RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah kekhawatiran lunturnya nilai kebersamaan dan disiplin pada generasi muda, sekolah dasar mulai mencari cara alternatif untuk memperkuat karakter siswa. Salah satunya dilakukan SDN 1 Pakis melalui pelibatan aktif dalam kegiatan Kuntulan Ewon.
Kegiatan seni bernuansa religius ini dinilai bukan sekadar hiburan, melainkan strategi pendidikan karakter yang relevan di tengah perubahan zaman yang cepat.
Kepala SDN 1 Pakis, Andi Eko Pramono, menegaskan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar mengajar akademik.
“Kami senang anak-anak masih diberi ruang untuk kegiatan religius dan seni seperti ini. Ini sangat positif untuk perkembangan mereka,” ujarnya.
Menjawab Tantangan Degradasi Karakter
Fenomena menurunnya nilai kebersamaan dan kedisiplinan di kalangan pelajar menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Pola interaksi yang semakin individualistis serta pengaruh budaya luar dinilai ikut memengaruhi karakter siswa.
SDN 1 Pakis mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan seni dan budaya. Kuntulan Ewon dipilih karena mengandung nilai religius sekaligus sosial yang kuat.
“Di dalamnya ada unsur kebersamaan, kekompakan, dan kedisiplinan. Anak-anak belajar banyak tanpa merasa digurui,” jelas Andi.
Seni Jadi Media Pendidikan Nilai
Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional, pendekatan melalui seni dinilai lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter. Dalam Kuntulan Ewon, siswa dilatih untuk bekerja sama, mengikuti ritme, serta menghargai peran masing-masing dalam kelompok.
Proses latihan hingga tampil di panggung menjadi pengalaman penting yang membentuk mental dan sikap siswa.
“Disiplin itu tidak hanya diajarkan, tapi dibiasakan. Lewat kegiatan ini, anak-anak belajar datang tepat waktu, mengikuti aturan, dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Perkuat Identitas Budaya dan Religius
Selain membangun karakter, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan budaya dan tradisi Islami kepada siswa sejak dini. Hal ini penting agar mereka tidak tercerabut dari akar nilai yang menjadi identitasnya.
Andi menilai, keseimbangan antara pendidikan akademik, seni, dan nilai religius menjadi kunci dalam membentuk generasi yang utuh.
“Kami ingin siswa tidak hanya pintar, tetapi juga punya karakter kuat dan memahami nilai-nilai budaya serta agama,” tegasnya.
Dorong Program Berkelanjutan
Melihat dampak positif yang dihasilkan, SDN 1 Pakis berharap kegiatan seperti Kuntulan Ewon tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Diperlukan keberlanjutan agar nilai-nilai yang ditanamkan bisa benar-benar melekat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus digelar secara rutin. Ini bagian penting dari penguatan karakter siswa,” pungkas Andi.
Di tengah tantangan globalisasi, langkah sederhana melalui seni tradisional ini menjadi strategi efektif untuk menjaga keseimbangan antara modernitas dan nilai-nilai luhur. Sekolah pun kembali menegaskan perannya—bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter generasi masa depan. (*/sgt)
Editor : Ali Sodiqin