Bermain di Anfield, The Reds meraih kemenangan tipis 1-0 lewat gol indah Dominik Szoboszlai dari tendangan bebas. Hasil ini sekaligus mempertahankan rekor sempurna mereka di musim 2025-2026.
Gol tersebut bukan hanya menjadi pembeda dalam laga yang minim kualitas. Tetapi juga menegaskan dominasi Liverpool atas Arsenal yang belum pernah menang di Anfield sejak 2012.
Arne Slot pun sukses mengungkap kelemahan Arsenal dalam mengubah permainan ketika laga masih imbang. Disisi lain, jika laga antara peringkat satu dan dua musim lalu ini dimaksudkan untuk memamerkan kualitas Premier League, maka duel tersebut justru jauh dari harapan.
Namun, bagi tim yang mengincar trofi besar dengan kemenangan dengan cara apa pun adalah target utama. Liverpool mencapainya melalui satu-satunya momen brilian sepanjang 90 menit yakni tendangan bebas spektakuler Szoboszlai.
Gol itu menjadi pukulan awal bagi rival perebutan gelar. Sekaligus memastikan Liverpool menjadi satu-satunya tim dengan catatan sempurna sejauh ini.
Slot bahkan bisa lebih puas karena timnya meraih posisi tersebut meski belum sepenuhnya tampil dengan performa terbaik. Fakta ini menjadi peringatan serius bagi para pesaing. Dimana Liverpool sudah di puncak dan mereka hanya akan semakin kuat.
Sementara bagi Arsenal, kutukan Anfield kembali menghantui Arsenal. Padahal melihat rapuhnya pertahanan Liverpool di laga-laga awal musim. The Gunners sejatinya punya modal lebih untuk mengakhiri rekor buruk tersebut.
Absennya Bukayo Saka dan Kai Havertz, ditambah Martin Odegaard serta Eberechi Eze yang hanya duduk di bangku cadangan memang mengurangi daya dobrak. Namun kualitas mahal di lini tengah dan depan seharusnya cukup untuk menguji pertahanan Liverpool.
Sayangnya, Viktor Gyokeres dan Gabriel Martinelli gagal memberi ancaman berarti. Sementara upaya Noni Madueke pun tidak banyak membuahkan hasil. Andalan
Arsenal dalam situasi bola mati juga dimentahkan pertahanan solid yang dipimpin Virgil van Dijk. Secara taktik, Arsenal terlihat terlalu konservatif. Umpan balik ke David Raya terlalu sering.
Dimana eksekusi bola mati bertele-tele dan saat mereka harus tampil menyerang, waktunya sudah terlambat.
Masalah utama kembali terlihat yakni Arsenal gagal mengambil inisiatif saat laga masih tanpa gol. Selama kelemahan ini tidak diperbaiki, mustahil bagi mereka merebut gelar dari genggaman Liverpool. (*)
Editor : Niklaas Andries