Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Inspiratif! Pemahat Difabel Banyuwangi Hasilkan Barong Rp5 Juta Lewat Satu Tangan dan TikTok

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 23 September 2025 | 12:00 WIB
OTODIDAK: Mustaqbilal sedang mengerjakan pesanan barong Oseng di rumahnya Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah.
OTODIDAK: Mustaqbilal sedang mengerjakan pesanan barong Oseng di rumahnya Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah.

RADARBANYUWANGI.ID - Pemahat difabel asal Banyuwangi, Mustaqbilal, hingga sekarang masih terus berkarya. Hampir setiap hari, pria kelahiran 2 September 1981 itu  bekerja mengukir kepala barong untuk dijual. Bilal –sapaan akrbnya- melayani pesanan dari berbagai daerah. 

Hidup tanpa kaki dan jari-jari yang utuh tidak membuat bilal minder. Pria berusia 44 tahun itu kini menekuni profesinya sebagai pemahat kepala barong Oseng. Kehalian mengikur barong dilakukan sejak tahun 1999.

Tangan kanan Bilal digunakan untuk mengikat palu agar bisa leluasa memahat dengan tangan kirinya.

Sedangkan tangan kirinya memegang alat pahat untuk membuat kerajinan barong Oseng. Pekerjaan itu dijalani Bilal di rumahnya Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah.

Sebagai penyandang disabilitas, Bilal tetap update dengan perkembangan digital. Dia memanfaatkan ponselnya untuk siarang langsung (live) dengan memanfaatkan aplikasi TikTok. 

Dia terlihat tekun memahat bongkahan kayu untuk dijadikan barong.  Dengan hanya satu tangan, ia begitu lihai memainkan palu kecil yang diikat di tanggannya sembari menggores, membentuk, hingga melahirkan karya seni kepala barong.

Sejak kecil, Bilal sudah akrab dengan dunia seni. Lulus dari bangku SD tepatnya pada 1997, ia memberanikan diri belajar memahat secara otodidak.

Berawal dari rasa penasaran, ia hanya bermodalkan pisau katering untuk mencoba meniru bentuk kepala barong yang sering ia lihat dalam pertunjukan jaranan.

”Saya belajar sendiri secara otodidak dengan hanya melihat bentuk Kepala barong, lalu mencoba memahat dengan alat seadanya,” kenangnya.

Bakat seni Bilal sejatinya mengalir dari darah keluarga. Orang tua dan saudara-saudaranya bekerja sebagai pengrajin perabotan mebel. Namun, Bilal memilih jalan berbeda. Ia menekuni seni pemahatan kepala barong yang lekat dengan tradisi jaranan.

“Di keluarga saya ada juga yang main kesenian jaranan. Dari situ saya berinisiatif membuat kepala barong yang bisa dipakai saat pertunjukan pentas,” ujarnya.

Ketekunan Bilal perlahan berbuah manis. Karya-karyanya mulai dikenal dari mulut ke mulut. Meski menyandang disabilitas, ia berhasil melahirkan mahakarya lewat ukiran-ukiran detail di kepala barong.

Tidak hanya menyalin bentuk barong tradisional, Bilal bahkan menciptakan karyanya sendiri yang ia beri nama ”Barong Kumbo” hasil perpaduan kesenian Banyuwangi dengan sentuhan Bali.

Bilal selalu beradaptasi dengan  perkembangan zaman. Sejak 2019 ia memanfaatkan media sosial, khususnya TikTok, untuk memamerkan karyanya melalui siaran langsung. Dari situ, pasarnya kian meluas yang sebelumnya hanya sekitar Pulau Jawa hingga menyebar di Kalimantan dan Papua.

“Awalnya hanya orang yang ada di Jawa saja yang beli. Tapi, setelah rutin live di TikTok, pembeli datang dari Sumatera sampai Papua. Bahkan ada yang pesan barong seharga Rp 5 juta,” kata Bilal dengan bangga.

Kini, hampir setiap hari Bilal mengisi waktu dengan live streaming di Tiktok. Dia memperlihatkan proses kreatifnya dari bongkahan kayu polos hingga berubah menjadi kepala barong penuh warna.

Dalam sebulan, ia bisa menyelesaikan 7 hingga 15 kepala barong, dengan harga di setiap karyanya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta per karya, tergantung pesanan.

Di balik sosok Bilal, ada sosok sang istri, Mila Yunita, yang juga seorang penyandang disabilitas. Meski keterbatasan fisik menyatukan keduanya, Mila selalu memberi dukungan penuh bagi sang suami.

“Saya selalu mendampingi, semampu saya ikut membantu. Yang penting suami bisa terus berkarya,” tuturnya.

Kisah Bilal bukan hanya tentang seni dan ukiran kayu, melainkan juga tentang semangat tanpa batas. Dari tangan yang terbatas, lahirlah karya-karya yang menakjubkan.

Ia  tidak pernah berhenti dan menyerah dalam keadaan, bahkan bisa melampaui orang yang lebih normal dalam keterbatasannya. (M. KSATRIA RAYA/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#barong #difabel #kerajinan tangan #banyuwangi