RADAR BANYUWANGI – Identitas Lastono di Lemahbangkulon, Singojuruh, Banyuwangi, kembali membuka perdebatan sejarah. Selama ini situs tersebut dikenal dalam tradisi masyarakat sebagai petilasan Syekh Siti Jenar. Namun penelitian multidisipliner Keratuwan ByalamWyang sejak 2019 mengajukan hipotesis berbeda: Lastono diduga merupakan makam Mas Purbo atau Pangeran Danurejo, Raja Blambangan sekaligus cucu Tawang Alun. Petunjuknya dirangkai dari Babad Tawang Alun, nama Kebrukan dan Sungai Tuban, kajian linguistik, kondisi geografis, hingga temuan uang logam lama di sekitar situs.
Pertanyaan tentang siapa sebenarnya tokoh yang dimakamkan di Lastono menjadi pintu masuk penelitian MH Qowim, penggagas Keratuwan ByalamWyang.
Penelitian bertajuk Lastono dan Mas Purbo: Rekonstruksi Identitas Makam melalui Pendekatan Multidisipliner itu dikerjakan sejak 2019.
Bukan hanya cerita tutur yang digunakan. Penelitian tersebut mempertemukan sejumlah pendekatan, mulai sejarah, babad, genealogis, toponimi, linguistik, geografi historis, hingga kajian material di lapangan.
Hasilnya mengarah pada satu dugaan: Lastono berkaitan dengan Mas Purbo, Pangeran Danurejo, raja Blambangan yang disebut dalam Babad Tawang Alun.
Srada Alit Mas Purbo di Lastono
Jejak penelitian tersebut kembali mendapat konteks ketika Srada Alit Mas Purbo digelar Minggu (13/9/2026).
Sekitar pukul 09.00, sejumlah orang berkumpul di kawasan Banyu Tuban, Lemahbangkulon. Mereka mengambil tirta yang kemudian digunakan dalam rangkaian ritual di Lastono.
Prosesi berlangsung khusyuk dan khidmat.
Bagi Keratuwan ByalamWyang, ritual tersebut sekaligus menjadi bagian dari penghormatan terhadap tokoh yang dalam kajian mereka diidentifikasi sebagai Mas Purbo.
Namun, Lastono sendiri bukan situs yang identitasnya selama ini tunggal.
Dalam tradisi masyarakat, lokasi tersebut dikenal sebagai petilasan Syekh Siti Jenar. Sementara penelitian Keratuwan ByalamWyang menawarkan pembacaan sejarah berbeda.
Perbedaan itu tidak ditempatkan sebagai pertentangan keyakinan, melainkan sebagai pertanyaan sejarah yang masih dapat diteliti.
Dari Kata Astana ke Lastono
Salah satu pintu masuk penelitian adalah nama Lastono.
Dalam bahasa Jawa dikenal istilah astana, yang berkaitan dengan tempat kediaman penguasa dan kemudian digunakan untuk menyebut makam raja atau bangsawan.
Istilah tersebut berakar dari Jawa Kuno asthāna, yang berhubungan dengan bahasa Sanskerta āsthāna.
Lalu apa hubungannya dengan Lastono?
Penelitian Keratuwan ByalamWyang mengajukan kemungkinan perubahan bunyi secara linguistik. Secara hipotetis, astana dapat mengalami proses protesis, yakni penambahan bunyi konsonan di awal kata, menjadi lastana, kemudian berkembang menjadi lastono.
Hipotesis itu menempatkan Lastono sebagai kemungkinan bentuk lokal yang berkaitan dengan istilah astana dalam lingkungan bahasa Oseng.
Namun, nama tempat saja tentu belum cukup untuk menentukan siapa yang dimakamkan di sana.
Karena itu, penelitian kemudian mencari petunjuk lain.
Nama Kebrukan Muncul dari Babad
Petunjuk berikutnya berasal dari Babad Tawang Alun.
