Penampilan Kuntulan Pelajar di BEC 2026 Bikin Penonton Merinding, Energi Tradisi Banyuwangi Tuai Tepuk Tangan

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 02:30 WIB
UNJUK AKSI: Ratusan pelajar Banyuwangi mempersembahkan kesenian kuntulan di hadapan penonton BEC 2026 pada Sabtu (19/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
UNJUK AKSI: Ratusan pelajar Banyuwangi mempersembahkan kesenian kuntulan di hadapan penonton BEC 2026 pada Sabtu (19/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Puncak Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 pada Sabtu (18/7) tak hanya menghadirkan parade kostum spektakuler. Ratusan pelajar dari berbagai penjuru Banyuwangi sukses mencuri perhatian lewat pertunjukan seni kuntulan yang sarat makna, penuh energi, dan menunjukkan kekompakan luar biasa di panggung utama ajang budaya tersebut.

Penampilan kolosal itu menjadi salah satu sajian yang paling menyita perhatian penonton. Harmoni gerak tari, tabuhan rebana, dan syair-syair religi berpadu menghadirkan atmosfer yang menghidupkan kembali semangat pelestarian budaya lokal di tengah kemegahan perhelatan BEC.

Bagi masyarakat Banyuwangi, penampilan tersebut sekaligus menjadi pengobat rindu terhadap Kuntulan Ewon yang digelar di Taman Blambangan pada 2 Mei lalu. Saat itu, sebanyak 1.100 pelajar tampil dalam pertunjukan massal untuk memeriahkan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu'ti.

Kuntulan sendiri merupakan salah satu kesenian tradisional khas Banyuwangi yang berakar dari seni hadrah sebagai media dakwah Islam. Seiring perkembangan zaman, kesenian ini berakulturasi dengan budaya lokal hingga melahirkan pertunjukan khas yang memadukan unsur tari, tabuhan rebana, serta lantunan syair religi.

Di tangan para pelajar Banyuwangi, kesenian tradisi tersebut tampil dengan kemasan yang tetap mempertahankan nilai-nilai budaya, namun dikemas dinamis sehingga mampu memikat perhatian ribuan penonton.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Alfian, mengapresiasi dedikasi seluruh siswa yang telah menjalani proses latihan hingga akhirnya tampil di panggung bergengsi Banyuwangi Ethno Carnival.

Menurutnya, keberhasilan para pelajar tidak hanya menunjukkan kemampuan seni, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan budaya daerah.

"Terima kasih untuk kerja keras dan semangat luar biasa para pelajar Banyuwangi. Latihan yang tidak mudah itu akhirnya terbayar di panggung terbaik. Kalian sudah luar biasa, dan Banyuwangi bangga punya kalian," ujarnya.

Apresiasi juga datang dari para penonton. Salah satunya Fajar yang mengaku terkesan dengan penampilan para pelajar tersebut.

Ia menilai kekompakan, ekspresi, dan energi yang ditampilkan membuat pertunjukan terasa hidup serta mampu menyampaikan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat.

"Jujur saya sempat merinding melihat penampilan mereka. Luar biasa, mereka begitu energik dan tampak begitu menjiwai," ungkapnya.

Penampilan kuntulan di panggung BEC 2026 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada para seniman. Keterlibatan pelajar dalam pertunjukan berskala besar menunjukkan regenerasi seni tradisi terus berjalan, sekaligus memperkuat identitas Banyuwangi sebagai daerah yang konsisten merawat dan mempromosikan warisan budayanya melalui berbagai ajang bertaraf nasional maupun internasional. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
BEC 2026 Banyuwangi Ethno Kuntulan Banyuwangi seni tradisi pelajar banyuwangi