RADARBANYUWANGI.ID - Gelaran seni budaya tahunan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 resmi mengangkat kisah heroik Perang Bayu sebagai tema utama. Salah satu subtema yang paling menyita perhatian penonton adalah visualisasi kekejaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang menjadi pemicu puncak perlawanan rakyat Blambangan atau dikenal sebagai Puputan Bayu.
Melalui parade kostum teatrikal di sepanjang catwalk jalanan Banyuwangi, BEC 2026 menghadirkan kembali salah satu babak penting sejarah daerah. Visualisasi tersebut menggambarkan perjuangan rakyat Blambangan mempertahankan tanah kelahirannya dari penindasan kolonial, sekaligus menjadi pengingat atas mahalnya harga sebuah kemerdekaan.
Perang Bayu mencapai puncaknya pada 18 Desember 1771. Momentum itu kini dikenang sebagai tonggak sejarah berdirinya Kabupaten Banyuwangi. Dalam panggung BEC 2026, kisah perjuangan tersebut diterjemahkan dalam balutan busana artistik yang memadukan unsur seni pertunjukan, sejarah, dan budaya lokal.
Latar belakang pecahnya Perang Bayu bermula ketika VOC mengklaim wilayah timur Pulau Jawa secara sepihak. Setelah menguasai kawasan tersebut, pemerintah kolonial menerapkan berbagai kebijakan yang membebani masyarakat, mulai dari kerja paksa, kewajiban menyerahkan hasil bumi, hingga pembangunan infrastruktur militer tanpa pemenuhan kebutuhan hidup yang layak. Kondisi tersebut memicu kelaparan dan merebaknya wabah penyakit di tengah masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Pangeran Jagapati, rakyat Blambangan kemudian menghimpun kekuatan di kawasan pedalaman Bayu. Mereka membangun benteng pertahanan dan memilih melakukan perlawanan total atau puputan demi mempertahankan wilayahnya.
Dalam pertempuran sengit pada Desember 1771, strategi pertahanan yang diterapkan pejuang Blambangan berhasil menewaskan komandan pasukan VOC, Sersan Mayor Van Schaar. Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal setelah Pangeran Jagapati gugur akibat luka-luka yang dideritanya sehari kemudian.
Perang Bayu juga tercatat sebagai salah satu konflik yang menguras keuangan VOC. Di sisi lain, dampaknya terhadap masyarakat Blambangan sangat besar. Dari sekitar 65 ribu jiwa penduduk saat itu, perang dan pembantaian susulan yang dilakukan aliansi VOC disebut hanya menyisakan sekitar 5 ribu orang yang bertahan hidup. Sebagian pejuang yang selamat memilih melarikan diri ke hutan, sementara lainnya diasingkan ke luar pulau.
Nuansa sejarah tersebut berhasil diterjemahkan secara kuat dalam subtema VOC di BEC 2026. Kostum-kostum yang merepresentasikan keserakahan kolonial dipadukan dengan karakter pejuang Blambangan yang gagah, menghadirkan pertunjukan teatrikal yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga membangun kesadaran sejarah di kalangan masyarakat.
Salah seorang penonton, Nita, 22, mengaku terkesan dengan penyajian subtema tersebut. Menurutnya, parade tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan sejarah secara menarik.
"Keren banget konsepnya, terutama pas bagian kostum bertema VOC tadi. Desainnya kreatif tapi tetap menonjolkan sisi sejarahnya. Jadi penonton yang datang ke BEC bukan cuma dapat hiburan visual, tapi juga pulang bawa pengetahuan baru tentang perjuangan rakyat Banyuwangi zaman dulu," ujarnya.
Melalui subtema VOC, BEC 2026 menunjukkan bahwa karnaval budaya bukan sekadar ruang pertunjukan seni. Ajang ini juga menjadi media edukasi sejarah yang menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat tentang perjuangan leluhur Blambangan dalam mempertahankan kedaulatan daerahnya. Pesan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan identitas sejarah Banyuwangi.
Editor : Lugas Rumpakaadi