Bye Macet Gumitir! Rute Udara Banyuwangi–Surabaya Resmi Terbang Lagi
“Hari ini, setelah PBB menyatakan Israel melakukan kejahatan perang dan genosida di Gaza, kamu masih menggelar karpet merah untuk partisipasi mereka,” lanjutnya.
Visual dalam video memperlihatkan trofi Piala Dunia yang dilumuri darah dan stadion yang membanjir merah, simbol kemarahan terhadap agresi Israel yang menewaskan lebih dari 65 ribu warga Palestina sejak Oktober 2023.
FIFA Masih Bungkam
Meski tekanan internasional kian keras, FIFA hingga akhir September belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan boikot Israel.
Baca Juga: Banyuwangi - Surabaya 45 Menit, Dede Abdul Ghany: Ekonomi Baru, Jalan Investasi dan Pariwisata
Saat ini Timnas Israel tetap berlaga di Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa bersama Italia, Norwegia, Estonia, dan Moldova.
Israel sudah memainkan lima laga dengan raihan sembilan poin, tertahan di peringkat ketiga klasemen.
Avaaz mendesak FIFA segera mengambil langkah tegas sebelum pertandingan kualifikasi berikutnya pada Oktober mendatang.
“Tidak pantas pelaku genosida masih diberikan panggung,” tegas Avaaz dalam seruannya.
Seruan ini diprediksi akan terus menggema, menunggu apakah FIFA akan mengikuti jejak sanksi seperti yang dijatuhkan kepada Rusia dan Afrika Selatan. (*)
Editor : Ali Sodiqin