Algoritma Lima Belas Ribu Rupiah

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:00 WIB
Puisi Supali Kasim
Puisi Supali Kasim

apa yang dilakukan algoritma pada angka

lima belas ribu rupiah

 

rangkaian instruksi

dari hitung-hitungan dalam sepi

seperti bidak-bidak catur melangkah pasti

seluruh orkestrasi

logis, sistematis, fantastis

 

pada hitungan lima belas ribu rupiah

delapan hingga sepuluh ribu gizi terolah

tiga ribu operasional diolah

dua ribu fasilitas program mengolah

 

“not responding”, tekan “enter”,

tapi “not responding”, tekan “delete”,

tetap “not responding”

orkestrasi algoritma dalam angka

lima belas ribu rupiah

sebelum “reset”, terbaca di layar monitor

: mubazir!

 

pada hitungan lima belas ribu rupiah

data terolah

keluaran begitu nyata

logis

sistematis

fantastis

sebagian orang jadi kaya, negara lesu darah

 

2026

Supali Kasim

Tiap Siang Makan Angin

 

 

tiap siang ia makan angin

bukan karena angin itu dikunyah-kunyah

lalu ditelan dan masuk pencernaan

 

sampai hitungan tiga bulan ia selalu makan angin

tiap siang, dan tangannya tak kuasa menolak

ompreng yang mendekatinya

 

tapi ompreng tak bersajikan angin

tapi ia selalu makan angin

tiap siang, siang yang penuh angin

 

pada hitungan tiga bulan itu

angin selalu susupkan kabar

ibu-ibu kantin sekolah bermata sayu

asongan tepi jalan sekolah berwajah lesu

 

pada bulan keempat minggu pertama

angin santer menerpa

ompreng mendekat, ia menghindar

 

pada bulan keempat minggu kedua

angin makin santer menerpa

ompreng memburu, ia berlari jauh

 

(bukankah tiap pagi dan sore

ia, sopir dan mobil keluarga selalu bersama

uang saku sekolah bukan bernilai ompreng

tapi tiap siang ompreng mencarinya)

 

pada bulan kelima ia tersenyum membaca

“sekolah ini tidak lagi menerima ompreng”

sekali lagi terbaca

mata binar ibu-ibu kantin sekolah

wajah semringah asongan tepi jalan depan sekolah

dan tiap siang ia tak mungkin lagi makan angin

 

 

2026

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Supali Kasim

Laju Ompreng dalam Kuda Bersayap ke Surga

 

 

kakek bercerita tentang kuda bersayap

terbuat dari batu permata

membawa ke manapun kita

dari surga kembali ke surga

(sebagai anak kecil, ia terpana)

 

bapak bercerita tentang kuda bersayap

yang menunggu di surga

ialah amal perbuatan kita

(sebagai remaja, ia terpana)

 

di televisi ada yang berpidato

tentang kuda bersayap

membawa kebaikan berupa makanan

untuk anak-anak sekolah

(sebagai anak sekolah, ia terpana)

 

di ruang dialektika

tak tertera undang-undang

tergerus berbagai anggaran

dan diam-diam rupiah melesukan

(sebagai dewasa, ia terpana)

 

tapi laju ompreng dalam kuda bersayap

tiap butir makanannya

entah membawa ke surga

 

 

2026

 

 

Supali Kasim

Berderet Kata-kata

 

 

satu kata, dari berderet kata-kata

menyusup di sela pikirmu

--yakinlah, ini hanya nalurimu--

di atas ompreng itu karbohidrat, vitamin,

mineral, lemak, ulat beranak-pinak,

bermanja-manja

dan aku makin mencium

berderet kata-kata

bau busuk itu

 

 

 

2026

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Supali Kasim

Kepul Dapur Dini Hari

 

 

sebuah dapur adalah api

lalu berkeliaran asap

--tak ada asap bila tak ada api--

api dinyalakan berbarengan

dengan bunyi-bunyi

ironi

 

dini hari mestinya tidur lelap

kelana mimpi

apalagi yang akan pasrahkan

seperti orang mati

bukan mati, hanya pasrah diri

tapi kepul dapur membubung

nyala api memanas dengan suhu tinggi

memeram sanubari

 

betapa kepul dapur dini hari

berputar-putar tak temukan celah udara

--tak ada dapur bila tak ada anggaran--

di luar, barisan panjang

ompreng berkaleng-kaleng

menggeleng

 

 

2026

 

 

 

 

 

Supali Kasim

Bau Mulut yang Berembus

 

 

sebenarnya hanya bau mulut

berembus, dan hanya di sekelilingnya

sekeliling yang juga sudah bau

bukan aroma

kemudian diharum-harumkan

menyerupai aroma

 

apakah paru-parunya sudah parah

karbon dioksida, uap air, dan banyak sisa metabolisme

: gelembung-gelembung angkuh

gas yang terdorong lewat tenggorokan

 

dan seperti meriam, lambungnya

hanya udara kotor berlebih, terperangkap

meletuskan sendawa

tembakan menakut-nakuti demonstran

 

apakah bau mulut

bersumber dari gizi di perut

tapi bukan gizi

kemudian diharum-harumkan

dan ulat-ulat berebut dengan lalat-lalat

yang berhambur dari mulut-mulut

yang berbau

 

 

2026

 

 

 

Supali Kasim

Sepotong Rindu di Atas Ompreng

 

 

di atas ompreng sudah lama tak ada notula

tentang cinta

hanya gairah berahi

narasi tentang hormon estrogen meraih laba

sebanyak-banyaknya

 

deskripsi tentang hormon testosteron

mendesak-desak

ejakulasi dini ke puncak gunung harta 

 

jikapun tanda siklus estrus

seperti hewan

dalam argumentasi tak mengapa

 

hanya berserak kuitansi dan nota

huruf-huruf aji mumpung, angka-angka linglung

 

sebab di atas ompreng sudah lama

merindukan daging sapi, sayur dan buah segar

dan sepotong rindu, menggebu

cinta yang agung, nurani yang luhur

bukan hormon berahi

memperkosa negeri

 

 

2026                  

Editor : Ali Sodiqin
Algoritma Lima Belas Ribu Rupiah Supali Kasim puisi