RADARBANYUWANGI.ID - Suasana Dusun Watugepeng, Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro, sudah ramai sejak jarum jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Ratusan warga berbondong-bondong membawa ancak, wadah anyaman bambu berisi nasi dan lauk-pauk, menuju situs Watu Gepeng untuk mengikuti ritual kenduri tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi slametan yang digelar setiap bulan Zulhijah, tepatnya pada Jumat Legi, menjadi momen sakral bagi masyarakat lereng Pegunungan Ijen. Bagi warga setempat, ritual tersebut bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen kopi yang melimpah serta keselamatan yang senantiasa menyertai kehidupan mereka.
Rangkaian doa dan tasyakuran dipusatkan di situs Watu Gepeng, sebuah batu purbakala berbentuk pipih memanjang yang menyerupai mata tombak raksasa. Batu itu berdiri di tengah hamparan kebun kopi dan dipercaya menjadi asal-usul penamaan Dusun Watugepeng.
"Sejak sesepuh kami babat alas di sini, batu ini sudah ada. Dari sinilah nama dusun kami diambil," ujar Anggie, salah seorang tokoh masyarakat, saat ditemui di sela kegiatan.
Keberadaan batu tersebut menyimpan cerita yang hingga kini masih menjadi misteri bagi warga. Pasalnya, kawasan di sekitar situs didominasi tanah perkebunan yang relatif minim batu besar. Warga bahkan harus mengambil material batu dari lokasi yang cukup jauh untuk membangun fondasi rumah.
Rasa penasaran pernah mendorong warga menggali tanah di sekitar situs hingga kedalaman sekitar lima meter. Namun, upaya tersebut tidak menemukan struktur batu lain yang terhubung dengan Watu Gepeng.
"Dulu warga sempat penasaran dan menggali tanah di sekitar batu hingga kedalaman lima meter secara acak, tetapi tidak ditemukan batu lain di bawahnya. Hanya batu gepeng ini yang berdiri kokoh," tutur Anggie.
Di balik kuatnya tradisi adat, Dusun Watugepeng juga dikenal sebagai kawasan agraria yang menopang perekonomian masyarakat. Hamparan kebun kopi robusta dan cengkeh mengelilingi hampir seluruh permukiman warga, menjadikan sektor perkebunan sebagai sumber penghasilan utama.
Masyarakat setempat juga mengembangkan sistem pertanian terpadu dengan peternakan kambing etawa. Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanaman kopi, sedangkan dedaunan pelindung kopi dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Sistem tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi warga di tengah fluktuasi harga komoditas perkebunan.
"Integrasi ini membuat ekonomi warga Watugepeng relatif stabil. Saat harga kopi fluktuatif, warga masih bisa mengandalkan hasil susu atau penjualan kambing etawa," ungkap salah seorang pemuda penggerak ekonomi desa.
Potensi ekonomi kreatif di Desa Telemung juga berkembang melalui kerajinan anyaman berbahan serat alam ate. Berbagai produk seperti tas, aksesori, hingga dekorasi rumah hasil karya perajin lokal telah menembus pasar ekspor, termasuk Jepang.
Pendampingan dari instansi terkait terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar internasional sekaligus memperluas peluang usaha masyarakat.
Editor : Lugas Rumpakaadi