Burung Balam Bapak

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 05:00 WIB
Cerpen Muhammad Subhan
Cerpen Muhammad Subhan

SUDAH ratusan kali aku mendengar kicauan burung balam itu. Nyaring, melengking, dan lembut. Setiap pagi, saat fajar masih malu-malu menyentuh pekarangan rumah, suara itu selalu menjadi pertanda bahwa hari baru telah tiba. 

 

Balam itu burung paling spesial. Bapak memanggilnya si Bayu, karena suaranya yang bening, jernih, dan lembut.  Nama Bayu diambil Bapak merujuk kepada angin. Bapak suka embusan angin yang tenang, lembut, terutama di pagi dan sore hari.

 

Bapak menyayangi si Bayu, bahkan lebih dari burung-burung lainnya yang pernah ia pelihara. Setiap pagi dan petang, Bapak bercengkrama dengan balam kesayangannya itu, merawat bulu-bulunya yang halus dengan penuh perhatian, memberi makan dengan tangan sendiri, dan mengusap kepalanya dengan lembut.

 

“Kau saja tak diurus Bapakmu seperti itu. Burung itu, ah, lebih dari anaknya sendiri,” begitu Ibu sering berseloroh kepadaku. Menyindir Bapak. Bapak hanya tertawa dan melanjutkan perbincangannya dengan si Bayu.

 

Sejak aku kecil, Bapak sudah memelihara burung balam. Sebelum orang-orang menjualnya secara bebas di pasar burung, Bapak sudah berburu balam di tepian hutan. Itulah permainan masa remajanya. Bapak sering bercerita kepadaku tentang hobinya itu sebelum aku tidur.

 

Aku ingat, bagaimana suara balam itu membaur dengan suara azan subuh yang datang dari surau dekat rumah kami. Kicauan burung itu, bagiku, adalah bunyi kehadiran Bapak di rumah. Seolah-olah setiap kali si Bayu berkicau, Bapak sedang ada di dekatku, meskipun aku tidak selalu melihatnya.

 

Bapak tidak pernah bercerita banyak tentang alasan di balik kecintaannya terhadap burung balam. Tapi, setiap kali aku memandangnya merawat si Bayu, aku merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar hobi atau kesenangan sementara.

 

Bapak selalu mengatakan bahwa suara balam bisa menenangkan jiwa, “Seperti alunan doa yang mengantar malam,” katanya suatu sore, saat kami duduk di beranda sambil memandang senja yang perlahan tenggelam di balik pepohonan.

 

Hari-hari berjalan dengan kebiasaan yang serupa. Pagi selalu diawali dengan suara kicauan si Bayu, dan petang diakhiri dengan percakapan Bapak dan burung kesayangannya itu.

 

Setiap kali aku melihat Bapak duduk di samping sangkar si Bayu, aku merasa ada kedamaian yang mengalir di antara keduanya, sebuah hubungan yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

 

***

 

NAMUN, suatu pagi, keheningan itu terasa berbeda. Aku bangun lebih awal dari biasanya. Suara balam yang selalu memenuhi pekarangan rumah dengan kicauannya hari itu tidak terdengar. Aku beranjak ke halaman, dan mendapati Bapak duduk di bangku kayu di bawah pohon Mangga. Tapi kali ini, Bapak terlihat lesu, lebih diam dari hari-hari sebelumnya.

“Bapak sakit?” tanyaku khawatir. Wajah Bapak tampak pucat.

 

Bapak tersenyum. “Cuma kelelahan sedikit. Tak usah khawatir,” jawab Bapak.

 

Aku tahu itu bukan sekadar kelelahan. Ada sesuatu yang berubah pada diri Bapak. Sorot matanya tidak lagi segar, dan gerak-geriknya tampak lamban. Hari-hari berikutnya, Bapak makin jarang beranjak dari tempat tidur. Si Bayu masih berkicau setiap pagi dan sore, seolah-olah tidak ada yang berubah. Tapi aku tahu, di dalam rumah ini, segalanya telah berubah.

 

***

 

IBU mulai sering mengeluh tentang kondisi Bapak yang terus menurun. Aku tahu betul, Ibu tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa usia Bapak tak muda lagi, dan bahwa tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Sementara aku? Aku masih terjebak dalam ketidakmampuan untuk menerima bahwa waktu sedang merenggut kebahagiaan kami, sedikit demi sedikit.

