RADARBANYUWANGI.ID – Ratusan penari cilik hingga remaja memadati panggung terbuka di RTH Singojuruh, Minggu (3/5), dalam perayaan Hari Tari Sedunia 2026. Mereka tampil percaya diri membawakan beragam tarian tradisional khas Bumi Blambangan hingga kreasi modern, menegaskan bahwa generasi muda Banyuwangi tetap berakar kuat pada budaya.
Sejak siang hingga malam hari, panggung seni tak pernah sepi. Antusiasme penonton pun tinggi, memadati area ruang terbuka hijau untuk menyaksikan pertunjukan yang sarat nilai seni dan budaya tersebut.
14 Sanggar Tampil, Kolaborasi Lintas Daerah
Kegiatan ini digelar oleh Jiwa Ethnic Blambangan (JEB) dengan melibatkan sedikitnya 14 sanggar seni dari berbagai wilayah di Banyuwangi, serta dua sanggar dari luar daerah.
Para peserta menampilkan ragam tarian, mulai dari tari tradisional Banyuwangi hingga kreasi baru yang menggabungkan unsur modern tanpa meninggalkan akar budaya.
Camat Singojuruh, Iwan Yos Sugiarto, mengatakan kegiatan ini menjadi wadah penting bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus melestarikan budaya daerah.
“Terdapat belasan sanggar seni yang menampilkan karya terbaiknya. Ini bentuk nyata semangat Hari Tari Sedunia,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas daerah juga menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan ini.
“Ada dua sanggar dari luar daerah, yakni dari Surabaya dan Pasuruan,” imbuhnya.
Dari Tradisional hingga Kreasi Modern
Pertunjukan yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 23.00 tersebut menghadirkan beragam tarian, khususnya khas Banyuwangi yang dikenal kaya akan nilai historis dan spiritual.
Setiap penampilan disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Para penari tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga penghayatan terhadap makna di balik setiap gerakan.
Momentum ini sekaligus menjadi bukti bahwa seni tari masih memiliki tempat kuat di tengah perkembangan zaman.
Dihadiri Tokoh dan Disambut Antusias
Acara ini turut dihadiri perwakilan Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Banyuwangi, Forpimka Singojuruh, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), tokoh budaya, hingga berbagai elemen masyarakat.
Tingginya animo masyarakat terlihat dari padatnya penonton yang memenuhi area RTH Singojuruh hingga acara berakhir.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar dan masyarakat sangat antusias,” kata Camat Iwan.
Pelestarian Budaya Sejak Dini
Perayaan Hari Tari Sedunia di Banyuwangi ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Melalui panggung seperti ini, anak-anak didorong untuk mencintai dan melestarikan seni tradisional sebagai bagian dari identitas daerah.
Di tengah arus globalisasi, Banyuwangi kembali menunjukkan komitmennya menjaga warisan budaya melalui keterlibatan aktif generasi muda—membuktikan bahwa seni tradisional tetap hidup, berkembang, dan relevan di era modern. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin