RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah gempuran musik digital dan budaya populer modern, alunan keroncong ternyata masih hidup di Banyuwangi. Bahkan, musik yang selama ini identik dengan generasi tua itu kini mulai menemukan napas baru lewat tangan komunitas Keroncong Genta Sritanjung yang aktif merangkul anak muda hingga anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk ikut melestarikannya.
Suasana aula Kantor Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi, Sabtu malam (2/5), mendadak berubah syahdu ketika lagu “Umbul-Umbul Blambangan” dimainkan dengan sentuhan ukulele, gitar, selo, biola, hingga alat musik keroncong lainnya. Lagu khas Banyuwangi itu dibawakan para anggota Keroncong Genta Sritanjung dalam nuansa berbeda yang lebih segar dan modern.
Meski kerap dianggap musik jadul, komunitas tersebut justru menunjukkan bahwa keroncong masih mampu menarik minat lintas generasi. Anggotanya berasal dari berbagai kalangan usia, mulai orang tua, remaja, hingga anak-anak sekolah dasar. Bahkan komunitas itu juga menjadi ruang inklusif bagi penyandang disabilitas untuk berkarya melalui musik.
Ketua Keroncong Genta Sritanjung Sucahyo Pinardi mengatakan, komunitas tersebut berdiri sejak 19 April 1994 dan hingga kini terus bertahan menjaga eksistensi musik keroncong di Banyuwangi.
“Nama Genta itu singkatan dari Gema Nada Tanah Air yang kemudian dipadukan dengan nama pahlawan Blambangan sehingga menjadi Keroncong Genta Sritanjung,” ujarnya.
Menurut Cahyo, saat ini komunitas tersebut memiliki sekitar 30 anggota yang terdiri dari musisi dan vokalis. Mereka tidak sekadar berkumpul karena hobi bermusik, tetapi memiliki semangat menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kami bukan sekadar hobi, tetapi punya jiwa untuk terus ngurip-nguripi musik keroncong. Kalau bukan kita, siapa lagi yang melestarikan,” katanya.
Cahyo menjelaskan, latihan rutin sebelumnya dilakukan di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Namun setelah gedung mengalami renovasi, latihan berpindah ke aula Kantor Kelurahan Penganjuran setelah mendapat dukungan dari lurah setempat.
“Pak Yuda selaku Lurah Penganjuran sangat mendukung dan mempersilakan kami menggunakan kantor kelurahan sebagai tempat latihan,” ujarnya.
Menariknya, komunitas tersebut tidak hanya memainkan lagu keroncong klasik. Mereka mulai mengaransemen berbagai genre musik populer ke dalam nuansa keroncong agar lebih mudah diterima generasi muda.
Mulai lagu pop Indonesia, musik Banyuwangian, dangdut, hingga lagu barat dibawakan dengan sentuhan khas keroncong. Strategi itu dinilai efektif menghapus stigma bahwa musik keroncong membosankan dan hanya cocok untuk kalangan tua.
“Musik keroncong itu luwes. Bisa dipadukan dengan genre apa saja. Jadi kami mencoba membuat keroncong lebih dekat dengan selera anak muda,” jelas Cahyo.
Selain latihan rutin, Keroncong Genta Sritanjung juga aktif tampil di berbagai acara di Banyuwangi hingga luar daerah. Mereka kerap membawa perlengkapan musik lengkap untuk tampil di sejumlah wilayah, termasuk Genteng dan daerah lainnya.
Komunitas tersebut juga rutin menggelar kegiatan bersama Paguyuban Musik Artis Keroncong Republik Indonesia (Pamori) setiap empat bulan sekali di Banyuwangi.
Dalam waktu dekat, mereka akan menggelar event “Pesona Keroncong” yang masuk agenda Banyuwangi Attraction pada 23 hingga 25 Juli mendatang. Acara tersebut dikemas dalam bentuk lomba kategori umum dan pelajar dengan sasaran utama generasi muda.
“Kami ingin menjaring anak-anak remaja supaya tertarik belajar musik keroncong,” ujarnya.
Sebelumnya, komunitas tersebut juga bekerja sama dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dan Dewan Harian Cabang (DHC) 45 menggelar Festival Menyanyi Keroncong Pelajar di Gedung Juang Banyuwangi yang mendapat respons positif.
Cahyo berharap masyarakat Banyuwangi tidak malu belajar keroncong karena musik tersebut sebenarnya mudah dipelajari dan memiliki nilai budaya tinggi.
“Jangan sungkan belajar musik keroncong. Jangan pernah bilang nanti untuk belajar,” katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menegaskan pihaknya berkomitmen memperkuat regenerasi musik keroncong agar lebih dekat dengan generasi Gen Z.
“Kita berkomitmen melestarikan dan mengembangkan musik keroncong. Tinggal bagaimana konsisten menjalankan program nyata,” ujarnya.
Menurut Hasan, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah citra keroncong yang dianggap kuno dan membosankan oleh anak muda. Karena itu, DKB mendorong pendekatan baru melalui aransemen modern dan promosi di media sosial.
“Kalau selama ini kesannya keroncong bikin ngantuk dan didominasi orang tua, maka sekarang kita harus mendekatkannya ke Gen Z,” katanya.
Ia optimistis musik keroncong tetap mampu bertahan karena memiliki karakter khas yang tidak dimiliki genre musik lain.
“Musik keroncong itu musik yang sakti dan tidak akan mati,” pungkasnya. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin