RADARBANYUWANGI.ID - Sejumlah lembaga di bawah naungan PCNU Banyuwangi terus menunjukkan eksistensinya. Senin (8/6/2026) giliran Pengurus Cabang Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (PC Lesbumi) masa khidmat 2026-2031 dikukuhkan oleh pengurus PCNU Banyuwangi.
Prosesi pelantikan dilakukan langsung oleh PCNU Banyuwangi, disertai baiat pengurus yang dipimpin Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, KH Masfuk Ali. Suasana khidmat terasa ketika para fungsionaris menyatakan komitmen pengabdian untuk membesarkan Lesbumi sebagai ruang kebudayaan yang berpijak pada nilai Islam moderat dan tradisi nusantara.
Yang menairk, pengukuhan pengurus Lesbumi yang dinakhodai Imam Maskun berlangsung di Kafe Hedon Banyuwangi. Pengukuhan tersebut menjadi tonggak awal gerakan kebudayaan Nahdlatul Ulama di Banyuwangi untuk lima tahun ke depan sekaligus momentum konsolidasi para seniman, budayawan, pegiat tradisi, komunitas kreatif, akademisi, dan pesantren dalam satu wadah perjuangan kebudayaan.
Turut hadir dalam pengukuhan jajaran pengurus PCNU Banyuwangi, tokoh agama, budayawan, seniman, akademisi, pegiat komunitas, serta perwakilan berbagai lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kepengurusan Lesbumi di bawah pimpinan Imam Maskun beranggotakan para seniman yang tidak perlu diragukan kiparhnya.
Imam didampingi Teguh Eko Rahardi sebagai Wakil Ketua, Mohammad Bagus Fahmi sebagai Sekretaris, dan Mailisa Ilmi Pratama sebagai Biro Keuangan. Sementara itu, kepengurusan juga diperkuat oleh sejumlah bidang strategis yang meliputi Bidang Organisasi dan Kelembagaan, Bidang Seni dan Cagar Budaya, Bidang Dakwah Kultural, Bidang Kaderisasi dan Pendidikan, Bidang Digitalisasi dan Ekonomi Kreatif, serta Bidang Kemitraan dan CSR.
Sebagai pengarah organisasi, Lesbumi mendapatkan dukungan penuh dari Dewan Pembina, yaitu Samsudin Adlawi (Majelis Kehormatan DKB), Hasan Basri (Ketua DKB). Kehadiran para pembina diharapkan mampu memberikan arah kebijakan dan penguatan ideologis agar gerakan kebudayaan yang dijalankan Lesbumi tetap berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Ketua PC Lesbumi Banyuwangi Imam Maskun menegaskan bahwa kepengurusannya bertekad menjadikan Lesbumi sebagai rumah besar bagi seni dan budaya Islam yang ramah, membumi, serta dekat dengan denyut kehidupan masyarakat. Menurutnya, perjalanan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pendekatan budaya. Dakwah para ulama terdahulu diterima luas karena mampu berdialog dengan tradisi masyarakat tanpa kehilangan substansi ajaran Islam.
“Islam Rahmatan Lil ‘Alamin selalu berdampingan dengan budaya lokal. Islam berkembang pesat di Indonesia karena para ulama menggunakan jalur budaya sebagai media dakwah, sehingga pesan agama hadir dengan wajah yang teduh dan mudah diterima masyarakat,” ujar Imam Maskun.
Sebagai langkah konkret, PC Lesbumi Banyuwangi telah menyiapkan agenda besar bertajuk Festival Budaya Nuansa Islam, sebuah ruang kreatif yang akan mempertemukan seni, tradisi, dan spiritualitas Islam dalam satu panggung kebudayaan.
Festival tersebut dirancang tidak hanya sebagai pertunjukan seni, tetapi juga media edukasi budaya dan penguatan identitas Islam Nusantara di tengah tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang semakin cepat.
Ketua PCNU Banyuwangi Achmad Turmudzi, menegaskan bahwa Lesbumi memiliki posisi strategis dalam merawat harmoni sosial melalui jalur kebudayaan. Ia berharap lembaga ini mampu menghadirkan dakwah yang menyentuh hati masyarakat dengan pendekatan yang santun dan penuh kebijaksanaan.
“Lesbumi harus terus berdakwah melalui budaya agar Islam Rahmatan Lil ‘Alamin benar-benar dapat dirasakan umat di lapisan bawah. Nahdliyyin harus tetap menjadi pelopor kebudayaan yang santun, kritis namun teduh, religius namun terbuka, serta tetap berpihak kepada kepentingan rakyat kecil,” pesannya.
Dalam refleksinya terhadap kondisi bangsa, Turmudzi juga mengingatkan pentingnya menjaga ruang kebangsaan dari polarisasi dan narasi yang memecah persatuan. “Bangsa ini membutuhkan lebih banyak suara penyejuk daripada suara pemecah. Di tengah gaduh zaman, bahdliyyin harus tetap menjadi jangkar akal sehat, penjaga tradisi, dan perawat peradaban,” tegasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi