RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah sunyi yang membungkus perbukitan Puthuk Giri, Kecamatan Giri, Banyuwangi, Jawa Timur, tersembunyi sebuah pusara yang justru tak pernah kehilangan denyut kehidupan.
Makam Buyut Sayu Atika menjadi ironi spiritual: semakin terpencil lokasinya, semakin deras arus peziarah yang datang.
Di Kelurahan Giri, situs ini menjelma menjadi episentrum wisata religi yang menyedot ribuan pencari berkah dari berbagai penjuru.
Keheningan yang mestinya menghadirkan kesunyian justru berubah menjadi ruang kontemplasi yang ramai—doa demi doa dilantunkan hampir tanpa jeda.
Bagi warga sekitar, makam yang juga dikenal sebagai Eyang Putri Atika itu bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah simbol pengorbanan, spiritualitas, sekaligus pengikat memori kolektif lintas generasi.
Tak berlebihan jika kawasan ini disebut sebagai salah satu destinasi religi primer di Banyuwangi.
Akses Terpencil, Tapi Tak Pernah Sepi
Dilansir dari banyuwangitourism.com, meski berada di atas perbukitan, akses menuju lokasi tergolong memadai. Salah satu jalur favorit peziarah dimulai dari belakang Masjid Baitul Ma’wa di tepian Jalan Raden Wijaya, Lingkungan Payaman.
Jalur ini menyuguhkan perjalanan sunyi yang justru memperkuat nuansa spiritual. Setiap langkah menuju puncak seolah menjadi bagian dari ritual batin sebelum akhirnya tiba di pusara yang dikeramatkan.
Baca Juga: Diperiksa 7 Jam di Polresta Banyuwangi, WNA Rusia Andrew Fadeev Bantah Lakukan Penganiayaan
Namun di balik ketenangan itu, tersimpan kisah yang sarat konflik, pengkhianatan, dan tragedi kemanusiaan.
Kisah Tragis di Balik Kesakralan
Juru pelihara makam, Jum’ali, menjadi penjaga narasi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, sosok yang dimakamkan di sana diyakini sebagai Dewi Sekardadu—ibunda dari Sunan Giri, salah satu tokoh sentral penyebaran Islam di tanah Jawa.
“Beliau adalah ibu Sunan Giri, buah pernikahan dengan Syekh Maulana Ishak,” ujarnya.
Dewi Sekardadu merupakan putri dari Prabu Minak Sembuyu, penguasa Kerajaan Blambangan. Hidupnya berubah drastis ketika wabah misterius melanda kerajaan—pagebluk mematikan yang membuat warga yang sakit di pagi hari meninggal saat senja.
Baca Juga: Spesialis Pencuri Meteran Air Banyuwangi Tertangkap Tangan, 15 Unit Disita Polisi
Dalam keputusasaan, sang raja menggelar sayembara. Siapa pun yang mampu menyembuhkan wabah dan putrinya, akan dijadikan menantu kerajaan.
Jawaban datang dari Syekh Maulana Ishak. Ia berhasil menyembuhkan Dewi Sekardadu sekaligus meredakan wabah. Pernikahan pun terjadi, namun benih konflik mulai tumbuh.
Konflik Ideologi yang Berujung Tragedi
Kehadiran Maulana Ishak sebagai pembawa ajaran Islam memicu resistensi di lingkungan kerajaan yang masih kuat dengan tradisi lama. Tuduhan dan tekanan politik menguat, memaksa sang ulama meninggalkan Blambangan demi meredam konflik.
Keputusan itu meninggalkan luka: Dewi Sekardadu tengah mengandung.
Ketegangan memuncak saat Prabu Minak Sembuyu murka. Sang putri diusir, bahkan bayi yang baru lahir diperintahkan untuk dibuang. Bayi tersebut dimasukkan ke dalam peti kayu dan dilarung ke laut.
Naluri keibuan Dewi Sekardadu tak mampu dibendung. Ia mengejar peti itu, menerjang ganasnya ombak demi menyelamatkan buah hatinya.
Namun takdir berkata lain.
Sang bayi selamat dan kelak dikenal sebagai Sunan Giri. Sementara Dewi Sekardadu justru gugur dalam perjuangan yang tragis—tenggelam di tengah laut setelah gagal meraih kembali anaknya.
Dari Tragedi Menjadi Spiritualitas
Kisah pilu itu kini hidup dalam setiap langkah peziarah yang mendaki Puthuk Giri. Makam Buyut Sayu Atika bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan simbol pengorbanan seorang ibu yang melampaui batas kehidupan.
Di tengah arus modernisasi, situs ini menjadi bukti bahwa narasi sejarah, mitos, dan spiritualitas masih memiliki daya tarik kuat. Bahkan, justru di sanalah konflik masa lalu menemukan maknanya di masa kini.
Sunyi di Puncak Giri ternyata bukan tentang kesepian. Ia adalah ruang di mana duka, sejarah, dan harapan bertemu—dan terus dipeluk oleh mereka yang datang silih berganti. (*)
Editor : Ali Sodiqin