 

***

 

HARI itu datang lebih cepat dari yang aku bayangkan. Suatu pagi, ketika suara kicauan si Bayu baru saja dimulai, Bapak pergi meninggalkan kami. Bapak berpulang, tanpa sakit berat, hanya mengeluhkan sesak di dadanya. Tidak ada perpisahan panjang, tidak ada kesempatan untuk berbicara lebih lama. Hanya keheningan yang menyelimuti rumah kami, dan suara balam yang terus berkicau seakan-akan dunia masih berjalan seperti biasa.

 

Aku berdiri di sisi ranjang Bapak, memandang tubuhnya yang sudah terbujur kaku. Ibu menangis di sudut ruangan, sementara aku merasa hampa, tak tahu harus berkata apa.

 

Di luar, suara si Bayu makin nyaring. Entah mengapa, kicauannya terdengar menyayat hati. Suara yang biasanya menenangkan kini terasa seperti jeritan kesedihan yang tidak terucap.

 

***

 

HARI pemakaman Bapak tiba. Kami semua berkumpul di pandam pekuburan yang tak jauh dari rumah. Ibu berusaha tegar, meskipun aku tahu hatinya hancur berkeping-keping.

 

Aku juga tidak bisa sepenuhnya memahami perasaan ini. Rasa kehilangan, kesedihan, dan kehampaan bercampur menjadi satu. Hanya si Bayu yang terus berkicau dari sangkarnya, seolah-olah ia sedang menunggu Bapak kembali untuk memberinya makan, untuk berbicara dengannya lagi.

 

***

 

SEPEKAN setelah kepergian Bapak, aku mulai merasa ada sesuatu yang salah. Setiap kali aku memandang si Bayu di sangkarnya, aku merasa kasihan. Burung itu masih terkurung di sana, sendirian, tanpa kehadiran Bapak yang selalu merawat dan menyayanginya. Meskipun aku mencoba memberi makan dan merawatnya seperti yang Bapak lakukan, tapi rasanya tetap berbeda. Si Bayu bukan burungku. Dia adalah burung Bapak, dan hanya Bapak yang benar-benar tahu bagaimana memperlakukannya.

 

Sore itu, aku duduk di beranda. Angin bertiup pelan, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di pekarangan. Aku memandang sangkar si Bayu, dan tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang harus aku lakukan. Sesuatu yang mungkin bisa membuat Bapak tenang di alam sana.

 

Aku bangkit, melangkah perlahan ke arah sangkar. Tanganku gemetar saat aku meraih kunci kecil yang menggantung di samping pintu sangkar. Sesuatu dalam hatiku mengatakan bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Aku membuka pintu sangkar dengan hati-hati. Si Bayu tampak bingung dan takut. Ia memandangku dengan mata kecilnya yang tajam.

 

“Pergilah, terbanglah sejauh-jauhnya,” bisikku. “Bapak sudah tidak di sini. Kau bebas sekarang.”

 

Si Bayu bergerak. Dia tak beranjak dari sangkarnya. Namun, sesaat kemudian, dengan sayap yang perlahan terbuka, ia mengepakkan sayapnya, dan akhirnya terbang keluar dari sangkar. Aku melihatnya terbang tinggi, melayang di atas pohon mangga, lalu menghilang di kejauhan.

 

Angin senja berembus lebih kencang, seolah-olah membawa suara kicauan si Bayu bersama dengan napas alam. Di dalam hatiku, ada sesuatu yang terasa lebih ringan, meskipun kesedihan masih menggantung. Ada air hangat yang hendak tumpah di kedua kelopak mataku. Mengenang Bapak.

 

Aku duduk kembali di beranda, memandang langit. Seolah aku melihat wajah Bapak di sana, tersenyum kepadaku dari kejauhan. Aku tidak tahu apakah Bapak bisa melihat apa yang baru saja aku lakukan untuknya, tapi aku yakin, melepaskan si Bayu adalah pilihan yang tepat.

 

***

 

HARI-HARI sesudah itu, aku mengenang Bapak dengan mengingat perkataannya yang sering ia ulang-ulang: bahwa suara balam adalah doa yang tidak terucap, yang membawa ketenangan bagi siapa pun yang mendengarnya. Malam itu, saat aku mendengar sayup-sayup suara balam dari pohon mangga di belakang rumah, aku merasa seolah-olah Bapak sedang berbisik kepadaku, mengucapkan terima kasih dalam diamnya.

 

Dan aku tahu, di suatu tempat, di alam yang entah di mana, Bapak telah tenang. Aku dan ibu di rumah juga tenang. Sehabis salat dan mengaji, kami kirimkan doa-doa terbaik untuk Bapak. Al-Fatihah. []

Padang Panjang, April 2026

Editor : Ali Sodiqin
Muhammad Subhan cerpen