Setelah Tawang Alun meninggal, pemerintahan Blambangan disebut diteruskan Mas Sosro Negoro. Konflik kekuasaan kemudian berujung pada terbunuhnya Mas Sosro Negoro.
Mas Purbo yang ketika itu masih kecil dilarikan keluar istana melalui gorong-gorong oleh pengasuhnya, Mbok Cino.
Ia kemudian dinobatkan sebagai raja Blambangan pada usia delapan tahun dengan gelar Pangeran Danurejo.
Pada awal pemerintahannya, Mas Purbo berkedudukan di Wijenan.
Delapan tahun kemudian, ia membuka kawasan Wana Kebrukan dan menjadikannya pusat pemerintahan baru.
Di sinilah nama Kebrukan menjadi penting dalam penelitian.
Kawasan Kebrukan masih dikenal hingga sekarang di wilayah Lemahbangkulon. Lokasinya juga relatif dekat dengan Lastono.
Jarak antara kawasan Kebrukan dan Lastono disebut sekitar 500 meter.
Tuban, Kunci yang Menghubungkan Lastono
Namun, ada satu nama dalam Babad Tawang Alun yang dinilai lebih menentukan: Tuban.
Setelah Pangeran Danurejo meninggal, Babad Tawang Alun menyebut ia sinarihake ing Tuban.
Keterangan tersebut mengarahkan pada Tuban sebagai tempat pemakaman Pangeran Danurejo.
Persoalannya kemudian sederhana tetapi krusial: Tuban yang dimaksud berada di mana?
Nama Tuban bisa dengan mudah dikaitkan dengan Tuban di Jawa Timur bagian utara. Ada pula nama Tuban di Bali.
Keratuwan ByalamWyang justru mencoba membaca keterangan tersebut dari konteks geografis Blambangan.
Di sekitar Lastono ternyata terdapat aliran sungai tua yang hingga kini dikenal sebagai Sungai Tuban.
Dengan demikian, penelitian menemukan tiga nama yang dianggap saling berkaitan dalam satu lanskap:
-
Lastono
-
Kebrukan
-
Tuban
Lastono berada di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbangkulon. Kebrukan berada tidak jauh dari situs, sedangkan Sungai Tuban berada di kawasan yang sama.
Bagi penelitian tersebut, kedekatan geografis itu menjadi petunjuk penting ketika dibaca bersamaan dengan keterangan dalam Babad Tawang Alun.
Koin Cina dan VOC Jadi Petunjuk Material
Penelitian tidak berhenti pada teks dan nama tempat.
Menurut keterangan Turin, mantan juru pelihara Lastono, pernah ditemukan uang logam Cina kuno serta uang logam VOC di kawasan tersebut.
Sebagian uang logam VOC disebut memiliki angka tahun mulai dekade 1760-an hingga 1940-an.
Temuan itu memang tidak otomatis membuktikan identitas tokoh yang dimakamkan di Lastono.
Namun, secara arkeologis, keberadaan benda-benda tersebut menunjukkan adanya aktivitas manusia di kawasan tersebut dalam rentang waktu panjang.
Jika temuan uang tersebut memang berkaitan dengan praktik ritual atau penghormatan, benda itu dapat menjadi petunjuk mengenai keberlanjutan tradisi di situs tersebut.
Karena itu, konteks penemuan koin menjadi bagian penting yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Bukan Sekadar Satu Nama Tempat
Di sinilah pendekatan multidisipliner menjadi penting.
Dalam kajian Keratuwan ByalamWyang, Babad Tawang Alun memberikan nama Mas Purbo, Kebrukan, dan Tuban.
Kajian geografi kemudian melihat keberadaan Kebrukan dan Tuban sebagai nama tempat yang masih hidup di sekitar Lastono.
Kajian linguistik mencoba membaca kemungkinan hubungan Lastono dengan astana.
