Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lukis Bakar Warga Kilensari Tembus Pasar Ekspor

Edy Supriyono • Selasa, 14 Maret 2023 | 18:00 WIB
KREATIF: Fatwa Dewantoro menunjukkan hasil produksi Pirografi yang dibuat pada papan kayu dengan menggunakan solder, di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Minggu (12/3). (Iwan Feriyanto/Radar Situbondo)
KREATIF: Fatwa Dewantoro menunjukkan hasil produksi Pirografi yang dibuat pada papan kayu dengan menggunakan solder, di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Minggu (12/3). (Iwan Feriyanto/Radar Situbondo)
PANARUKAN, Jawa Pos Radar Situbondo – Fatwa Dewantoro, warga Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, sukses membangun usaha Pirografis atau lukis bakar di atas papan kayu. Karyanya itu kini banyak diminati luar negeri, seperti Hawai dan Maldives.

Dia menjelaskan, permintaan tertinggi saat ini yang dilayani tembus mencapai 1.500 biji setiap bulan. Sedangkan satu biji dari hasil  kerajinan tersebut dibandrol dengan harga Rp 150 hingga Rp 300 ribu. “Harga untuk pasar ekspor di jual mulai Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu per biji. Jadi tergatung ukuran dan motif yang diinginkan,” ujarnya, Minggu (12/3).

Pria yang akrab disapa Wawan itu mengaku cukup kewalahan juga untuk melayani permintaan konsumen dalam negeri. Sebab, karyanya itu pun juga banyak  diminati wisatawan. “Seperti di Bali itu juga banyak peminatnya. Sedangkan untuk harga di pasar lokal kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu per biji,” jelasnya.

Wawan mengaku, untuk membuat kerajinan tersebut tidak begitu sulit. Bahkan, hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk menyelesaikan usaha pirografi tersebut. “Sehari bisa menyelesaikan sebanyak seratus hingga 200 biji seorang diri. Karena memang cepat produksinya,” tuturnya.

Selain itu, Wawan menjelaskan, sudah empat tahun menjadi pengusaha pengrajin. Sebelum pandemi Covid-19, usaha yang dibangun itu sebagai pengrajin air brush berbahan kimia dan resin untuk gantungan kunci. “Karena pandemi kondisi usaha melemah, bahkan minim pembeli. Kemudian punya ide untuk ganti usaha lain,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Wawan mengatakan, kerajinan Pirografi tersebut dia pelajari sendiri. Dengan ketekunannya selama ini, kini bisa membuahkan hasil memuaskan. “Alahamdulillah, untuk pembeli sudah lumayan banyak. Permintaan dari konsumen setiap hari terus bertambah,” jelasnya.

Akan tetapi, Wawan mengaku kewalahan saat banyak menerima pesanan. Hal itu minimnya tenaga yang bisa membantu untuk memproduksi Pirografi tersebut. “Ya, kesulitanya kalau pesanan banyak itu kita sulit ngajari dulu kalau butuh tenaga lagi,” pungkasnya. (wan/pri) Editor : Muhammad Khoirul Rizal
#Pirografis #ekonomi kreatif #situbondo #lukis bakar #kerajinan