RADARBANYUWANGI.ID - Popularitas Formula 1 mengalami lonjakan besar dalam beberapa tahun terakhir, terutama berkat serial dokumenter Netflix Drive to Survive.
Meski begitu, CEO F1, Stefano Domenicali, menegaskan bahwa inovasi tetap diperlukan agar olahraga ini terus relevan, khususnya di mata generasi muda.
Dalam wawancara yang dikutip Autosport, Domenicali menyebut sejumlah opsi tengah dibahas, mulai dari memperluas penerapan sprint race hingga menguji konsep reverse grid.
Menurutnya, format akhir pekan F1 saat ini bisa terasa terlalu panjang bagi penonton muda.
Tiga sesi latihan bebas dengan durasi total tiga jam dianggap kurang menarik, kecuali bagi penggemar teknis.
Sprint race yang sempat menuai pro dan kontra kini justru mendapat dukungan luas.
Jika dulu mayoritas pembalap menolak, kini situasi berbalik.
Bahkan Max Verstappen yang dikenal kritis, mulai melihat sisi positif format tersebut.
“Pada akhirnya, para pembalap memang dilahirkan untuk balapan,” kata Domenicali.
Selain sprint, format reverse grid yang sudah diterapkan di Formula 2 dan 3 juga kembali masuk agenda diskusi.
Meski masih memunculkan perdebatan, beberapa pembalap kini mulai terbuka terhadap ide tersebut.
Domenicali menyebut ada perubahan sikap, dari awalnya penolakan total menjadi semakin banyak suara yang mendorong uji coba.
Bagi Domenicali, kunci keberhasilan adalah menyeimbangkan inovasi dengan tradisi.
Ia menegaskan perubahan tidak akan dilakukan secara ekstrem, melainkan bertahap agar tetap menjaga esensi Formula 1.
Dengan dominasi penonton muda sebagai target pasar, F1 kini memasuki fase adaptasi penting demi masa depan olahraga balap bergengsi ini.
Editor : Lugas Rumpakaadi