Sementara temuan koin memberikan jejak material mengenai aktivitas manusia di kawasan tersebut.
Masing-masing petunjuk jika berdiri sendiri belum cukup untuk memastikan identitas makam.
Tetapi ketika seluruhnya diletakkan dalam satu kerangka penelitian, muncul hipotesis bahwa Lastono merupakan makam Mas Purbo atau Pangeran Danurejo.
Mas Purbo, Raja Blambangan yang Dimakamkan di Tuban?
Rangkaian argumentasi tersebut berangkat dari satu asumsi penting.
Jika Babad Tawang Alun menyebut Pangeran Danurejo sinarihake ing Tuban, dan Tuban yang dimaksud berada di kawasan Blambangan, maka Sungai Tuban di sekitar Lemahbangkulon menjadi salah satu kandidat yang perlu diperiksa.
Jika Lastono berada dekat Sungai Tuban dan kawasan Kebrukan yang disebut sebagai pusat pemerintahan Mas Purbo, maka hubungan ketiga unsur tersebut menjadi semakin menarik untuk diuji.
Dari sinilah Keratuwan ByalamWyang menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa Lastono diduga kuat merupakan makam Mas Purbo, Pangeran Danurejo, Raja Blambangan.
Namun, kesimpulan tersebut masih berada pada ranah hipotesis historis.
Belum ada bukti tunggal yang dapat menutup seluruh perdebatan mengenai identitas makam tersebut.
Penelitian Masih Membutuhkan Pembuktian
Untuk memperkuat atau menguji hipotesis tersebut, penelitian lanjutan masih diperlukan.
Beberapa aspek yang dapat diteliti antara lain pemetaan struktur makam, stratigrafi kawasan, konteks arkeologis temuan koin, material nisan, serta hubungan spasial antara Lastono, Sungai Tuban, dan Kebrukan.
Langkah tersebut penting agar identitas Lastono tidak hanya bergantung pada satu sumber atau satu tradisi.
Sebab, situs sejarah selalu berada di antara tiga hal: teks, lanskap, dan ingatan manusia.
Lastono menarik justru karena ketiganya bertemu di satu tempat.
Tak Perlu Mempertentangkan Keyakinan
MH Qowim menegaskan, kajian mengenai Lastono sebagai makam Mas Purbo tidak dimaksudkan untuk memperdebatkan keyakinan masyarakat yang selama ini mengenalnya sebagai petilasan Syekh Siti Jenar.
Keratuwan ByalamWyang, kata dia, hanya menyampaikan hasil kajian berdasarkan data dan fakta sejarah yang telah ditelusuri.
“Ini hanya kajian. Siapa pun boleh sependapat dan boleh juga tidak,” tegas Qowim.
Dengan sikap tersebut, perbedaan tafsir mengenai Lastono ditempatkan sebagai ruang penelitian yang masih terbuka.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri yang hadir dalam kegiatan tersebut berharap penelitian sekaligus pelestarian warisan Blambangan terus dilakukan secara terbuka, lintas disiplin, dan berdasarkan data sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, bagi generasi berikutnya, yang diwariskan bukan hanya sebuah nama makam.
Tetapi juga jejak bagaimana sebuah peradaban pernah tumbuh, berpindah, memerintah, dan meninggalkan tanda di lanskap Banyuwangi hari ini.
Kesimpulannya, penelitian Keratuwan ByalamWyang mengajukan hipotesis bahwa Lastono di Lemahbangkulon merupakan makam Mas Purbo atau Pangeran Danurejo, Raja Blambangan cucu Tawang Alun. Dugaan itu dirangkai dari keterangan Babad Tawang Alun, kedekatan Kebrukan dan Sungai Tuban, kajian nama Lastono, serta temuan material di sekitar situs. Namun, identitas tersebut masih memerlukan pembuktian arkeologis dan penelitian lanjutan. (aif)
Editor : Ali Sodiqin