RADAR BANYUWANGI - Denting gamelan Banyuwangi menggema di panggung Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-31. Namun, kehadiran Sanggar Seni Joyo Karyo di ajang internasional itu bukan sekadar menampilkan kekayaan musik tradisi. Di balik penampilan yang memukau, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Dewan Kesenian Blambangan (DKB) membawa misi lebih besar: menyiapkan Banyuwangi menjadi salah satu pusat festival gamelan Indonesia pada 2027.
Festival bertema Sukacita (Joy) yang digelar Komunitas Gayam 16 di Plaza Pasar Ngasem, Yogyakarta, sejak 21 Juli hingga 2 Agustus itu diikuti kelompok gamelan dari berbagai daerah di Indonesia, serta peserta mancanegara seperti Belanda dan Prancis. Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang mendapat kesempatan tampil melalui Sanggar Seni Joyo Karyo.
Selain memperkenalkan kekayaan seni tradisi Blambangan kepada publik internasional, delegasi Banyuwangi memanfaatkan momentum tersebut untuk mempelajari tata kelola festival sebagai bekal menyelenggarakan agenda serupa di Banyuwangi.
Ketua Komunitas Gayam 16 Ari Wulu mengatakan, sejak pertama kali digelar pada 1995, Yogyakarta Gamelan Festival menjadi ruang perjumpaan lintas budaya yang memperlihatkan gamelan sebagai bahasa universal.
"Konser Gamelan menjadi ruang perjumpaan lintas budaya yang memperlihatkan gamelan sebagai bahasa universal yang terus hidup, berkembang, dan membawa semangat kebersamaan," ujarnya.
Ketua YGF ke-31 Lanoke atau Uke menjelaskan tema Sukacita dipilih untuk mengajak masyarakat kembali memaknai gamelan sebagai ruang berbagi kebahagiaan, bukan sekadar instrumen musik.
"YGF 31 mengajak masyarakat merasakan kembali gamelan bukan sekadar sebagai instrumen musik, melainkan sebagai sumber sukacita, ruang kebersamaan, dan penyegaran batin," katanya.
Bagi Banyuwangi, kesempatan tampil di YGF menjadi kebanggaan sekaligus ruang belajar. Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri menyebut keikutsertaan tersebut merupakan kehormatan karena bisa berbagi panggung dengan kelompok seni dari berbagai negara.
"Kami membawa misi memperkenalkan musik Banyuwangi. Kehormatan bagi kami diundang tampil di panggung yang menghadirkan kelompok dari Belanda, Prancis, dan berbagai daerah. Kami sangat bergembira," ujarnya.
Menurut Hasan, manfaat terbesar dari YGF justru terletak pada pertukaran pengetahuan dan jejaring antarseniman. Pengalaman tersebut diharapkan melahirkan inovasi baru dalam pengembangan musik tradisi Banyuwangi.
"Harapannya teman-teman musisi Banyuwangi mendapat spirit baru. Dengan melihat karya-karya dari luar, wawasan kita menjadi lebih luas sehingga siap melakukan perubahan-perubahan dalam karya musik," jelasnya.
Hasan mengungkapkan, DKB telah berdiskusi dengan penyelenggara YGF mengenai rencana penyelenggaraan festival gamelan di Banyuwangi pada 2027.
"Kami tidak ingin ketinggalan dengan Jogja. Kami ingin Banyuwangi juga menjadi locus gamelan di Indonesia," tegasnya.
Menurut Hasan, Banyuwangi memiliki modal budaya yang sangat kuat. Ragam musik tradisi, mulai Angklung Caruk, Hadrah, hingga kekayaan bunyi khas masyarakat pesisir dan agraris, menjadi fondasi yang siap dikembangkan menjadi festival berskala nasional bahkan internasional.
Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar berada pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengelolaan event.
"Tantangannya bukan kuantitas pelaku seni, tetapi kualitas SDM. Karena itu kami datang ke sini juga belajar bagaimana mengelola event yang baik," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Majelis Kehormatan DKB Banyuwangi Samsudin Adlawi. Menurutnya, kemampuan artistik seniman Banyuwangi tidak diragukan, tetapi aspek manajemen penyelenggaraan festival masih perlu diperkuat.
"Yang kurang itu manajemen. Jadi kami belajar ke sini tentang pengelolaan event. Mulai panitianya, relawannya, sampai pendampingan kepada peserta sangat profesional," ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Hartono menyebut kehadiran pemerintah daerah di YGF merupakan bagian dari strategi ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) sebelum merealisasikan festival serupa di Banyuwangi.
Menurutnya, konsep penyelenggaraan YGF patut dicontoh karena mampu menggabungkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat.
"Konsepnya bagus sekali. Selain nguri-uri seni budaya, juga memberikan multiplier effect kepada UMKM, pedagang, dan para seniman. Itu yang ingin kami contoh di Banyuwangi," katanya.
Di atas panggung YGF, Sanggar Seni Joyo Karyo membawakan pertunjukan bertajuk Sang Waktu. Karya tersebut dimainkan oleh sepuluh musisi muda Banyuwangi sebagai simbol keberhasilan regenerasi pelaku seni tradisi.
Pembina Sanggar Seni Joyo Karyo Elvin Hendratha mengatakan, seluruh penampil merupakan generasi muda yang mampu memainkan lebih dari tiga instrumen gamelan.
"Kami ingin memperlihatkan bahwa yang datang adalah para junior, tetapi mereka memiliki kemampuan virtuoso dan DNA kesenian yang tidak jauh berbeda dengan para senior," ujarnya.
Elvin optimistis regenerasi seni tradisi di Banyuwangi akan terus berjalan karena banyak sanggar aktif membina anak-anak dan remaja.
"Di Banyuwangi sangat banyak kantong-kantong kesenian. Bahkan kadang mereka tanpa diajari pun sudah bisa belajar sendiri. Kami tinggal mengarahkan saja," pungkasnya.
Keikutsertaan Banyuwangi di Yogyakarta Gamelan Festival akhirnya tidak hanya menjadi panggung unjuk kemampuan seniman muda. Lebih dari itu, ajang ini menjadi investasi pengetahuan, jejaring, dan inspirasi untuk membawa Banyuwangi selangkah lebih dekat menjadi salah satu episentrum festival gamelan dan seni tradisi di Indonesia. (*)
Editor : Ali Sodiqin