
RADAR BANYUWANGI - Larasati sudah hafal suara bus ayahnya. Ada yang sangat khas pada gelegar knalpotnya. Mungkin juga suara spesial itu sengaja dihadirkan si sopir bus untuk menandai kehadirannya.
Larasati tidak hafal plat nomor bus ayahnya, tetapi sudah sangat hafal kebiasaan ayahnya. Setiap kali bus besar berwarna biru tua itu melambat di bahu jalan dekat Prambanan, ayahnya akan turun sebentar, memeluknya, lalu kembali pergi.
Beberapa menit saja, tetapi bagi Larasati, beberapa saat yang cepat berlalu itu seperti pulang.
*
Pagi itu halaman parkir di depan gedung rektorat Universitas Guyub Rukun (UGR) ramai oleh koper kecil, tas tangan, dan suara ibu-ibu Dharma Wanita yang saling menyapa. Sebuah bus pariwisata besar berwarna biru tua menunggu dengan mesin yang sesekali meraung pelan.
Bus besar itu akhirnya berangkat hampir dua jam lebih lambat dari jadwal awal. Ada urusan administrasi rombongan yang harus diselesaikan lebih dahulu di kampus.
Begitu meninggalkan Kampus UGR Yogyakarta menuju arah Solo, suasana di dalam bus segera riuh. Cerita tentang anak, cucu, rencana belanja oleh-oleh, sampai tempat makan yang katanya terkenal di Bali bersahutan di antara kursi-kursi.
Menjelang ruas jalan sebelum tol Prambanan–Solo, kecepatan bus tiba-tiba melambat.
Bus kemudian menepi. Beberapa penumpang saling berpandangan. Pemandu wisata berdiri sambil tersenyum.
“Mohon izin beberapa menit, Ibu-ibu. Pak sopir ada urusan pribadi sebentar.”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




