Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Universitas Soekardjo Padukan Arsitektur Tradisional dan Hasil Bumi, Tampilkan Filosofi Agraris Banyuwangi di BEC 2026

Syaifuddin Mahmud • Jumat, 17 Juli 2026 | 19:14 WIB
Ricky Fikryansa dari Unidsoe padukan arsitektur tradisional dan hasil bumi di panggung BEC 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Ricky Fikryansa dari Unidsoe padukan arsitektur tradisional dan hasil bumi di panggung BEC 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kekayaan alam dan budaya Banyuwangi kembali menjadi inspirasi dalam Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Universitas Soekardjo (Unidsoe) Banyuwangi menghadirkan karya bertema "Hasil Bumi" dengan memadukan arsitektur tradisional, ornamen pertanian, dan filosofi kehidupan masyarakat agraris dalam balutan kostum karnaval yang megah.

Penampilan tersebut dibawakan oleh Ricky Fikryansa, yang tampil percaya diri di sepanjang rute parade. Melalui desain kostum yang sarat simbol, Unidsoe mengajak masyarakat melihat hasil bumi Banyuwangi bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai warisan budaya yang membentuk identitas daerah dari generasi ke generasi.

Karya yang ditampilkan mengangkat miniatur rumah tradisional sebagai pusat desain kostum. Elemen tersebut menjadi simbol kehidupan masyarakat agraris yang sejak lama menggantungkan hidup pada kesuburan tanah dan kekayaan alam Banyuwangi.

Miniatur rumah itu dipadukan dengan berbagai ornamen dedaunan, bulu-bulu bernuansa alam, serta dominasi warna cokelat dan keemasan. Perpaduan warna tersebut merepresentasikan tanah yang subur, hasil panen yang melimpah, sekaligus kemakmuran yang lahir dari hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Detail kostum semakin kaya dengan kehadiran ornamen berbentuk hasil panen dan ukiran etnik khas Banyuwangi. Setiap elemen dirancang untuk menegaskan bahwa hasil bumi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus diwariskan dan dijaga oleh masyarakat.

Seluruh konsep tersebut dikemas dalam busana karnaval bergaya kontemporer tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal. Perpaduan antara desain modern dan simbol budaya menjadikan penampilan Universitas Soekardjo sebagai salah satu representasi kreativitas perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian budaya daerah.

Rektor Universitas Soekardjo, Dr. H. Soekardjo, mengatakan keikutsertaan kampus dalam BEC 2026 merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya Banyuwangi sekaligus upaya memperkenalkan potensi hasil bumi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Menurutnya, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab untuk ikut mengangkat potensi lokal melalui berbagai media kreatif, termasuk seni pertunjukan yang mampu menjangkau publik lintas generasi.

Melalui subtema "Hasil Bumi", Universitas Soekardjo membuktikan bahwa kekayaan alam Banyuwangi dapat diterjemahkan menjadi karya seni yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga mengandung pesan edukatif. Penampilan Ricky Fikryansa menjadi simbol penghormatan terhadap masyarakat agraris yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sekaligus penjaga warisan budaya Banyuwangi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
BEC 2026 Universitas Soekardjo Ricky Fikryansa hasil bumi banyuwangi