Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kuntulan Ewon Jadi Benteng Budaya, SDN 1 Kertosari Ajak Siswa Tak Kehilangan Jati Diri di Era Digital

Sidrotul Muntoha • Sabtu, 2 Mei 2026 | 04:30 WIB
DUKUNGAN PENUH: Guru SDN 1 Kertosari mendampingi siswa mengikuti geladi bersih Kuntulan Edon di Taman Blambangan, Jumat (1/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
DUKUNGAN PENUH: Guru SDN 1 Kertosari mendampingi siswa mengikuti geladi bersih Kuntulan Edon di Taman Blambangan, Jumat (1/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Gempuran budaya digital dan derasnya arus modernisasi dinilai menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan budaya lokal. Di tengah situasi itu, sekolah dasar mulai mengambil peran strategis agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Komitmen tersebut ditunjukkan SDN 1 Kertosari, Banyuwangi, Jawa Timur, melalui partisipasi aktif dalam ajang Kuntulan Ewon, program budaya yang digagas Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menanamkan kecintaan terhadap tradisi sejak usia dini.

Kepala SDN 1 Kertosari, Hj Sri Endang Murniati, menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan tugas satu pihak semata. Dibutuhkan keterlibatan bersama, terutama dari lembaga pendidikan yang berhadapan langsung dengan generasi muda.

“Pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Anak-anak harus dikenalkan dan dilibatkan langsung agar tidak kehilangan jati diri,” ujarnya.


Ancaman Era Digital terhadap Budaya Lokal

Kemajuan teknologi memang membuka akses luas terhadap informasi dan budaya global. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga menghadirkan tantangan baru: memudarnya ketertarikan anak-anak terhadap budaya daerahnya sendiri.

Banyak siswa lebih akrab dengan tren global dibanding seni dan tradisi lokal. Jika dibiarkan, kondisi ini dikhawatirkan memicu terputusnya regenerasi budaya.

Sri Endang menilai, sekolah tidak boleh tinggal diam menghadapi fenomena tersebut.

“Kalau tidak dikenalkan sejak kecil, anak-anak akan semakin jauh dari budayanya sendiri,” tegasnya.


Libatkan Anak Secara Langsung

Menurutnya, pengenalan budaya tidak cukup hanya lewat teori di ruang kelas. Anak-anak harus dilibatkan secara langsung agar memiliki pengalaman emosional dan rasa memiliki terhadap tradisi.

Melalui Kuntulan Ewon, siswa tidak hanya menyaksikan, tetapi juga menjadi bagian dari pertunjukan budaya.

“Warisan budaya harus terus dilanjutkan. Kami ingin anak-anak nguri-uri budaya agar tidak tenggelam di masa penuh perubahan dan tantangan,” katanya.

Pendekatan ini dinilai efektif karena menggabungkan unsur seni, edukasi, dan pembentukan karakter dalam satu kegiatan.


Pendidikan Tak Hanya Soal Akademik

Partisipasi SDN 1 Kertosari dalam kegiatan budaya juga menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran lebih luas daripada sekadar capaian akademik.

Sekolah, kata Sri Endang, harus mampu membentuk siswa yang cerdas sekaligus berkarakter dan memiliki identitas budaya yang kuat.

“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan rasa bangga terhadap budayanya sendiri. Itu bagian penting dari pembentukan karakter,” ujarnya.


Benteng Jati Diri Generasi Muda

Di tengah perubahan zaman yang cepat, kegiatan seperti Kuntulan Ewon dinilai menjadi benteng penting agar generasi muda tetap memiliki akar identitas yang kuat.

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat dalam kegiatan budaya menjadi langkah konkret menjaga keberlanjutan tradisi.

Bagi SDN 1 Kertosari, keterlibatan siswa dalam kegiatan budaya bukan sekadar agenda seremonial, tetapi investasi jangka panjang untuk masa depan.

“Budaya adalah identitas. Kalau tidak dijaga, kita akan kehilangan bagian penting dari diri kita sendiri,” pungkas Sri Endang.

Lewat panggung sederhana seperti Kuntulan Ewon, sekolah berharap nilai-nilai budaya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya—meski dunia terus berubah dengan sangat cepat. (*/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Kuntulan Ewon #SDN 1 Kertosari Banyuwangi #pelestarian budaya siswa #budaya lokal Banyuwangi #pendidikan karakter